Wayang Purwa Kulit dan Gamelan di Era Demak: dari Candi ke Masjid, dari Majapahit ke Sekaten

Nasrulloh Baksolahar
7 Min Read
Foto: Freepik

“APAKAH seni bisa menjadi jembatan antara iman dan budaya?” Pertanyaan ini kerap muncul ketika kita menoleh ke abad ke-15, saat tanah Jawa memasuki babak besar sejarahnya. Tahun 1478 Majapahit runtuh. Candi-candi perlahan kehilangan kemegahannya, sementara para bupati pesisir yang telah lebih dahulu memeluk Islam mendirikan kerajaan-kerajaan baru. Di antara yang paling besar adalah Kesultanan Demak, berdiri di bawah kepemimpinan Raden Fatah, putra Brawijaya V.

Demak bukan sekadar kerajaan politik, tetapi ruang transisi peradaban. Di sana, warisan Hindu-Buddha bertemu dengan dakwah Islam; di sana pula para wali, sultan, dan seniman berembuk: bagaimana seni Jawa diteruskan tanpa kehilangan ruh keislaman? Jawabannya ada pada wayang purwa kulit dan gamelan.

—

Apa Itu Wayang Purwa?

Wayang purwa adalah salah satu bentuk wayang kulit klasik yang mengangkat kisah-kisah Ramayana dan Mahabharata. Kata purwa berarti “awal” atau “asli”. Wayang ini diyakini sudah ada sejak era Hindu-Buddha, berfungsi sebagai media hiburan sekaligus ritual. Namun di tangan para wali, wayang purwa berubah menjadi media dakwah.

Raden Fatah bersama para wali menyadari bahwa wayang tidak bisa serta-merta dihapus. Ia sudah berurat-akar dalam jiwa masyarakat Jawa. Yang bisa dilakukan adalah menyucikannya, menyaringnya dari unsur-unsur yang bertentangan dengan Islam, lalu menjadikannya sarana penyampaian nilai tauhid, akhlak, dan perjuangan.

BACA JUGA:  Hikayat, Kropak, Babad, dan Suluk: Jejak Tulisan Nusantara dalam Arus Sejarah

Apa Itu Gamelan?

Gamelan adalah orkestra tradisional Jawa yang terdiri atas gong, kendang, saron, bonang, gender, dan rebab. Ia bukan sekadar musik, tetapi “bahasa bunyi” yang memelihara harmoni kosmos. Dalam kosmologi Jawa kuno, gamelan menghubungkan manusia dengan jagat raya.

Di Demak, gamelan diberi arah baru: ia dibawa ke halaman masjid. Raden Fatah membuat seperangkat gamelan laras pelog khusus yang disebut gamelan Sekati. Gamelan ini ditabuh setiap perayaan Maulid Nabi, sebuah tradisi yang hingga kini masih lestari di Yogyakarta dan Surakarta dalam bentuk Sekaten.

—

Wayang di Tangan Wali

Perubahan paling nyata pada era Demak terjadi antara tahun 1518–1521. Para wali, dengan kecermatan seni sekaligus kecerdasan dakwah, merombak bentuk wayang agar tidak menyerupai pahatan candi yang bernuansa Hindu-Buddha.

Wayang dibuat pipih dua dimensi, digambar miring agar lebih simbolis, bukan realistis.

Kulit kerbau ditatah halus, diberi warna putih untuk tulang, hitam untuk pakaian.

Tangan menyatu dengan badan, dilengkapi gapit agar bisa ditancapkan pada batang pisang di panggung.

Bentuknya meniru wayang beber Majapahit, namun kemudian dipisahkan satu per satu agar bisa dimainkan dalang.

Dengan bentuk baru itu, wayang tidak lagi sekadar warisan Hindu, tetapi menjadi bahasa baru dakwah Islam. Kisah Ramayana dan Mahabharata tetap dipentaskan, tetapi dengan tafsir ulang: nilai kesetiaan, pengorbanan, dan keadilan dihubungkan dengan pesan tauhid.

Agus Sunyoto dalam Atlas Walisongo (2012) menulis: “Wayang kulit adalah hasil ijtihad kebudayaan para wali. Mereka menyerap seni Jawa, mengolahnya, lalu memberinya ruh Islam.”

—

Wayang Semalam Suntuk

Perubahan lain adalah durasi. Pada 1521, wayang disempurnakan hingga bisa dimainkan semalam suntuk. Tambahan tokoh dan properti—seperti kera, perampok, binatang, hingga gunungan—membuat kisah lebih hidup.

Alat pertunjukan pun dibenahi:

Kelir dari kain, menggantikan relief kaku di dinding candi.

Kotak kayu untuk menancapkan wayang diganti batang pisang, lebih alami dan fleksibel.

Blencong (lampu minyak) dipakai sebagai penerang, menghadirkan bayang-bayang magis di layar.

Sulukan (nyanyian dalang) dan pathetan (aturan nada gamelan) mulai diatur dengan rapi.

Wayang semalam suntuk ini bukan sekadar tontonan. Ia menjadi tuntunan, sarana perenungan masyarakat Jawa tentang hidup, takdir, dan kebenaran.

Clifford Geertz dalam The Religion of Java (1960) menegaskan bahwa wayang adalah “encyclopedia of Javanese culture” — sebuah ensiklopedia hidup tempat nilai, etika, dan pandangan hidup ditanamkan. Maka tak heran bila dakwah Islam memilih jalur ini.

—

Gamelan Sekaten: Dari Masjid ke Keraton

Jika wayang dipakai untuk mendekatkan Islam ke budaya rakyat, maka gamelan digunakan untuk mendekatkan rakyat ke masjid.

Raden Fatah menempatkan gamelan Sekati di halaman Masjid Agung Demak. Ketika ditabuh, bunyinya mengundang masyarakat berkumpul. Di sanalah mereka mendengar dakwah, mengikuti perayaan Maulid Nabi, dan menyaksikan Islam tampil bukan sebagai ajaran asing, tetapi sebagai bagian dari kehidupan Jawa.

Tradisi Sekaten ini berlanjut hingga kini di keraton Yogyakarta dan Surakarta. Setiap bulan Mulud, gamelan Sekati dibunyikan selama sepekan penuh. Ia menjadi jembatan sejarah yang menghubungkan kita dengan Demak abad ke-15.

M.C. Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern (1998) menulis: “Sekaten adalah contoh bagaimana Islam diterima tanpa merusak warisan budaya Jawa, melainkan meresap ke dalamnya, memberi makna baru, dan menjadikannya bagian dari syiar agama.”

—

Pandangan Sejarawan, Antropolog, dan Sosiolog

Sejarawan seperti H.J. de Graaf menilai Demak sebagai “penghubung dua dunia”: ia menyerap warisan Majapahit sekaligus membuka jalan bagi Islam sebagai kekuatan baru.

Antropolog melihatnya sebagai proses sinkretisasi—pertemuan antara tradisi lokal dan agama baru. Namun, bukan sekadar pencampuran, melainkan proses Islamisasi simbolik: memurnikan nilai, memberi tafsir baru, mengarahkan budaya pada tauhid.

Sosiolog menekankan fungsi sosial wayang dan gamelan. Pertunjukan semalam suntuk atau Sekaten bukan hanya seni, tetapi juga ritual kolektif yang memperkuat identitas masyarakat Muslim Jawa.

BACA JUGA: Pengaruh Ikatan Sanad Keilmuan di Nusantara Dalam Membangun Kesultanan dan Perlawanan terhadap Penjajahan

Refleksi

Jika direnungkan, apa yang dilakukan Raden Fatah dan para wali adalah perjuangan kebudayaan. Mereka tahu, menaklukkan hati orang Jawa tidak cukup dengan pedang atau fatwa. Yang lebih kuat adalah seni dan simbol.

Wayang, yang semula mengajarkan kosmologi Hindu, kini bercerita tentang kebenaran yang lebih tinggi. Gamelan, yang dahulu untuk upacara candi, kini berbunyi di halaman masjid. Sejarah ini mengajarkan: dakwah bukan hanya soal kata-kata, tetapi juga soal bahasa rasa.

—

Penutup: Dari Bayang ke Cahaya

Malam di Demak abad ke-16 pasti penuh cahaya temaram blencong. Bayang-bayang wayang menari di kelir, gamelan berdentum lembut, dalang melantunkan sulukan. Di balik itu semua, masyarakat Jawa perlahan menapaki jalan baru: dari candi menuju masjid, dari bayang menuju cahaya.

Kini, ketika kita menyaksikan Sekaten di Yogyakarta atau Surakarta, atau ketika kita menonton wayang kulit di desa, kita sebenarnya sedang menyaksikan jejak panjang strategi dakwah Demak. Sebuah jejak yang mengajarkan: iman dan budaya bukan musuh. Iman yang cerdas selalu tahu cara merangkul budaya, lalu menuntunnya menuju kebenaran. []

Sumber: Sri Mulyono, Wayang: Asal Usul, Filsafat dan Masa Depan, Penerbit Alda

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *