Rasulullah ﷺ Menginvasi Romawi?

8 Min Read
Foto: Freepik

SEJARAH tidak hanya mencatat apa yang terjadi, melainkan juga bagaimana manusia memaknai setiap langkah yang ditempuh. Kisah Rasulullah ﷺ dengan Romawi adalah salah satunya. Sebuah peristiwa yang sering dibaca tergesa-gesa sebagai ekspansi, padahal ia sesungguhnya adalah bab panjang tentang dakwah, diplomasi, ujian iman, dan strategi peradaban. Pertanyaan yang sering muncul adalah: apakah Rasulullah saw menginvasi Romawi? Mari kita menapaki jejak sejarah itu perlahan.

—

Hudaibiyah: Titik Balik Dakwah

Perjanjian Hudaibiyah adalah awal dari cerita ini. Tahun 6 Hijriyah, di bulan Dzulqa’dah (Maret 628 M), Rasulullah ﷺ bersama para sahabat berangkat untuk menunaikan umrah. Namun di Hudaibiyah, sebuah daerah sekitar 22 km dari Makkah, perjalanan itu terhenti. Kafir Quraisy menghadang. Perundingan panjang berakhir dengan sebuah perjanjian damai.

Banyak sahabat kala itu merasa perjanjian ini merugikan. Tetapi Rasulullah ﷺ melihat jauh ke depan. Damai dengan Quraisy berarti ruang gerak dakwah terbuka lebih luas. Dan benar saja, setelah Hudaibiyah, Rasulullah ﷺ mengalihkan pandangan keluar Jazirah Arab. Surat-surat dakwah pun dikirimkan ke para penguasa dunia.

Salah satu surat itu ditujukan kepada Heraklius, Kaisar Romawi Timur.

—

Surat untuk Kaisar

Utusan yang membawa surat itu adalah Dihyah bin Khalifah al-Kalbi. Isi suratnya ringkas, namun tegas: ajakan kepada Islam. Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa dengan menerima Islam, Heraklius akan memperoleh pahala dua kali lipat, sebab ajaran Isa a.s. pun berakar dari tauhid. Namun bila menolak, maka ia akan menanggung dosa rakyatnya.

Sejarah mencatat pertemuan unik di istana Baitul Maqdis. Heraklius mengundang Abu Sufyan bin Harb—yang kala itu belum masuk Islam—untuk memverifikasi sosok pengirim surat. Abu Sufyan ditanyai serangkaian pertanyaan: tentang silsilah Muhammad ﷺ, tentang para pengikutnya, tentang ajarannya. Jawaban Abu Sufyan—meski disampaikan dengan enggan—justru menguatkan Heraklius.

“Jika yang engkau katakan benar,” kata Heraklius, “maka dia akan menguasai tempat kedua kakiku berpijak saat ini. Aku sudah tahu bahwa Nabi akhir zaman akan datang, namun tak kusangka ia berasal dari bangsa kalian.”

Heraklius bahkan berkata, “Andaikan aku bisa bebas, tentu aku akan berangkat menemuinya. Jika aku berada di sisinya, akan kubasuh kedua telapak kakinya.”

Namun suasana berubah mencekam. Para pembesar Romawi panik, takut bila sang kaisar terpengaruh. Riuh gaduh memenuhi ruangan. Abu Sufyan heran: mengapa imperium sebesar Romawi begitu gentar dengan surat seorang nabi dari padang pasir? Inilah keajaiban dakwah: kekuatan bukan pada jumlah pasukan, melainkan pada kebenaran risalah.

—

Gangguan di Perbatasan

Namun surat hanyalah awal. Dalam perjalanan pulang, Dihyah bin Khalifah dirampok oleh orang-orang Judzam di wilayah Syam, daerah kekuasaan Romawi. Tidak berhenti di sana, Zaid bin Haritsah yang dikirim ke Wadil Qura diserang oleh kabilah Mudzhaj dan Qudha’ah, sekutu Romawi.

Yang paling tragis adalah terbunuhnya al-Harits bin Umair al-Azdi, utusan Rasulullah ﷺ ke penguasa Bushra. Dibunuhnya seorang duta dianggap aib besar dalam tradisi bangsa-bangsa, bahkan sebagai deklarasi perang. Tindakan ini dilakukan oleh Syarahbil bin Amru, sekutu Romawi.

Selain itu, penguasa Ghassan—al-Harits bin Abi Syamar—bersikap kasar terhadap utusan Nabi dan memproklamasikan permusuhan. Serangkaian agresi lain menyusul. Amru bin Ka’ab al-Ghifari beserta rombongannya yang diutus ke Dzatu Athlah dikepung dan dibunuh. Di Syam, kaum Nasrani di bawah naungan Romawi menindas siapa pun yang berani masuk Islam. Bahkan gubernur Ma’an yang memilih Islam dibunuh.

Semua ini menunjukkan pola yang jelas: misi dakwah Islam dianggap ancaman, dan Romawi beserta sekutunya menanggapi dengan permusuhan.

—

Perang Mu’tah: Ketidakseimbangan Kekuatan

Maka Rasulullah ﷺ mengirim pasukan ke Syam. Jumlah mereka hanya 3.000 orang. Di hadapan mereka, Romawi dan sekutunya menyiapkan 200.000 pasukan. Angka yang nyaris mustahil.

Namun perang Mu’tah tetap terjadi. Bukan sebagai ekspedisi penaklukan, melainkan sebagai respon terhadap agresi: pembunuhan duta, penyerangan, dan teror atas kaum Muslimin. Di medan Mu’tah itu gugur Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abi Thalib, dan Abdullah bin Rawahah. Panji kemudian diambil oleh Khalid bin Walid yang memimpin pasukan kembali ke Madinah dengan selamat.

Perang Mu’tah menyisakan kesan pahit. Tetapi Heraklius sendiri menyadari sesuatu: Islam yang kecil jumlahnya justru tampak lebih kokoh. Tahun berikutnya, ia menyiapkan kekuatan baru.

—

Bayang-bayang Romawi

Kabar persiapan pasukan Romawi menyebar ke Madinah. Disebutkan bahwa Heraklius telah menyiapkan 40.000 pasukan inti, ditambah gabungan kabilah Arab Nasrani. Pasukan terdepan bahkan sudah tiba di Balqa.

Madinah pun dicekam rasa takut. Musim paceklik memperparah keadaan. Setiap kali terdengar derap kuda, orang-orang cemas bahwa itu pasukan Romawi. Munafikin menanti saatnya menertawakan kaum beriman. Dalam suasana itu, Rasulullah ﷺ memilih menjauh dari istri-istrinya selama sebulan. Beliau memusatkan perhatian pada persiapan.

Rasulullah ﷺ tidak menunggu Romawi masuk ke Hijaz. Sebab jika itu terjadi, kerusakan akan merajalela. Beliau memilih menghadang di luar, di Tabuk, wilayah Syam.

—

Tabuk: Langkah Strategis

Ekspedisi Tabuk bukanlah invasi. Ia adalah pencegahan. Rasulullah ﷺ membawa 30.000 pasukan menuju perbatasan. Perjalanan panjang di bawah terik matahari, dalam kondisi paceklik, membuat ekspedisi ini dijuluki Jaisyul ‘Usrah—tentara dalam kesulitan.

Namun ketika sampai di Tabuk, pasukan Romawi tidak muncul. Sejarah mencatat tidak ada pertempuran besar di sana. Yang ada adalah diplomasi. Beberapa kabilah setempat berdamai dengan Rasulullah ﷺ. Islam menunjukkan bahwa kekuatan militernya sanggup menjangkau perbatasan imperium besar.

Pesan Tabuk jelas: Islam bukan ancaman ekspansionis, tetapi juga bukan mangsa empuk. Ia membawa risalah, namun juga menjaga diri dari agresi.

—

Refleksi: Invasi atau Dakwah?

Jika kita merunut peristiwa, maka jelas Rasulullah ﷺ tidak pernah berniat menaklukkan Romawi. Beliau mengirim surat, bukan pedang. Beliau mengutus duta, bukan bala tentara. Namun respon yang datang adalah pembunuhan, penindasan, dan ancaman.

Maka pertempuran yang terjadi bukanlah agresi dari Islam, melainkan pertahanan dari serangan. Rasulullah ﷺ menunjukkan strategi: setelah Khandaq, beliau tidak lagi sekadar bertahan, melainkan siap menghadang. Tetapi menghadang bukan berarti menyerang untuk merebut, melainkan menutup jalan agresi sebelum tiba di tanah Hijaz.

BACA JUGA:  Imam Syafi‘i: Mesir, Wasiat, dan Surat Ali ‘Imran

—

Penutup: Makna yang Tersisa

Sejarah bukan sekadar catatan angka dan peristiwa. Ia menyimpan pelajaran bagi umat. Dari kisah ini, kita belajar bahwa:

1. Dakwah mendahului pedang. Rasulullah ﷺ memulai dengan surat, bukan serangan.

2. Kehormatan utusan dijaga. Dibunuhnya duta adalah deklarasi perang, bukan pilihan Rasulullah ﷺ.

3. Strategi mendahului emosi. Beliau memilih Tabuk, bukan Madinah, sebagai medan.

4. Kekuatan sejati adalah iman. Meski kecil jumlahnya, pasukan Islam kokoh karena keyakinan.

Rasulullah ﷺ tidak menginvasi Romawi. Romawi-lah yang terusik oleh dakwah Islam. Maka setiap langkah beliau bukanlah ambisi kekuasaan, melainkan perlindungan atas risalah dan umatnya.

Di hadapan sejarah ini, kita pun belajar: kekuatan bukanlah soal jumlah, melainkan keyakinan kepada Allah. Seperti sabda beliau, “Cukuplah Allah bagiku. Tiada Tuhan selain Dia. Kepada-Nya aku bertawakal, dan Dia adalah Tuhan ‘Arsy yang agung.” []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
1 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *