Kesiapan Islam di Nusantara Saat Kedatangan Penjajah: dari Kesultanan, Ulama, dan Bahasa

Nasrulloh Baksolahar
8 Min Read
Foto: Freepik

BAYANGKAN sebuah pagi di abad ke-16. Laut Nusantara biru berkilau, tapi dari kejauhan terdengar dentuman meriam Portugis, disusul layar-layar kapal Belanda yang membelah ombak. Mereka datang dengan wajah dagang, namun membawa senjata dan ambisi menaklukkan. Pertanyaan yang menggema hingga kini: apakah Nusantara kala itu hanya lahan kosong yang siap dipetik? Jawabannya: tidak. Nusantara sudah berdenyut dengan peradaban Islam, dengan kesultanan yang berdiri, pesantren yang ramai, dan ulama yang jejaringnya merentang dari Aceh hingga Istanbul, dari Demak hingga Mekah.

Namun, sebagaimana rumah yang pintunya tidak terkunci rapat, penjajah menemukan celah: pertikaian internal, politik yang rapuh, dan kepentingan yang beragam. Di sinilah kisah kesiapan dan kerentanan itu berkelindan.

—

Sabuk Kesultanan Islam di Nusantara

Ketika Portugis merebut Malaka pada 1511 dan Belanda mencoba menjejak Sunda Kelapa pada 1527, peta Nusantara sudah dipenuhi oleh kesultanan Islam. Mereka bukan sekadar kerajaan kecil, melainkan mercusuar perlawanan dan kebudayaan.

Aceh Darussalam berdiri tegak sejak 1496. Di bawah Sultan Ali Mughayat Syah, dan kemudian Sultan Iskandar Muda (1607–1636), Aceh menjelma sebagai pusat dagang rempah sekaligus benteng Islam. Aceh bahkan mengirim utusan ke Istanbul, mencari perlindungan dan dukungan dari Turki Utsmani. Dari sinilah lahir julukan “Serambi Mekah”.

Di Sumatera bagian timur, Kesultanan Deli dan Siak tumbuh dengan kekuatan dagang dan ulama. Islam tidak hanya menjadi agama, melainkan fondasi politik dan ekonomi.

Di Jawa, Kesultanan Demak (1475–1518) berdiri di atas reruntuhan Majapahit. Sultan Trenggono (1521–1546) memperkuat Demak sebagai benteng Islam. Dari sinilah lahir peristiwa bersejarah: Fatahillah, ulama sekaligus panglima dari Pasai, mengusir Portugis dari Sunda Kelapa pada 1527. Nama pelabuhan itu diganti menjadi Jayakarta — sebuah simbol bahwa Islam datang membawa kejayaan baru.

Di Kalimantan, Kesultanan Banjar lahir pada 1520-an. Dari kerajaan Hindu, ia berubah menjadi kesultanan Islam setelah dakwah para ulama Arab dan Jawa masuk. Banjar menjadi simpul dagang lada dan pusat Islam di pulau itu.

Di Sulawesi, Islam mulai merasuk melalui dakwah Datuk ri Bandang pada 1605 di kerajaan Gowa-Tallo. Makassar yang semula pelabuhan kosmopolitan berubah menjadi pusat Islam yang mempertemukan pedagang dari seluruh dunia.

Di Maluku, Kesultanan Ternate dan Tidore sudah lama berdiri. Sultan Khairun (1534–1570) dan Sultan Baabullah (1570–1583) menjelma simbol perlawanan terhadap Portugis. Maluku bahkan dijuluki “Giran Madinah”, menandakan kuatnya peran ulama di kepulauan rempah itu.

Di timur, Islam masuk ke Bima (Sumbawa) pada abad ke-17, lalu merambah ke Timor dan Papua melalui jalur perdagangan. Meski belum terbentuk kesultanan besar di Papua, jejak Islam sudah mengalir di pesisir-pesisirnya.

Jika disatukan, kesultanan-kesultanan ini ibarat sabuk zamrud yang melingkari Nusantara. Namun, mereka tidak selalu berjalan seirama.

—

Jejaring Ulama dan Pesantren

Di balik kekuasaan politik, terdapat denyut spiritual dan intelektual. Ulama memainkan peran vital, menjadikan pesantren dan surau bukan hanya tempat menghafal kitab, tetapi juga pusat strategi sosial.

Aceh mengirim utusan ke Mekah dan Madinah, bahkan ke Istanbul, untuk memperkuat posisi melawan Portugis. Ulama Jawa belajar ke Gujarat dan Hadramaut, membawa pulang semangat dakwah dan ilmu. Di Minangkabau, tradisi surau tumbuh, menghubungkan masyarakat lokal dengan jaringan ulama Timur Tengah.

Hubungan ini menandakan bahwa Islam Nusantara bukanlah agama lokal belaka. Ia bagian dari peradaban global. Seorang santri di pesisir Jawa bisa menyambung sanad keilmuan hingga Mekah; seorang ulama di Aceh bisa berdiskusi dengan khalifah di Istanbul. Denyut itu menyatukan, meski politik kadang tercerai-berai.

—

Bahasa Melayu, Jawi, dan Pegon

Di antara alat persatuan yang paling ampuh adalah bahasa. Bahasa Melayu menjadi lingua franca perdagangan dan dakwah. Seorang pedagang dari Ternate bisa berbicara dengan pedagang dari Palembang menggunakan bahasa ini.

Bahasa Melayu kemudian dituliskan dengan aksara Jawi (huruf Arab untuk Melayu), menjadi medium dakwah, surat menyurat, hingga karya sastra Islam. Sementara di Jawa, ulama menggunakan aksara Pegon — bahasa Jawa ditulis dengan huruf Arab. Kitab-kitab tafsir, fikih, dan sejarah disebarkan dalam bentuk Pegon, sehingga pesan Islam meresap ke hati masyarakat.

Bahasa dan aksara ini bukan sekadar alat komunikasi. Ia menjahit pluralitas Nusantara menjadi kesadaran baru: bahwa Islam adalah perekat lintas suku, bahasa, dan pulau. Inilah bahasa yang menyatukan hati dan pemikiran.

—

Pandangan Para Sejarawan

Sejarawan Buya Hamka dalam Sejarah Umat Islam menegaskan, Islam di Nusantara tumbuh sebagai kekuatan moral sekaligus politik. Kesultanan seperti Aceh dan Demak bukan sekadar kerajaan, melainkan benteng melawan kolonialisme.

Taufik Abdullah melihat kedatangan Portugis dan Belanda justru mempercepat integrasi Islam. Ancaman dari luar memaksa kesultanan-kesultanan Islam menyadari pentingnya solidaritas.

Sementara itu, Mansur Suryanegara dalam Api Sejarah menyoroti strategi pecah belah yang dibawa penjajah. Menurutnya, Nusantara saat itu sudah kaya dengan kesultanan Islam, tetapi lemah dalam kesatuan politik. Kolonialisme berhasil masuk bukan karena kosongnya Nusantara, melainkan karena rapuhnya persatuan.

—

Peralihan dari Hindu-Buddha ke Islam

Runtuhnya Majapahit pada akhir abad ke-15 menandai berakhirnya dominasi Hindu-Buddha. Namun, itu tidak berarti kekosongan. Justru, Islam hadir sebagai energi baru peradaban. Kesultanan-kesultanan Islam mengambil alih peran sebagai pusat budaya, perdagangan, dan kekuasaan.

Proses ini tidak selalu keras. Banyak bangsawan Hindu-Buddha yang masuk Islam, baik karena dakwah maupun perkawinan. Islam menawarkan visi baru: kesetaraan umat, ikatan ukhuwah, dan jaringan global yang lebih luas daripada kerajaan lama.

—

Refleksi: Menyambut atau Melawan?

Maka, ketika Portugis dan Belanda menjejakkan kaki di Sunda Kelapa, Nusantara sebenarnya tidak dalam tidur panjang. Ia tengah berdenyut dengan kehidupan: pesantren yang ramai, ulama yang berjejaring hingga Istanbul, bahasa yang menyatukan pulau-pulau, dan kesultanan yang memancarkan kekuasaan Islam.

Namun, sejarah mencatat: penjajah berhasil masuk bukan semata karena kuat, melainkan karena Nusantara tidak sepenuhnya bersatu. Pertikaian internal, kepentingan lokal, dan lemahnya solidaritas membuka celah bagi kolonialisme.

BACA JUGA:  Proses Sanad Keilmuan dalam Membangun Jaringan untuk Nusantara

Di sinilah pelajaran itu berdiam: bahwa Islam kala itu sudah siap sebagai peradaban, tetapi persatuan politik belum cukup kokoh. Islam tumbuh pesat, Hindu-Buddha surut, namun kolonialisme datang membawa luka panjang.

—

Penutup

Sejarah Nusantara bukan kisah bangsa yang pasif menunggu dijajah. Ia adalah kisah tanah yang berdenyut dengan Islam, dengan ulama yang mendidik, dengan bahasa yang menyatukan, dan dengan kesultanan yang berdaulat. Tetapi ia juga kisah tentang rapuhnya persatuan di tengah ancaman besar.

Hari ini, ketika kita menengok kembali ke abad ke-16, kita bisa merasakan denyut itu: meriam Portugis di lautan, doa ulama di surau, teriakan perang di Jayakarta, dan aksara Jawi yang ditulis di lembar-lembar kitab. Dari sana, kita belajar: kekuatan sejati tidak hanya ada pada senjata atau kekuasaan, tetapi pada persatuan jiwa dan visi bersama.

Dan inilah yang diwariskan Islam Nusantara: bahwa peradaban bisa tegak, bila hati-hati yang tercerai bersatu kembali. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *