Shalat saat Mendengar Anak Menangis

Dini Koswarini
3 Min Read
Foto: Freepik

Seri Pendidikan Anak

SHALAT adalah ibadah agung yang menuntut kekhusyukan. Namun, Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa kekhusyukan itu tidak boleh menafikan rasa kasih sayang, terutama terhadap anak-anak.

Hadits Rasulullah ﷺ Diriwayatkan oleh Abu Qatadah al-Anshari r.a., Rasulullah ﷺ bersabda: “Aku berdiri untuk shalat dan bermaksud memanjangkannya, namun aku mendengar tangisan bayi. Maka aku pun meringankan shalatku karena aku tahu ibunya akan merasa gelisah dengan tangisannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ menyeimbangkan antara kesempurnaan ibadah kepada Allah dan empati terhadap kondisi manusia, khususnya anak kecil dan ibunya.

Kisah Anas bin Malik

Anas bin Malik r.a., sahabat yang lama berkhidmat kepada Rasulullah ﷺ, juga meriwayatkan peristiwa serupa: “Aku tidak pernah shalat di belakang seorang imam yang lebih ringan dan lebih sempurna shalatnya daripada Rasulullah ﷺ. Jika beliau mendengar tangisan anak kecil, beliau meringankan shalatnya, karena khawatir memberatkan ibunya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kisah ini menegaskan bahwa kepekaan Nabi ﷺ bukanlah sekali-dua kali, tetapi menjadi karakter dalam shalatnya. Beliau tetap menjaga kesempurnaan shalat, namun dengan kelembutan hati yang membuat makmum merasa tenang.

Pendapat Ulama

1. Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan:

“Hadits ini menunjukkan bahwa memendekkan shalat karena ada hajat jamaah, seperti tangisan anak, adalah sunnah dan bagian dari keutamaan shalat berjamaah. Tidak mengurangi pahala, justru menambah nilai karena memperhatikan keadaan orang lain.”

2. Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam Fath al-Bari menegaskan:

“Ini bukti kelembutan Rasulullah ﷺ dan kasih sayangnya. Beliau mengajarkan bahwa shalat tidak boleh menjadi sebab kesulitan bagi orang lain.”

3. Ulama fiqh menegaskan bahwa imam sebaiknya memperhatikan kondisi makmum. Bila ada kebutuhan mendesak, shalat boleh diringankan tanpa mengurangi keabsahannya.

Pendapat Psikologi Anak

Dari sudut pandang psikologi modern, tangisan bayi bukan hanya ekspresi lapar atau sakit, tetapi juga bentuk komunikasi emosional. Bayi menangis karena merasa tidak aman, butuh kelekatan (attachment), atau ingin dekat dengan ibunya.

John Bowlby dalam teori attachment menjelaskan bahwa respons cepat terhadap tangisan anak akan membentuk rasa aman dan kepercayaan.

Bila tangisan anak diabaikan terus-menerus, terutama pada fase awal kehidupan, anak bisa tumbuh dengan kecemasan, sulit percaya, dan kurang stabil secara emosional.

BACA JUGA:  Kisah Fabel dalam Al-Qur’an: Bekal Lengkap untuk Membentuk Karakter Anak

Maka, kepekaan Rasulullah ﷺ untuk meringankan shalat demi menenangkan bayi dan ibunya selaras dengan prinsip psikologi modern: anak membutuhkan respons cepat, penuh empati, dan konsisten dari orang tua.

Refleksi

Hadits-hadits ini memberi pelajaran besar: ibadah tidak boleh menjadikan kita abai pada tanggung jawab kemanusiaan. Kekhusyukan sejati justru terwujud ketika hati mampu hadir untuk Allah sekaligus peka terhadap sesama.

Rasulullah ﷺ mencontohkan bahwa kasih sayang kepada anak bukanlah gangguan ibadah, melainkan bagian dari ibadah itu sendiri. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *