PERJALANAN ke Tukang Cukur.
Rambutnya sudah mulai memanjang.
Seorang ulama salaf pun bergegas menuju tukang cukur.
Langkahnya ringan, bibirnya bergerak pelan, menggumamkan dzikir yang mengalir seperti sungai tanpa henti.
Ia duduk di kursi kayu tua itu, membiarkan pencukur bekerja.
Gunting mulai merapikan rambutnya, suara “klik-klik” berpadu dengan alunan tasbih yang tak pernah terputus dari bibir sang ulama.
Selesai memangkas rambut, pencukur itu menyiapkan pisau cukur untuk merapikan kumisnya.
Namun di situlah masalah muncul.
—
Bibir yang Terus Bergerak
“Maaf, Tuan,” kata pencukur, “bibir Anda terus bergerak. Bisa hentikan sebentar, agar saya tidak melukai Anda?”
Sang ulama tersenyum tipis. “Aku… tidak bisa menghentikannya.”
Pencukur itu terheran. Pengalaman bertahun-tahun membuatnya piawai mencukur kumis orang yang cerewet sekalipun. Tapi kali ini berbeda.

Gerakan bibir itu bukan karena berbicara, melainkan dzikir.
Bibir sang ulama bergerak tanpa henti, seperti roda yang terus berputar karena arus air yang tak pernah surut.
Dan inilah yang membuat pencukur benar-benar tak mampu menjangkaunya.
—
Dzikir yang Bukan Lagi Kendali Diri
Dzikir itu… bukan lagi hasil kehendak sang ulama.
Bukan otot lidahnya yang memilih bergerak, melainkan Allah yang menggerakkan.
Doa yang ia panjatkan bertahun-tahun lalu, kini menjadi kenyataan: “Ya Allah, tolonglah aku, agar senantiasa berdzikir kepada-Mu.”
Doa itu tertanam dalam, seperti akar pohon tua yang mencengkeram bumi.
Dzikirnya bukan sekadar rutinitas, melainkan arus energi dari Allah sendiri.
Seperti bumi yang terus berputar, seperti burung yang terbang di langit — tak ada yang bisa menghentikannya kecuali Allah.
—
Pertanyaan Seorang Murid
Suatu hari, seorang murid datang kepada Al-Junaid al-Baghdadi.
“Wahai Syaikh,” tanyanya, “bagaimana dengan seseorang yang terus berdzikir tanpa henti?”
Al-Junaid balik bertanya, “Apakah shalatnya tepat waktu?”
“Ya,” jawab murid itu.
“Kalau begitu… biarkan.”
Keduanya pun pergi menemui orang yang dimaksud.
Al-Junaid bertanya kepadanya, “Dzikirmu ini… bersama dirimu atau bersama Allah?”
Sang ulama terdiam sejenak.
Bila Allah telah benar-benar bersemayam di hati manusia, seluruh jiwa akan bergerak mengikuti irama-Nya.
Lidah, bibir, bahkan napas — semuanya menjadi tasbih yang tak terputus.
—
Mengalirnya Ilham
Imam Ibnu Qayyim — dalam kitab Zadul Ma‘ad — sering menulis satu kalimat sebelum memulai penjelasannya: “Dengan pertolongan, kekuatan, dan izin Allah.”
Baginya, setiap kata yang lahir bukan murni dari kecerdasannya, tapi anugerah ilham yang Allah titipkan.
Ia sadar, bila Allah menahan aliran ide itu, tak ada daya baginya untuk menulis walau satu huruf.
Seperti sumber mata air — bila Allah menghentikan alirannya, tak ada tangan manusia yang mampu membuatnya mengucur kembali.
—
Tanda Penolakan
Di antara kalam ulama salaf ada yang berkata: “Bila engkau tak sanggup shalat malam dan berpuasa di siang hari, itu tanda engkau ditolak oleh Allah.”
Kalimat itu menampar hati.
Mengapa diri ini tak layak untuk berdiri di hadapan-Nya di keheningan malam?
Mengapa kaki terasa berat untuk melangkah ke sajadah, padahal pintu ampunan sedang terbuka lebar?
Bisa jadi, jiwa ini kotor.
Bisa jadi, harta yang ada tak layak dipersembahkan untuk-Nya.
Bisa jadi, raga ini belum siap berjihad karena ia tak layak menjadi persembahan bagi Allah.
—
Saat Orang Lain Dimudahkan
Lihatlah…
Ada orang yang mudah menghafal Al-Qur’an, sementara lidah kita terbata mengucapkan satu ayat.
Ada yang ringan melangkah shalat berjamaah, sementara kita selalu mencari alasan.
Ada yang bahagia memberi sedekah, sementara kita berkutat dengan kalkulator.
Apa yang menahan kita?
Mungkin seperti keluhan Imam Syafi’i kepada gurunya ketika hafalannya mulai melemah.
Gurunya berkata: “Tinggalkan maksiat, karena ilmu itu cahaya, dan cahaya Allah tak akan diberikan kepada ahli maksiat.”
Kemaksiatan — walau kecil — bisa menjadi debu yang menutupi kaca hati.
Ia menghalangi cahaya masuk. Ia menutup pintu pertolongan.
—
Bibir yang Tak Bisa Diam
Kembali ke kursi tukang cukur itu.
Pisau masih berada di tangan sang pencukur, tapi kumis sang ulama tetap tak tersentuh.
Bibirnya terus bergerak — subhanallah, alhamdulillah, la ilaha illallah, Allahu akbar — seperti ombak yang tak pernah lelah mencium pantai.
Pencukur itu akhirnya meletakkan pisaunya.
Ia sadar, bukan ketidakterampilannya yang membuat kumis itu tak bisa dicukur.
Ini adalah sesuatu yang lahir dari langit — dari kekuatan yang tak bisa dihentikan oleh tangan manusia.
—
Pelajaran dari Kumis Itu
Kisah ini bukan tentang kumis.
Ini tentang bagaimana Allah bisa menggerakkan hamba-Nya untuk terus berdzikir, bahkan tanpa ia sadari.
Tentang doa yang istiqamah hingga menjadi tabiat jiwa.
Tentang energi yang bukan dari tubuh, tapi dari Rabb yang memegang seluruh kehidupan.
Kumis itu hanyalah simbol: bahwa ketika Allah menghendaki, tak ada kekuatan di bumi yang mampu menghentikan gerak hati yang selalu ingat kepada-Nya.
BACA JUGA: Jawaban Tanda Bukti Pembelian Rumah di Surga Muncul di Batu Nisannya
Pertanyaan untuk Diri
Maka tanyakanlah pada diri:
Apakah kita termasuk yang Allah gerakkan menuju kebaikan, atau yang Allah tahan dari kebaikan?
Apakah bibir kita bergerak karena hati yang hidup, atau hanya karena kebiasaan tanpa ruh?
Apakah kita meminta Allah memudahkan dzikir, atau kita merasa bisa berdzikir dengan kekuatan kita sendiri?
Sebab, sebagaimana kata para ulama, istiqamah itu karunia, bukan sekadar hasil usaha.
—
Memohon Gerak dari-Nya
Ya Allah…
Gerakkanlah bibir kami untuk mengingat-Mu.
Gerakkanlah hati kami untuk mencintai-Mu.
Gerakkanlah tubuh kami untuk taat kepada-Mu.
Sebab bila Engkau menghentikan gerak itu, kami tak akan mampu melangkah walau satu langkah.
Jadikanlah dzikir kami bukan sekadar gerakan otot, tapi denyut ruh yang Engkau hidupkan.
Agar suatu hari, ketika kami duduk di kursi tukang cukur atau di kursi apa pun dalam hidup, dunia tahu…
bahwa kami hidup karena Engkau yang menggerakkan. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

