“DI manakah Islam pertama kali menjejakkan kaki di bumi Nusantara?
Apakah di Barus yang berhadapan langsung dengan Samudra Hindia,
atau di Pasai yang membuka diri kepada Selat Malaka?”
Pertanyaan ini kerap bergema dalam ruang diskusi para sejarawan. Bagi masyarakat awam, Islam seolah datang serentak ke seluruh pesisir Nusantara. Namun arkeologi memberi kesaksian yang berbeda: Islam datang berlapis, melalui jalur laut, pelabuhan, dan manuskrip batu nisan.
—
Pantai Barat: Gerbang Sunyi yang Pertama Dibuka
Sejarawan Perancis Claude Guillot bersama timnya pernah meneliti Barus, sebuah kota pelabuhan di pesisir barat Sumatra. Di sana, mereka menemukan nisan tua berkaligrafi kufi dan naskhi yang bertanggal abad ke-9–10 M. Temuan ini mengejutkan, sebab jauh lebih awal dari Samudera Pasai yang biasa dianggap sebagai kerajaan Islam pertama di Nusantara.
Di Kompleks Makam Mahligai dan Papan Tinggi, inskripsi Arab terukir rapi di batu granit. Salah satu di antaranya menyebut tahun 1380 M. Bukti ini menegaskan bahwa Muslim telah hidup, mati, dan dimakamkan di tanah Sumatra sebelum berdirinya kesultanan Islam formal.
Mengapa Barus? Jawabannya sederhana: kapur barus. Sejak zaman Romawi, kapur barus dari Barus menjadi komoditas mahal untuk pengawetan jenazah, obat-obatan, hingga parfum istana. Tak heran, pedagang Arab, Persia, dan India singgah di sini, membawa serta agama Islam.
Namun Barus bukanlah satu-satunya titik. Dari Singkil hingga Minangkabau pesisir, bukti arkeologi berupa nisan bertulisan Arab dan masjid kayu tua muncul bertebaran. Di Ulakan-Pariaman, misalnya, makam Syekh Burhanuddin (w. 1704) masih menjadi pusat ziarah. Ulama tarekat Syattariyah ini melanjutkan tradisi Islam yang lebih spiritual, membuktikan bahwa pantai barat bukan sekadar jalur dagang, melainkan juga laboratorium sufisme.
Sejarawan T.W. Arnold pernah menulis bahwa Islam di Nusantara tumbuh lebih karena daya tarik spiritual dan etika perdagangan yang jujur, bukan karena paksaan militer. Pantai barat Sumatra adalah saksi awal dari model Islamisasi semacam itu: sunyi, gradual, namun mengakar.
—
Pantai Timur: Selat Malaka, Samudera Kosmopolitan
Jika pantai barat seperti pintu samping yang pertama kali dibuka, maka pantai timur Sumatra adalah gerbang utama tempat arus Islam benar-benar membanjir.
Di Samudera Pasai (Aceh Utara), batu nisan Sultan Malik al-Saleh (1297 M) berdiri sebagai bukti arkeologi tak terbantahkan. Gaya nisannya mirip dengan batu nisan dari Cambay, Gujarat, memperlihatkan hubungan dagang yang intens dengan India Muslim. Catatan musafir Ibn Battuta (abad ke-14) bahkan menyebut Pasai sebagai negeri Islam yang makmur, dipimpin oleh sultan saleh dengan qadhi dan ulama yang dihormati.
Dari Pasai, Islam meluas ke Malaka. Meski pusatnya di semenanjung, pengaruh Malaka menyeberang kuat ke pantai timur Sumatra: Riau, Jambi, Siak, hingga Palembang. Malaka bukan hanya bandar dagang, tapi juga universitas terbuka bagi para ulama dari Gujarat, Yaman, hingga Cina.
Tak lama kemudian, lahirlah kesultanan-kesultanan baru: Aru dan Deli di Sumatra Timur, Palembang Darussalam di selatan, hingga Siak Sri Indrapura di Riau. Arkeologi di wilayah ini tak hanya berbentuk nisan, tapi juga masjid megah, istana batu, manuskrip beraksara Jawi, dan struktur pemerintahan Islam.
Sejarawan Denys Lombard menekankan bahwa posisi Selat Malaka sebagai jalur dagang tersibuk Asia Tenggara menjadikan pantai timur Sumatra lebih cepat berkembang secara politik. “Di sinilah,” tulis Lombard, “Islam tampil bukan hanya sebagai agama pedagang, melainkan juga sebagai ideologi kekuasaan.”
—
Pertanyaan yang Menggema
Lalu, mari kita renungkan tiga pertanyaan yang tadi sempat bergema:
1. Lebih tua masuknya Islam: pantai barat atau timur?
Dari sisi arkeologi, pantai barat memiliki bukti lebih tua — makam berinskripsi Arab di Barus sejak abad ke-9–10 M. Namun dari sisi politik, pantai timur lebih dahulu membangun kerajaan Islam yang terstruktur, seperti Samudera Pasai (abad ke-13).
2. Apa perbedaan arkeologi barat dan timur?
Barat → dominasi nisan ulama, makam sufi, masjid kayu sederhana. Jejaknya lebih bersifat komunitas dagang dan spiritual.
Timur → kompleks istana, masjid batu, manuskrip Jawi, struktur birokrasi Islam. Jejaknya lebih bersifat politik dan kosmopolitan.
3. Mengapa kesultanan lebih banyak di pantai timur?
Karena Selat Malaka adalah “nadi dunia” abad pertengahan. Barang dari Cina, rempah dari Maluku, kain dari India, emas dari Sumatra, dan pedagang Arab bertemu di sini. Islam pun tumbuh dalam suasana kosmopolitan yang menuntut lembaga politik kuat, bukan hanya komunitas dagang kecil.
—
Jejak yang Saling Melengkapi
Bila pantai barat memberi kita suara lirih dari makam para wali sunyi, maka pantai timur memperdengarkan gema adzan dari menara masjid agung kesultanan.
Bila di barat Islam masuk melalui tangan dagang dan zikir para sufi, maka di timur ia berdiri tegak melalui bendera kesultanan dan pena ulama istana.
Keduanya saling melengkapi. Tanpa pantai barat, kita tak akan punya bukti awal bahwa Muslim sudah hidup di Sumatra sejak abad ke-9. Tanpa pantai timur, kita tak akan menyaksikan bagaimana Islam berkembang menjadi peradaban politik dan budaya besar.
—
Refleksi: Sumatra, Taman Depan Islam Nusantara
Sumatra bukan sekadar pulau besar di sisi barat Nusantara. Ia adalah taman depan Islam. Dari Barus yang sunyi hingga Pasai yang kosmopolitan, dari makam Mahligai yang tersembunyi hingga istana Siak yang megah, jejak arkeologi mengajarkan kita satu hal: Islam hadir di sini tidak dengan pedang, melainkan dengan kapal dagang, doa sufi, dan pena ulama.
Dalam ziarah arkeologi ini, kita menemukan wajah Islam Nusantara yang lembut sekaligus kokoh: lembut karena mampu menyatu dengan budaya lokal, kokoh karena mampu melahirkan kesultanan yang bertahan berabad-abad.
Mungkin inilah alasan mengapa sejarah Islam di Sumatra begitu memesona. Ia bukan sekadar catatan batu, melainkan kisah manusia yang mencari Tuhan di tepi samudra.
BACA JUGA: Kesiapan Islam di Nusantara Saat Kedatangan Penjajah: dari Kesultanan, Ulama, dan Bahasa
Catatan Sejarawan yang Disisipkan
Claude Guillot: Barus sebagai pusat Islamisasi awal lewat perdagangan kapur barus.
T.W. Arnold: Islamisasi lewat perdagangan dan dakwah damai.
Ibn Battuta: Kesaksian langsung tentang Samudera Pasai sebagai negeri Islam abad ke-14.
Denys Lombard: Selat Malaka sebagai pusat kosmopolitan yang mempercepat politik Islam di timur.
—
Dengan demikian, perbedaan arkeologi Islam di pantai barat dan timur Sumatra bukanlah tanda pertentangan, melainkan dua wajah satu cermin. Barat memberi jejak paling tua, timur memberi peradaban paling matang. Keduanya membentuk fondasi kokoh Islam Nusantara yang kita warisi hingga hari ini. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE
