KALAU sering nongkrong di media sosial, pasti kamu pernah nemuin komentar yang bikin geleng-geleng kepala. Lagi ada berita prestasi anak muda Indonesia, pasti ada aja yang nyelutuk, “Ah, paling juga settingan.” Atau pas ada pemerintah bikin kebijakan baru, langsung disamber, “Mana mungkin berhasil, pasti ujung-ujungnya korupsi.”
Nah, itu tuh salah satu potret tren pesimisme netizen Indonesia. Bukan cuma sekali dua kali, tapi hampir setiap hari kita bisa lihat pola komentar kayak gitu. Pertanyaannya: kok bisa sih pesimis jadi kayak “tren” di jagat maya kita?
Data yang Bikin Mikir
Biar nggak sekadar asumsi, coba kita lihat data. Menurut survei Digital Civility Index (DCI) Microsoft 2021, Indonesia masuk 10 besar negara dengan warganet paling tidak sopan. Salah satu indikatornya ya soal komentar negatif, sinis, bahkan pesimis. Jadi kalau kamu ngerasa media sosial kita penuh aura suram, ternyata memang ada datanya.
BACA JUGA: Jangan Terlalu Memuji Seorang Tokoh, Apalagi Sambil Menjatuhkan Tokoh yang Lainnya
Bahkan, riset dari We Are Social 2024 nunjukkin kalau orang Indonesia rata-rata habisin lebih dari 3 jam per hari buat nongkrong di media sosial. Bayangin, kalau sebagian besar waktunya dihabisin buat baca atau bikin komentar pesimis, ya wajar aja kalau “energi negatif” itu nyebar cepat banget.
Contoh yang Deket-deket Aja
Contoh gampangnya waktu timnas Indonesia lagi main. Menang sekali? Dipuji setengah hati, “Hoki doang.” Begitu kalah? Langsung dihujat habis-habisan, dari pemain sampai federasi. Padahal kalau dipikir, dukungan semangat lebih bikin sehat daripada makian.
Atau pas ada startup lokal yang berhasil dapat pendanaan besar. Alih-alih bangga, kadang ada yang komen, *“Paling juga nanti bangkrut.” Lah, belum juga jalan, sudah dikubur duluan.
Kenapa Bisa Jadi Tren?
Ada beberapa alasan kenapa pesimisme gampang banget nyebar:
1. Efek domino komentar. Begitu ada satu komentar sinis, yang lain sering ikut-ikutan biar dianggap “satu frekuensi.”
2. Budaya nyinyir. Kita tuh punya kecenderungan merasa lebih pintar kalau bisa nunjukin kelemahan orang lain.
3. Kurang percaya diri. Kadang pesimisme itu cerminan rasa nggak pede dengan diri sendiri, jadi lebih gampang ngejek kerja keras orang lain.
Efek ke Kehidupan Sehari-hari
Masalahnya, tren pesimisme ini bukan cuma bikin timeline jadi kusam, tapi juga bisa memengaruhi cara kita melihat hidup. Lama-lama, otak kita kebiasaan mikir yang jelek-jelek duluan. Mau coba usaha baru takut gagal, mau dukung orang lain malah ragu.
Kalau menurut psikolog, kebiasaan kayak gini bisa nyeret kita ke “lingkaran negatif,” di mana setiap hal baru lebih dulu dianggap mustahil sebelum dicoba. Dan kalau udah kayak gitu, yang rugi bukan cuma orang lain, tapi diri sendiri juga.
Terus, Gimana Biar Nggak Kebablasan?
Nggak berarti kita harus jadi orang yang toxic positivity—yang apa-apa bilang, “Semua baik-baik saja!” meski jelas-jelas ada masalah. Bukan, bukan itu. Tapi minimal kita bisa belajar ngerem komentar pesimis yang nggak membangun.
BACA JUGA: Keterkaitan Alunan Bacaan Al-Qur’an dan Cara Rasulullah ﷺ Bersabda, dengan Kekuatan Memori Bayi
Misalnya:
- Kalau nggak yakin sama sebuah berita, mending diem dulu ketimbang asal nyinyir.
- Kalau ada orang sukses, coba apresiasi dulu. Kalau ada kritik, sampaikan dengan cara yang sehat.
- Batasi waktu scrolling medsos biar otak nggak kebanjiran vibes negatif.
Optimis Bukan Berarti Nggak Realistis
Pada akhirnya, jadi optimis itu bukan berarti naif. Optimis berarti berani ngasih kesempatan buat hal baik tumbuh, sebelum kita buru-buru menilai buruk. Kalau netizen Indonesia bisa pelan-pelan ngurangin tren pesimisme ini, mungkin medsos kita nggak cuma rame sama gosip, tapi juga jadi tempat yang lebih sehat buat bertukar ide dan semangat.
Dan siapa tahu, dengan cara kecil kayak gitu, kita bisa bareng-bareng bikin atmosfer digital Indonesia lebih adem. Karena jujur aja, hidup udah cukup berat tanpa harus ditambah vibes negatif dari komentar pesimis. Setuju nggak? []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE
