Kenapa Wanita Lebih Sering “Silent Treatment”?

5 Min Read
Foto: Freepik

SILENT treatment, atau tindakan mendiamkan orang lain sebagai respons terhadap konflik, sering dikaitkan dengan wanita. Namun apakah benar bahwa wanita lebih sering melakukannya? Dalam artikel ini, kita akan mengurai mitos tersebut dari berbagai sudut pandang psikologis, komunikasi, hingga spiritual dengan menyertakan pelajaran dari QS. Maryam ayat 26 tentang diam yang disengaja demi kebijaksanaan.

1. Apa itu “Silent Treatment”?

Silent treatment adalah strategi komunikasi pasif-agresif di mana seseorang menarik diri, tidak responsif, dan menghindari dialog, biasanya sebagai bentuk protes, manipulasi, atau pertahanan. Ia berbeda dari jeda tenang yang sehat (time-out), karena silent treatment sering dipakai untuk menghukum atau mengontrol emosional secara tidak eksplisit.

2. Benarkah Wanita Lebih Sering Melakukannya?

a. Persepsi Sosial dan “Aggression Relasional”
Beberapa penelitian awal mencatat bahwa anak perempuan cenderung menggunakan agresi relasional seperti eksklusi sosial atau diam sebagai bentuk protes sebagai strategi, sementara anak laki-laki lebih menyasar agresi fisik atau langsung. Namun, temuan modern menunjukkan variasi besar tergantung konteks, ruang lingkup budaya, dan usia.

BACA JUGA: Surat Maryam: Kurikulum Pendidikan bagi Ayah-Ibu di Masa Kehamilan

b. Pola “Demand–Withdraw” dalam Relasi
Teori psikologi hubungan menunjukkan pola dikenal sebagai demand–withdraw: satu pihak menuntut perubahan (demand), pihak lain mundur atau diam (withdraw). Pola ini tidak murni pria atau wanita—melainkan sangat dipengaruhi oleh siapa yang merasa paling tertekan atau ingin perubahan. Dalam banyak pasangan heteroseksual, wanita kerap menjadi pihak penuntut (ingin ada perubahan), sedangkan pria lebih sering menarik diri sebagai respons terhadap tekanan atau konfrontasi

c. “Stonewalling”: Data Justru Menunjukkan Pria Lebih Banyak Melakukannya
Psikolog John Gottman mengidentifikasi stonewalling sebagai salah satu dari “empat penunggang kuda” kehancuran hubungan. Studi Gottman—berdasarkan observasi langsung dalam laboratorium—menunjukkan bahwa pria lebih sering melakukan stonewalling dibanding wanita, terutama ketika merasa emosional kewalahan (flooded)

3. Ketika Diam adalah Strategi, Bukan Kesalahan

Perlu diperjelas bahwa tidak semua diam itu negatif. Dalam QS. Maryam ayat 26, Maryam diperintahkan untuk menahan diri dari berbicara saat menghadapi tekanan sosial saat melahirkan.

Allah memerintahkan: “…maka katakanlah, ‘Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pengasih; maka aku tidak akan berbicara dengan siapa pun pada hari ini.” QS. Maryam (19):26

Dalam konteks ini, diam adalah bentuk kesabaran dan pelindung kehormatan, bukan manipulasi. Tafsir menjelaskan bahwa Maryam menggunakan isyarat (bukan kata) untuk menunjukkan bahwa ia sedang bernazar tidak berbicara—sebuah bentuk diam yang dimotivasi oleh ketenangan jiwa dan kebijaksanaan emosional

4. Mengapa Diam kadang Dirasa “Lebih ‘Feminim’”?

  • Norma Kesopanan dan Harapan Sosial: Dalam banyak budaya, wanita dididik untuk menjaga harmoni dan tidak mengekspresikan kemarahan secara terbuka. Diam bisa jadi alternatif yang “aman” secara emosional.
  • Penyesuaian Posisi Kuasa: Saat menghadapi pihak yang lebih dominan (ekonomi, sosial), diam bisa menjadi strategi untuk mencegah eskalasi konflik.
  • Respons Emosional dan Fisiologis: Dalam situasi tekanan, pria lebih mungkin terjebak stonewalling karena reaktivitas fisiologis—menguatkan bahwa diam bukan monopoli wanita.

5. Kapan Diam Jadi “Silent Treatment” yang Berbahaya?

  • Jika bertujuan menghukum atau manipulasi, seperti menutup semua jalur komunikasi tanpa batas waktu yang jelas.
  • Menimbulkan kebingungan emosional, rasa ditolak, dan isolasi pada pihak yang didiamkan.
  • Menjadi pola dalam jangka panjang tanpa penyelesaian atau klarifikasi.

6. Pelajaran dari QS. Maryam 19:26 untuk Mengelola Konflik

QS. Maryam ayat 26 mengajarkan bahwa diam bisa menjadi strategi spiritual ketika bicara tidak akan membawa manfaat, terutama saat menghadapi fitnah atau kekeliruan. Berikut cara meniru sikap Maryam secara sehat:

BACA JUGA: Kemuliaan Wanita dalam Islam Menurut Al-Qur’an dan Hadits

  • Jeda Bicara dengan Niat Jelas: Seperti mengatakan, “Aku butuh waktu beberapa jam untuk tenang, kita diskusi lagi nanti.” Ini berbeda dengan diam yang membiarkan pihak lain dalam ketidakpastian.
  • Gunakan Diam untuk Refleksi, Bukan Manipulasi: Diam bisa menjadi ruang untuk menenangkan diri dan berpikir, bukan alat menekan pihak lain.
  • Balik Dialog dengan Bukti Nyata: Seperti Maryam yang membiarkan bayi Isa berbicara sebagai bukti kebersihannya, kita bisa menghadirkan sikap dan tindakan yang jelas untuk menunjukkan argumen daripada kata-kata semata.
  • Jadikan Diam Sebagai Bagian dari Komunikasi Nyata, bukan sebuah senjata emosional.

Label “wanita lebih sering silent treatment” terlalu menyederhanakan realita. Bukti ilmiah menunjukkan bahwa pria juga sering melakukan stonewalling, bahkan lebih sering dalam situasi konflik emosional. Diam bukan persoalan gender—melainkan soal strategi komunikasi, regulasi emosi, dan norma sosial.

QS. Maryam ayat 26 memberikan perspektif berharga: bahwa diam bisa menjadi bentuk kebijaksanaan dan perlindungan dalam situasi sulit—ketika kata-kata bisa memperburuk keadaan. Tantangan bagi kita adalah menjadikan diam sebagai alat refleksi dan penghormatan—bukan senjata pengabaian.[]

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
1 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *