Diaspora: Cara Allah SWT Meredam Kejahatan Yahudi?

Nasrulloh Baksolahar
9 Min Read
Foto: Freepik

SEJARAH manusia dipenuhi oleh bangsa-bangsa yang lahir, berkembang, lalu lenyap. Ada yang ditaklukkan musuh, ada yang punah karena bencana, ada pula yang melebur ke dalam bangsa lain. Tetapi tidak ada bangsa yang kisahnya seunik Bani Israil. Mereka bukan bangsa yang lenyap, bukan pula bangsa yang kokoh dalam satu negeri. Mereka adalah bangsa yang hidup dalam diaspora, tercerai-berai, berpindah dari satu tanah ke tanah lain, dari satu penguasa ke penguasa lain.

Al-Qur’an mengabadikan keadaan itu: “Dan Kami pecah-pecahkan mereka di dunia ini menjadi beberapa golongan; di antara mereka ada orang-orang yang saleh, dan di antaranya ada yang tidak demikian. Dan Kami uji mereka dengan nikmat dan bencana agar mereka kembali.” (QS. Al-A’raf: 168)

Inilah wajah sejarah Yahudi: terpecah, tercerai, diuji dengan kejayaan sekaligus bencana. Dari Mesir di bawah Fir’aun, padang pasir bersama Musa, pembuangan Babilonia, penindasan Romawi, hingga ghetto Eropa modern. Bahkan setelah berdirinya negara Israel pada 1948, separuh dari bangsa Yahudi tetap memilih hidup di luar tanah itu.

Pertanyaannya: apakah diaspora ini sekadar kecelakaan sejarah, atau justru skenario Allah SWT untuk meredam kejahatan mereka?

—

Akar Diaspora: Dari Yakub ke Roma

Nabi Yakub, yang disebut Israel, memiliki dua belas anak yang kemudian menurunkan Bani Israil. Mereka pernah menjadi kelompok yang mulia, dekat dengan wahyu, tetapi juga berkali-kali membangkang.

Musa membimbing mereka keluar dari Mesir, tetapi mereka mengeluh, menolak berperang, bahkan meminta dibuatkan berhala. Sejak awal, karakter menolak bimbingan Allah sudah mengakar.

Sejarawan Yahudi maupun Muslim sepakat, puncak diaspora bermula dari kehancuran Baitul Maqdis oleh pasukan Romawi pada tahun 70 M. Ribuan orang Yahudi dibantai, sisanya diusir dan menyebar ke seluruh Kekaisaran Romawi. Dari sinilah lahir diaspora permanen: Yahudi di Eropa Timur, Yahudi Sephardim di Spanyol, Yahudi Mizrahi di Timur Tengah.

Ibnu Katsir menegaskan dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azim, ayat-ayat tentang penyebaran Bani Israil adalah hukuman Allah karena mereka mendustakan para nabi dan membuat kerusakan. Maka sejak itu, diaspora menjadi takdir sosial mereka.

—

Diaspora sebagai Rem Sejarah

Jika dibaca dari perspektif kekuasaan, keterpecahan itu sebenarnya “anugerah” bagi dunia. Sebab, setiap kali Yahudi bersatu dalam kekuatan besar, mereka justru menindas.

Pada masa mereka kuat di bawah Daud dan Sulaiman, alih-alih menjaga syariat, banyak di antara mereka terjerumus pada kesombongan politik.

Pada masa modern, ketika mereka berhasil mendirikan Israel dengan dukungan kolonialisme Barat, lahirlah penjajahan Palestina dan genosida Gaza.

Bayangkan jika seluruh 15 juta Yahudi dunia berkumpul di Israel, dengan seluruh modal, teknologi, dan jaringan politiknya. Dunia akan menyaksikan sebuah rezim super-kuat yang mungkin lebih ganas daripada imperium mana pun. Tetapi Allah tidak membiarkan itu terjadi.

Diaspora adalah mekanisme ilahi untuk membatasi kerusakan.

1. Membelah kekuatan → sebagian besar Yahudi hidup sebagai minoritas di Eropa atau Amerika, sehingga tidak leluasa menindas.

2. Menyisakan suara moral → diaspora melahirkan kelompok Yahudi yang justru menentang Zionisme, seperti gerakan Jewish Voice for Peace di Amerika.

3. Menjadi cermin sejarah → umat manusia melihat bagaimana bangsa yang pernah tertindas justru bisa menjadi penindas ketika punya negara, tetapi selalu diingatkan oleh diaspora mereka sendiri.

—

Psikologi Sosial: Identitas Diaspora

Dalam psikologi sosial, identitas terbentuk bukan hanya dari tanah air, tetapi juga dari pengalaman sejarah kolektif. Yahudi adalah contoh unik: identitas mereka justru terbentuk dari ketercerai-beraian.

Yahudi diaspora terbiasa menjadi minoritas. Mereka belajar bernegosiasi, berasimilasi, namun tetap menjaga identitas. Itulah sebabnya banyak Yahudi diaspora yang lebih terbuka, adaptif, dan kadang kritis terhadap Israel.

Yahudi Israel lahir dari trauma diaspora. Mereka ingin sekali menjadi bangsa normal dengan negara normal, tetapi karena selalu merasa dikepung, mereka membentuk karakter militeristik, eksklusif, dan penuh paranoia.

Sosiolog Israel, Amos Oz, menyebut Israel hidup dalam paradoks: “Ingin damai, tetapi selalu menyiapkan perang.” Sebaliknya, diaspora justru menemukan damai dalam hidup bersama bangsa lain.

—

Gaza dan Tepi Barat: Ketika Diaspora Bicara

Perang Gaza 2023–2025 menjadi titik balik penting. Dunia menyaksikan ribuan Yahudi Amerika turun ke jalan dengan spanduk bertuliskan: “Not in Our Name.” Mereka menolak menjadikan Holocaust sebagai pembenaran genosida baru terhadap Palestina.

Di London, Paris, dan New York, banyak sinagoge bahkan mengibarkan bendera Palestina. Diaspora menjadi saksi bahwa tidak semua Yahudi mendukung Israel.

Seandainya seluruh Yahudi dunia hanya ada di Israel, suara-suara ini akan hilang. Tidak ada lagi Yahudi yang bisa menegur bangsanya sendiri dari luar.

Dengan kata lain, diaspora adalah cara Allah menciptakan oposisi internal terhadap kejahatan Israel.

—

Tafsir dan Ulama: Sunnatullah Pecah-Belah

Al-Qur’an tidak hanya mencatat diaspora, tetapi juga menegaskan bahwa mereka akan membuat kerusakan dua kali: “Dan Kami telah menetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab itu: Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali, dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar.” (QS. Al-Isra: 4)

Ulama tafsir seperti Al-Qurthubi dan Ibnu Katsir menjelaskan, ayat ini merujuk pada siklus sejarah Yahudi: ketika mereka kuat, mereka berbuat zalim; ketika zalim, Allah pecah-belahkan dan rendahkan.

Buya Hamka menulis dalam Tafsir al-Azhar: sejarah Bani Israil adalah pelajaran bagi umat Islam agar tidak jatuh pada kesalahan yang sama, yaitu menganggap diri paling benar lalu menolak kebenaran dari luar.

—

Pandangan Sejarawan: Bangsa yang Tak Pernah Satu

Sejarawan modern, Shlomo Sand, dalam bukunya The Invention of the Jewish People, bahkan berargumen bahwa “bangsa Yahudi” sebagai entitas tunggal adalah konstruksi modern. Sejak dulu mereka selalu beragam—Ashkenazi, Sephardim, Mizrahi—dan tidak pernah sepenuhnya bersatu.

Dengan kata lain, diaspora bukan penyimpangan, tetapi justru identitas asli Yahudi. Maka Zionisme, yang berusaha menghapus diaspora, sebenarnya bertentangan dengan sejarah mereka sendiri.

BACA JUGA:  Harga Liburan Yahudi di Tepi Barat: IDF Kerahkan 23.000 pasukan

Refleksi: Pelajaran untuk Umat Islam

Dari semua ini, ada pelajaran besar bagi umat Islam:

1. Kejahatan tidak dibiarkan utuh. Allah membatasi kekuatan jahat dengan memecah-belahnya. Kita tidak boleh gentar pada kesatuan musuh, karena di baliknya selalu ada keretakan.

2. Kekuatan spiritual lebih penting daripada negara. Yahudi telah membuktikan, memiliki negara tidak otomatis memberi makna. Israel punya tanah, tetapi tidak punya kedamaian.

3. Jangan ulangi kesalahan Bani Israil. Jangan merasa paling benar lalu menolak kebenaran dari luar. Jangan pula mengulangi kesombongan yang berujung pada kehancuran.

—

Epilog: Diaspora sebagai Pagar Allah

Sejarah panjang Yahudi menunjukkan bahwa Allah Maha Bijaksana. Dia tidak memusnahkan mereka sekaligus, tetapi juga tidak membiarkan mereka berkuasa penuh. Dia sebarkan mereka di bumi, menjadikan diaspora sebagai pagar agar dunia tidak ditelan oleh satu kelompok yang keras kepala.

Bagi Yahudi, diaspora adalah luka. Bagi dunia, diaspora adalah rahmat. Bagi umat Islam, diaspora adalah pengingat bahwa keadilan Allah berjalan melalui sejarah, kadang dengan cara yang halus, tak terlihat, tetapi pasti.

Dan Gaza hari ini adalah ujian: apakah Yahudi akan belajar dari sejarah mereka sendiri, ataukah mereka akan mengulanginya—kali ini sebagai pelaku?

Satu hal pasti: Allah telah menetapkan rem bagi mereka. Diaspora itu bukan sekadar sejarah, melainkan sunnatullah.

“Dan sungguh, mereka telah ditimpa kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali dengan berpegang pada tali (perlindungan) dari Allah dan tali (perjanjian) dari manusia.” (QS. Ali Imran: 112)

Selama mereka berpaling dari tali Allah, mereka akan tetap tercerai, tetap hidup dalam diaspora. Dan itu, sejatinya, adalah cara Allah meredam kejahatan mereka. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *