AIR Nil malam itu berkilau bagai cermin langit. Di atasnya, sebuah peti kecil hanyut tanpa daya. Dalam dekap kayu itu, seorang bayi tidur dengan tenang, seakan ombak hanyalah buaian, seakan malam hanyalah selimut.
Tak ada yang tahu—selain Allah—bahwa bayi mungil itu kelak akan mengguncang singgasana paling angkuh di muka bumi.
Siti Asiyah, istri Fir’aun, menemukannya. Jantungnya bergetar. Di balik tangis mungil, ia merasakan tanda rahmat. Padahal suaminya, raja yang mengaku tuhan, sedang haus darah, membunuh setiap bayi lelaki dari Bani Israil.
Tetapi takdir berputar. Bayi itu dibesarkan bukan di gubuk budak, melainkan di istana tiran. Musa tumbuh di tengah gemerlap, sementara di hatinya, Allah menanam benih resah.
Waktu berlalu.
BACA JUGA: Janji Allah kepada Nabi Musa di Hijrahnya Rasulullah ﷺ ke Madinah
Musa dewasa. Dadanya gagah, tangannya perkasa. Namun suatu hari, darah pertama menodai langkahnya. Ia tak sengaja membunuh seorang lelaki Mesir, bagian dari kaum Fir’aun, saat hendak menolong seorang Israil.
Kabar merebak, mata-mata istana berbisik, niat jahat mulai menjerat. Musa tahu: bumi Mesir tak lagi ramah. Ia pergi, berlari, terusir bukan oleh pedang, melainkan oleh takdir.
Langkah-langkah panjang membawanya jauh dari kota kelahiran. Nafasnya berat, tapi jiwanya dipandu. Hingga ia tiba di tanah asing: Madyan.
Di sana, ia melihat dua perempuan yang kesulitan mengambil air, tertahan oleh kerumunan para penggembala. Musa menolong mereka, dengan tenaga yang bahkan batu pun tunduk di tangannya.
Dua gadis itu ternyata putri seorang nabi mulia: Syuaib.
Kebaikan Musa menjadi bahan bisik dalam keluarga itu. “Wahai ayahku, berilah dia upah. Sesungguhnya engkau akan mendapatkan seorang yang kuat dan jujur,” ujar salah satu putrinya.
Syuaib tersenyum, lalu bertanya, “Bagaimana engkau tahu ia kuat?”
“Karena kulihat ia mengangkat batu yang tak mampu digerakkan sepuluh lelaki.”
“Bagaimana engkau tahu ia jujur?”
“Karena ia enggan berjalan di belakangku. Ia berjalan di depan, menundukkan pandangan, menjaga malu, menjaga adab.”
Maka Syuaib menatap Musa. “Wahai Musa, aku ingin menikahkanmu dengan salah satu putriku. Syaratnya, engkau bekerja denganku delapan tahun. Jika engkau sempurnakan sepuluh, itu kebaikan darimu. Aku tak ingin menyusahkanmu. Semoga engkau menemukan diriku termasuk orang saleh.”
Musa menunduk. Hatinya yang selama ini dihantui kesendirian tiba-tiba menemukan rumah.
“Baiklah,” jawabnya, “Inilah perjanjian antara aku dan engkau, dan Allah menjadi saksi atasnya.”
Maka pernikahan pun terjalin. Musa, yang pernah hanyut di sungai asing, kini menemukan tepian kasih di keluarga Syuaib.
BACA JUGA: 7 Fakta Sosok Nabi Musa AS: Nabi Penyelamat Bani Israil
Namun, di balik semua itu, takdir ternyata menyimpan simpul lain—sebuah ironi yang jarang dibisikkan.
Banyak yang mengira cinta Musa berlabuh selamanya di rumah Syuaib. Tetapi sesungguhnya, pernikahan itu hanyalah sebuah persinggahan panjang dalam perjalanan risalah. Musa bukan ditakdirkan untuk menetap, melainkan untuk kembali—menantang istana yang dulu membesarkannya.
Ia harus kembali menghadapi Fir’aun, ayah angkatnya sendiri.
Bayi yang dahulu diselamatkan oleh tangan istana, kini ditakdirkan untuk menghancurkan singgasana itu dengan tangan yang sama.
Dan di situlah takdir berputar paling tajam: Musa hanyut di Sungai Nil agar kelak bisa menenggelamkan Fir’aun di laut yang sama. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE
