KOTA-kota ibu kota kesultanan Islam di Nusantara tidak tumbuh secara acak. Ia dibentuk melalui perencanaan kekuasaan, tradisi lokal, dan kebutuhan ekonomi. Sejarawan urban Asia Tenggara menyebut kota-kota ini sebagai “traditional planned cities”—kota tradisional yang memiliki logika tata ruang yang jelas (Wertheim, Indonesian Society in Transition).
Di jantung kota berdiri keraton, masjid agung, alun-alun, dan pasar. Namun denyut kehidupan justru terlihat di sekelilingnya: perkampungan-perkampungan yang disusun berdasarkan fungsi sosial, ekonomi, etnis, dan pemerintahan.
—
1. Perkampungan Pedagang: Ruang Ekonomi dan Kosmopolitanisme
Perkampungan pedagang merupakan elemen vital kota kesultanan. Anthony Reid dalam Southeast Asia in the Age of Commerce menegaskan bahwa kota-kota Islam Nusantara pada abad ke-15 hingga 17 hidup dari perdagangan internasional—lada, beras, rempah, dan kain.
Karena itu, pedagang mendapat ruang khusus:
- dekat pelabuhan,
- dekat pasar,
- atau di jalur sungai utama.
Di Banten abad ke-16, laporan Cornelis de Houtman (1596) menyebut kampung Pacinaan sebagai pusat perdagangan Tionghoa yang berperan besar dalam distribusi lada. Denys Lombard (Nusa Jawa: Silang Budaya) mencatat bahwa kampung pedagang asing ini bukan enclave tertutup, melainkan simpul ekonomi kota.
BACA JUGA: Letak Masjid dan Pasar di Ibu Kota Kesultanan Islam Nusantara
Di Aceh Darussalam, pelancong Portugis dan Arab menggambarkan perkampungan pedagang Gujarat, Arab, dan Persia yang hidup berdampingan dengan masyarakat lokal (Anthony Reid, An Indonesian Frontier).
Perkampungan pedagang menjadi ruang interaksi global, tempat Islam menyebar bukan lewat pedang, tetapi lewat transaksi dan teladan sosial.
—
2. Perkampungan Berdasarkan Suku Bangsa: Mengelola Keberagaman
Kota kesultanan juga menata ruang berdasarkan asal-usul etnis. Ini bukan sekadar segregasi, melainkan strategi pengelolaan sosial.
Ricklefs (A History of Modern Indonesia) menunjukkan bahwa kota-kota Jawa pesisir memiliki:
- Kampung Arab
- Kampung Melayu
- Kampung Bugis
- Kampung Tionghoa
Di Cirebon, misalnya, komunitas Tionghoa Muslim tumbuh sejak masa Sunan Gunung Jati. Hal ini diperkuat oleh catatan Tome Pires dalam Suma Oriental yang menyebut Cirebon sebagai kota pelabuhan multietnis.
Pengelompokan etnis ini memudahkan:
- pengawasan keamanan,
- penarikan pajak,
- dan stabilitas politik.
Dengan kata lain, ruang kota adalah alat administrasi kekuasaan.
3. Perkampungan Berdasarkan Jenis Bidang Usaha: Spesialisasi Kerja
Ciri khas lain kota Islam Nusantara adalah perkampungan berdasarkan profesi dan keahlian. Ini menandakan tingkat organisasi ekonomi yang tinggi.
Contoh yang kuat secara historis:
- Kampung Pande di Aceh, tempat pandai besi dan pengrajin logam
- Kampung Panjunan di Cirebon, pusat pembuat periuk dan belanga
Guillot dan Kalus dalam studi arkeologi perkotaan Cirebon mencatat bahwa Panjunan bukan hanya kawasan produksi, tetapi juga pusat distribusi peralatan rumah tangga dan ritual.
Tradisi ini sejajar dengan kota-kota Islam di Asia Barat, di mana pengrajin sering dikelompokkan dalam satu quarter (Ira Lapidus, A History of Islamic Societies).
Artinya, kota kesultanan Nusantara bukan kota simbolik semata, melainkan kota kerja.
—
4. Perkampungan Berdasarkan Fungsi Pemerintahan: Kota Kekuasaan
Lapisan paling strategis adalah perkampungan yang berkaitan langsung dengan pemerintahan dan pertahanan.
Beberapa istilah kunci:
- Kademangan – tempat pejabat administratif (demang)
- Ksatrian – kawasan prajurit, senopati, dan perwira istana
- Kauman – perkampungan ulama dan penghulu
Soemarsaid Moertono dalam State and Statecraft in Old Java menjelaskan bahwa struktur ini merupakan kelanjutan sistem pra-Islam yang diislamkan. Kauman, khususnya, menunjukkan posisi ulama sebagai bagian dari struktur negara, bukan di luar kekuasaan.
Di banyak kota, Kauman sengaja ditempatkan dekat Masjid Agung, menandai aliansi simbolik antara agama dan negara.
BACA JUGA: Mengapa Kota-kota Muslim Tumbuh di Nusantara (Abad ke-15–17)?
Kota Islam Nusantara: Warisan Lama, Makna Baru
Jika disimpulkan, perkampungan di ibu kota kesultanan Islam Nusantara menunjukkan pola yang konsisten:
1. Kota dirancang secara sadar
2. Setiap kelompok sosial memiliki ruang
3. Tradisi Hindu-Buddha tidak dihapus, tetapi ditransformasikan
Sebagaimana ditegaskan Denys Lombard, Islam di Nusantara tidak menghancurkan struktur lama, melainkan mengisinya dengan nilai baru.
Kota menjadi:
- pusat kekuasaan,
- pusat ekonomi,
- pusat dakwah,
- dan ruang hidup bersama.
Di situlah Islam Nusantara menemukan bentuknya: tidak abstrak, tetapi tertanam dalam ruang, kampung, dan jalan-jalan kota. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

