Saat Perang Salib Usai, Apa yang Terjadi di Nusantara?

Nasrulloh Baksolahar
6 Min Read
Foto: Freepik

SEJARAH sering terasa seperti dua aliran sungai besar yang berjarak, namun pada akhirnya menuju ke muara yang sama. Begitu pula ketika kita menengok akhir Perang Salib di belahan barat dunia Islam, lalu mengalihkan pandangan pada Nusantara yang jauh di timur. Pertanyaan muncul: adakah denyut yang sama? Apakah ada benang yang menghubungkan darah, doa, dan diplomasi antara dua dunia ini?

Gelombang Perang Salib

Perang Salib berlangsung dalam gelombang panjang. Dimulai pada 1095 ketika Paus Urbanus II menyeru kaum Kristen Eropa untuk merebut Yerusalem. Sejak itu, darah tumpah di Tanah Suci. Ada momen-momen besar yang menjadi tanda:

Nuruddin Zanky di pertengahan abad ke-12, yang membangun fondasi jihad melawan pasukan Salib.

Shalahuddin Al-Ayyubi, murid spiritual Nuruddin, yang pada 1187 merebut kembali Baitul Maqdis dalam perang legendaris di Hattin.

BACA JUGA: Gejolak Kerajaan dan Perdagangan di Nusantara Saat Rasulullah ﷺ Wafat

Bani Ayyubiyah bertahan hingga awal abad ke-13, sebelum digantikan oleh Bani Mamluk, yang kemudian menghantam mundur sisa-sisa tentara Salib sekaligus menahan serangan Mongol di Ain Jalut (1260).

Perang Salib sebenarnya tidak berakhir dalam satu malam. Gelombangnya mereda setelah kota Akka (Acre) jatuh ke tangan Mamluk pada 1291. Itulah tanda simbolis: bendera Salib benar-benar diusir dari Syam.

Adakah Jejak Diplomasi ke Timur?

Apakah Nusantara ikut serta dalam pusaran ini? Catatan sejarah formal jarang menyebut perjanjian langsung antara Zanky, Ayyubiyah, atau Mamluk dengan kerajaan-kerajaan di Nusantara. Namun, hubungan melalui jalur perdagangan Samudra Hindia membuka peluang.

Pelaut Arab, pedagang Gujarat, dan ulama Persia yang berlayar ke Nusantara tentu membawa kabar jihad di Syam. Di pelabuhan seperti Pasai atau pesisir Jawa, kisah Shalahuddin bukan sekadar berita jauh, melainkan inspirasi. Dari jalur laut itulah benih Islam perlahan tumbuh, menyiapkan Nusantara untuk masuk ke fase baru: berdirinya kerajaan-kerajaan Islam di kemudian hari.

Nusantara di Abad ke-13

Jika di barat dunia Islam, pasukan Mamluk sibuk memukul mundur tentara Salib, maka di Nusantara abad ke-13 adalah masa transisi. Beberapa kerajaan melemah, beberapa justru tumbuh. Mari kita sebut nama-nama itu, agar terasa denyut zamannya.

Sriwijaya yang pernah berjaya sebagai kerajaan maritim, pada abad ke-13 kian meredup. Tekanan dari ekspedisi Chola (India Selatan) pada abad sebelumnya, ditambah munculnya kekuatan-kekuatan baru di Jawa dan Sumatra, membuat Sriwijaya kehilangan wibawa.

Kerajaan Kediri di Jawa Timur juga mulai melemah, diterpa konflik internal dan lahirnya kekuatan baru di bawah Ken Arok yang mendirikan Singhasari (1222).

Dari Singhasari inilah muncul sosok besar Kertanegara (memerintah 1268–1292), seorang raja dengan visi ekspansi ke luar Jawa. Ia melancarkan ekspedisi Pamalayu ke Sumatra, menundukkan sisa-sisa Sriwijaya. Kertanegara juga satu-satunya raja Jawa yang tercatat berani menolak Mongol, sebelum akhirnya kerajaan Singhasari tumbang dan memberi jalan bagi Majapahit.

Di Sumatra Utara, benih Samudera Pasai mulai tumbuh, meski baru mencapai puncak di awal abad ke-14 dengan Sultan Malik al-Saleh. Inilah kerajaan Islam pertama di Nusantara, kelak menjadi mercusuar dakwah dan perdagangan.

Jadi, di saat dunia Islam di barat bertempur mempertahankan Syam, dunia Nusantara sedang menata ulang peta kekuasaan: Sriwijaya surut, Kediri runtuh, Singhasari muncul lalu berganti Majapahit, sementara benih Islam mulai tampak di Pasai.

Dua Arus Besar, Satu Gelombang Spirit

Menariknya, meski tidak ada dokumen resmi yang menyebut utusan diplomatik antara Mamluk dan Nusantara, kita bisa melihat benang spiritual yang menyambung. Para ulama, pedagang, dan musafir menjadi penghubung tak resmi. Kisah Shalahuddin dan Mamluk yang melawan Salib bisa saja sampai ke telinga nelayan di Samudera Hindia, menjadi cerita di warung-warung pelabuhan, membakar imajinasi akan jihad dan kejayaan Islam.

Sejarah memang tidak selalu bergerak lewat traktat politik. Kadang, ia merambat lewat cerita, lewat doa di malam hari, lewat saudagar yang singgah membawa rempah dan kabar.

Setelah Salib Redup

Ketika bendera Salib terakhir jatuh di Akka (1291), dunia Islam barat mulai bernapas lega. Namun ancaman Mongol, lalu kemudian Turki Utsmani yang muncul sebagai kekuatan baru, segera mengambil panggung sejarah.

BACA JUGA: Saat Mongol Dikalahkan Bani Mamluk, Kerajaan Singhasari dan Pasai Tumbuh

Di Nusantara, masa itu adalah prolog menuju abad ke-14: lahirnya Majapahit (1293) dengan Raden Wijaya sebagai pendiri, dan Samudera Pasai sebagai pionir Islam. Dunia Islam dan Nusantara memang bergerak di jalur berbeda, tapi sama-sama sedang menyiapkan sebuah lompatan peradaban.

Refleksi

Mungkin kita bertanya: apakah pertempuran di Syam dan perebutan tahta di Jawa benar-benar berhubungan? Jawabannya: ya, dalam jangka panjang. Karena Islam yang dipertahankan dengan darah di Syam, pada akhirnya sampai juga ke Nusantara lewat jalur damai: perdagangan dan dakwah. Dan kerajaan-kerajaan Nusantara yang tumbuh di abad ke-13, itulah panggung yang kelak menyambut Islam menjadi cahaya utama.

Sejarah mengajarkan bahwa dunia ini bukan kepingan terpisah. Apa yang terjadi di Yerusalem bisa berdampak di Aceh. Apa yang diputuskan seorang raja di Jawa bisa terhubung dengan pusaran Samudra Hindia. Perang Salib mungkin usai di 1291, tapi resonansinya sampai jauh ke Nusantara—dalam doa, dalam kisah, dalam arah sejarah. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
1 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *