MUSIM liburan Yahudi tahun ini kembali diwarnai pengerahan militer besar-besaran di Tepi Barat. Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menambah delapan kompi tambahan, sehingga total kekuatan yang ditempatkan di Divisi Yudea dan Samaria setara 23 batalyon, atau sekitar 23 ribu pasukan.
Secara kasat mata, langkah ini diproyeksikan sebagai “strategi keamanan.” Namun jika dibaca lebih dalam, itu adalah cermin psikologis: sebuah negara yang hidup dalam paranoia, bahkan terhadap tanah yang mereka klaim sebagai milik mereka.
—
Negara yang Dirundung Ketakutan
Ketika sebuah negara mengerahkan puluhan ribu tentara hanya untuk melewati “musim liburan,” maka yang terlihat bukanlah kekuatan, melainkan kerapuhan. Israel seolah berdiri di atas tanah yang rapuh, di mana setiap rumah, jalan, hingga perlintasan perbatasan bisa berubah menjadi titik genting.
Kerapuhan ini semakin tampak jelas dari peristiwa pembunuhan warga Palestina di Tepi Barat beberapa hari sebelum liburan dimulai. Tentara Israel menembak mati sejumlah pemuda Palestina dan mengusir beberapa keluarga dari rumah mereka di dekat Nablus dan Hebron demi memberi ruang bagi perluasan pemukiman Yahudi. Seolah, bahkan saat rakyat Palestina berusaha merayakan kehidupan sederhana, Israel justru merayakan liburan dengan penindasan.
Profesor Richard Falk, pakar hukum internasional dan mantan Pelapor Khusus PBB untuk Palestina, pernah menulis: “Negara yang dibangun di atas perampasan tanah dan penindasan, akan selamanya hidup dalam ketakutan akan bayangan perlawanan.”
Dengan kata lain, pengerahan pasukan besar bukan tanda stabilitas, melainkan gejala dari rasa insecure nasional yang kronis.
—
Apa Itu Keamanan Nasional?
Dalam kajian ilmu hubungan internasional, keamanan nasional tidak sekadar dihitung dari jumlah tank, jet tempur, atau batalion. Konsep modern (post-Cold War) mendefinisikan keamanan nasional dalam tiga pilar:
1. Keamanan manusia (human security) – akses pada pangan, kesehatan, pendidikan, dan kebebasan dari rasa takut.
2. Keamanan politik – legitimasi pemerintah, penghormatan terhadap HAM, dan keadilan sosial.
3. Keamanan militer – kekuatan untuk melindungi kedaulatan, bukan untuk menindas.
Artinya, sebuah negara bisa punya ribuan pasukan, tapi jika rakyatnya (apalagi rakyat yang ditindas) tidak merasa aman, maka keamanan itu palsu.
—
Contoh Negara yang Gagal Mengandalkan Militer
Sejarah dunia penuh dengan contoh negara yang berusaha menutup lubang krisis dengan senjata, tapi tetap runtuh:
Uni Soviet (1970–1991)
Memiliki tentara terbesar di dunia, ribuan hulu ledak nuklir, dan dominasi geopolitik. Namun, rakyatnya kehilangan kepercayaan karena kemiskinan dan represi. Akhirnya runtuh dari dalam, bukan karena kekalahan perang.
Amerika Serikat di Vietnam & Afghanistan
Ribuan pasukan dikerahkan, senjata canggih dipakai, tapi gagal menundukkan tekad rakyat lokal. Kekuatan militer justru mempermalukan reputasi globalnya.
Afrika Selatan (Apartheid)
Militer dan polisi digunakan untuk menekan mayoritas kulit hitam. Namun, justru memperdalam isolasi internasional hingga rezim apartheid runtuh.
Contoh-contoh ini memperlihatkan: kekuatan militer tidak menjamin keamanan jika fondasi politik dan moral sebuah negara rapuh.
—
Pakar Keamanan: Senjata Bukan Jawaban
Barry Buzan, pakar keamanan internasional, dalam bukunya People, States and Fear menekankan bahwa ancaman terhadap negara modern seringkali lahir bukan dari serangan luar, melainkan dari krisis internal, ketidakadilan, dan delegitimasi politik.
Israel jelas menghadapi ini: ketidakadilan terhadap Palestina, pencaplokan tanah, blokade Gaza, dan diskriminasi sistematis. Maka, meskipun IDF mengerahkan 23 ribu pasukan di Tepi Barat, mereka tidak sedang menciptakan keamanan. Mereka hanya sedang menunda letusan perlawanan berikutnya.
—
Konsep Keamanan dalam Al-Qur’an dan Hadits
Islam menempatkan rasa aman (al-amn) sebagai nikmat besar yang menjadi fondasi peradaban. Al-Qur’an berulang kali menyandingkan aman dengan iman dan rezeki. Allah berfirman tentang Quraisy: “Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka’bah), yang telah memberi mereka makanan untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari rasa takut.” (QS Quraisy: 3–4)
Dalam hadits, Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa di antara kalian bangun di pagi hari dalam keadaan aman di rumahnya, sehat badannya, dan memiliki makanan untuk hari itu, maka seolah-olah dunia telah diberikan kepadanya.” (HR. Tirmidzi)
Para ulama tafsir menekankan bahwa rasa aman tidak bisa lahir dari penindasan. Ibnu Katsir menjelaskan ayat di atas dengan menegaskan bahwa nikmat keamanan adalah penjagaan Allah yang hanya tegak ketika manusia menjaga keadilan.
Dengan demikian, negara yang mendirikan “keamanan” di atas darah dan air mata rakyat lain, sejatinya sedang menggali jurang kehancurannya sendiri.
—
Refleksi: Pasukan Tidak Bisa Menenangkan Hati
Kita bisa bertanya: apakah benar liburan bisa terasa aman dengan ribuan senjata yang mengelilingi?
Seorang pakar psikologi sosial dari Hebrew University, Prof. Daniel Bar-Tal, menyebut Israel menderita apa yang ia sebut “ethos of conflict”—sebuah budaya hidup dalam konflik yang membuat masyarakatnya selalu merasa terancam, bahkan ketika tidak ada ancaman nyata.
Inilah paradoks Israel: mereka merampas tanah Palestina dengan dalih keamanan, tetapi setiap rumah dan jalan di tanah rampasan itu hanya menambah rasa takut.
—
Penutup
23 ribu pasukan bukan tanda kekuatan, melainkan tanda ketakutan.
Israel, negeri yang bermimpi menjadi “rumah aman bagi Yahudi,” justru berubah menjadi negara benteng yang dikelilingi paranoia.
Dan sejarah memberi pelajaran jelas:
Uni Soviet runtuh bukan karena lemah militer, tapi karena kehilangan legitimasi.
Apartheid jatuh bukan karena kalah perang, tapi karena kalah moral.
Vietnam mengusir Amerika bukan dengan jet tempur, tapi dengan tekad rakyat.
Maka, selama Palestina ditindas, Israel tidak akan pernah aman.
Senjata bisa menutup mulut, tapi tidak bisa menutup hati.
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE
