TAHUN 632 M, di Madinah, suasana duka menyelimuti kaum Muslimin. Rasulullah ﷺ wafat setelah menunaikan misi kerasulan selama dua puluh tiga tahun. Beliau telah menegakkan tauhid, membangun peradaban baru, dan meletakkan fondasi masyarakat yang kelak menjelma menjadi imperium dunia. Di saat yang sama, jauh di seberang lautan, di gugusan pulau yang kelak disebut Nusantara, dunia juga sedang bergerak. Kerajaan-kerajaan kuno bergejolak, pelabuhan ramai dengan riuh dagang, dan jalur laut menjadi saksi pertemuan bangsa-bangsa.
Seolah ada gema yang saling menyapa: di jazirah Arab lahirlah cahaya Islam, sementara di Nusantara para pedagang Arab, India, dan Cina mulai mengisyaratkan datangnya babak baru sejarah.
—
Kerajaan-Kerajaan Nusantara: Antara Surut dan Tumbuh
Pada tahun wafatnya Rasulullah ﷺ, beberapa kerajaan besar di Nusantara berada dalam masa transisi.
Kutai di Kalimantan Timur, kerajaan Hindu tertua (abad ke-4 M), sudah melewati masa kejayaannya. Prasasti Yupa yang mencatat pengorbanan Raja Mulawarman hanyalah gema masa lalu. Pada abad ke-7, pengaruh Kutai makin meredup, kalah oleh pusat-pusat dagang di pesisir Sumatra dan Jawa.
Tarumanegara di Jawa Barat pun berada di ambang senja. Prasasti-prasasti Raja Purnawarman di tepi Sungai Citarum masih menandai kejayaan masa silam, tetapi catatan Tiongkok dari Dinasti Tang menyebut kerajaan ini makin jarang terdengar. Tekanan dari kerajaan-kerajaan kecil dan kebangkitan Sriwijaya membuat Tarumanegara kehilangan peran strategisnya.
BACA JUGA: Misteri Islamnya Prabu Siliwangi dan Keluarganya; Sejarah Islam di Tanah Sunda
Kalingga, di pantai utara Jawa Tengah, justru tengah berkembang. Menjelang paruh abad ke-7, wilayah ini dipimpin seorang tokoh karismatik, Ratu Shima, terkenal dengan hukum tegas dan keadilan yang keras. Walau ia naik tahta beberapa dekade setelah wafat Rasulullah ﷺ, pada tahun 632 M Kalingga sudah menunjukkan tanda-tanda pertumbuhan sebagai pusat perdagangan.
Sementara itu, di Sumatra Selatan, Sriwijaya mulai meletakkan dasar bagi kebesaran. Sejarawan umumnya memperkirakan Sriwijaya lahir sekitar tahun 600–630 M, dan pada dekade wafatnya Rasulullah ﷺ, kerajaan ini mulai memainkan peran di jalur perdagangan Selat Malaka. Posisi strategisnya membuat Sriwijaya tumbuh menjadi “pusat transit” pedagang dari India, Arab, dan Cina.
Maka, pada saat Rasulullah ﷺ dipanggil pulang ke hadirat Allah, Nusantara menyaksikan pergeseran: Kutai dan Tarumanegara surut, Kalingga muncul, Sriwijaya bangkit.
—
Pelabuhan-Pelabuhan yang Riuh
Bayangkan suasana pelabuhan Barus di pantai barat Sumatra. Dari hutan pedalaman dibawa kapur barus yang harum, lalu diperdagangkan kepada pedagang India, Persia, dan Arab. Catatan Tiongkok abad ke-6 menyebut “Ta-shih”—sebutan untuk bangsa Arab—telah hadir di Asia Tenggara. Mereka membeli kapur barus, gaharu, kemenyan, dan cendana, lalu membawanya ke pasar Aden, Gujarat, hingga Kanton.
Sriwijaya, meski masih muda, sudah menjadi tempat persinggahan kapal-kapal asing. Dari Palembang, rempah dan hasil bumi Nusantara mengalir ke India. Sementara itu, Jawa utara juga mulai ramai: Kalingga membuka diri bagi pedagang dari Gujarat, Cina, dan Arab.
Perdagangan pada masa itu bukan hanya soal barang, melainkan juga pertukaran gagasan dan keyakinan. Pedagang Arab Muslim yang baru saja menyaksikan Futuh Makkah (630 M) mulai membawa identitas barunya: mereka bukan lagi sekadar saudagar, melainkan juga penyampai risalah. Walau jumlahnya kecil, kehadiran mereka adalah benih awal Islam di Nusantara.
—
Jejak dalam Catatan Cina dan India
Sumber Tiongkok memberi gambaran betapa ramainya Nusantara. Sejarawan I-Tsing (671 M) menyebut Sriwijaya sebagai pusat pembelajaran dan transit pedagang dari India, Persia, dan Arab. Sejarawan Belanda, Groeneveldt, mencatat bahwa orang-orang Ta-shih sudah aktif di Asia Tenggara sejak abad ke-7.
Dari India, literatur Tamil kuno mencatat hubungan dengan “Kedaram” (Kedah) dan gugusan pulau rempah. Prasasti Pallava dan Gupta yang ditemukan di Sumatra dan Jawa menegaskan eratnya arus dagang India–Nusantara. Para pedagang Arab hadir sebagai perantara, menjembatani jalur laut dari Teluk Persia hingga Selat Malaka.
Semua ini menegaskan: ketika Islam baru bertunas di Madinah, Nusantara sudah menjadi panggung pertemuan peradaban dunia.
—
Rempah-Rempah: Simbol dari Timur
Menarik untuk dicatat, sebagian hasil bumi Nusantara bahkan terpantul dalam teks suci Islam. Kapur barus, harum dan berharga, disebut dalam Al-Qur’an (QS. Al-Insān: 5). Tafsir ar-Rāzī menafsirkan “kafur” sebagai mata air surga yang aromanya mirip kapur barus. Dan kapur barus terbaik, sejak abad ke-4, memang berasal dari Barus di Sumatra.
Kayu cendana, yang harum dipakai dalam ritual dan pengobatan, dicatat oleh Adz-Dzahabi dalam At-Thibb an-Nabawi, dengan keterangan bahwa kualitas terbaik berasal dari Makassar. Sungguh, bahkan sebelum Islam masuk ke Nusantara, bumi kepulauan ini sudah memberi wangi yang mewarnai dunia Islam.
—
Pertemuan Dua Gelombang
Ketika Rasulullah ﷺ wafat di Madinah, Islam baru saja menapaki jalan panjangnya. Para sahabat sibuk menata khalifah pertama, Abu Bakar ash-Shiddiq, dan memikirkan misi dakwah yang akan menembus jazirah Arab. Mereka mungkin belum membayangkan betapa jauh cahaya Islam akan meluas.
BACA JUGA: Jejak Perjuangan Jenderal Sudirman, Panglima Besar Republik Indonesia
Namun, di saat yang sama, Nusantara sudah terhubung erat dengan dunia Arab melalui jalur perdagangan. Pelabuhan-pelabuhan yang riuh itu menjadi jembatan, sehingga berita tentang seorang Nabi dari Makkah bisa saja sampai, dibawa oleh lidah para pedagang yang singgah di Barus, Sriwijaya, atau Kalingga.
Gejolak kerajaan-kerajaan Nusantara sejatinya adalah gejolak mencari poros baru. Kutai dan Tarumanegara meredup, Sriwijaya tumbuh, Kalingga menyiapkan panggung. Dan dalam pusaran itu, dunia Arab dan dunia Nusantara sedang bergerak ke arah yang sama: menuju samudra besar sejarah global, di mana Islam kelak akan berlayar jauh ke timur.
—
Penutup
Wafatnya Rasulullah ﷺ adalah awal peradaban Islam keluar dari Hijaz. Sementara itu, Nusantara pada 632 M sedang menata ulang dirinya melalui gejolak kerajaan dan riuhnya perdagangan. Pertemuan dua dunia ini—Islam yang baru lahir dan Nusantara yang kaya rempah—akan menemukan jodohnya beberapa abad kemudian, ketika dakwah Islam masuk bukan dengan pedang, tetapi dengan layar, rempah, dan akhlak para saudagar. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE
