Pengemis Buta Yahudi

3 Min Read
Foto: Umar Faqih | Islampos

DI sudut kota Madinah, pada sebuah masa yang penuh cahaya dan rahmat, hiduplah seorang pengemis tua yang matanya buta, hatinya pun tertutup oleh kabut kebencian. Lidahnya terbiasa melafazkan kata-kata kasar, mencela seorang insan agung yang namanya harum hingga langit: Muhammad ﷺ. Setiap hari ia berteriak, “Jangan dekati Muhammad! Ia hanyalah penipu, hanyalah penyihir!”

Namun, di balik caci-maki itu, hadir sosok yang penuh kelembutan. Seorang pemuda datang saban hari, membawa semangkuk bubur hangat. Ia duduk di sisi pengemis itu, dengan sabar menghaluskan makanan, lalu menyuapkannya perlahan agar tidak melukai lidah tua yang rapuh. Tak pernah ia membalas cercaan, tak pernah ia menyanggah hujatan. Ia hanya diam, melayani dengan kasih yang tak terucap.

BACA JUGA: 12 Keistimewaan Nabi ﷺ

Hari berganti, waktu berputar. Tiba-tiba pemuda itu tak lagi datang. Si pengemis menunggu, meraba udara kosong, namun tak ada tangan lembut yang biasa menyuapi, tak ada suara hening yang menemaninya. Hingga suatu ketika, seorang lain hadir. Ia membawa makanan, mendekat, dan menyuapi sebagaimana biasanya. Tapi sang pengemis merasakan bedanya. Ia menolak, marah, lalu bertanya, “Siapa engkau? Kau bukan orang yang biasa datang padaku!”

Orang itu tersenyum getir. “Aku yang biasanya.”

Namun pengemis itu menggeleng, yakin. “Tidak! Orang yang biasanya datang selalu menghaluskan makananku. Ia menunggu sampai bubur itu tidak terlalu panas. Ada kelembutan dalam tangannya, ada kasih dalam sabarnya. Kau bukan dia.”

Air mata jatuh dari wajah lelaki itu. Suaranya pecah ketika berkata, “Benar, aku bukan dia. Aku hanyalah sahabatnya. Namaku Abu Bakar. Orang yang setiap hari datang padamu itu… dia adalah Muhammad, Rasulullah ﷺ. Dan kini beliau telah tiada.”

Hening. Seakan bumi berhenti berputar. Pengemis buta itu tertegun, hatinya yang beku mulai retak. Lidah yang biasa menghina kini kelu, lalu berguncang dalam tangis panjang. Ia menangis karena ia tak pernah tahu, bahwa orang yang setiap hari menyuapinya dengan sabar, orang yang ia hina dan caci, adalah manusia termulia yang diutus Allah sebagai rahmat bagi semesta.

BACA JUGA: Abu Bakar kepada Ibu Tua yang Terbaring Lemah: Siapa yang Mengurusmu, Wahai Ibu?

Dalam pelukan taubat, Abu Bakar menuntunnya. Di sela-sela isak tangis, pengemis itu berikrar, menerima Islam dengan hati yang luluh. Ia tak lagi buta oleh kebencian, sebab cahaya iman menembus gelapnya jiwa.

Demikianlah, sirah ini bukan sekadar kisah pengemis dan makanan sederhana. Ia adalah kisah kasih sayang yang melampaui luka, teladan akhlak yang menembus dinding kebencian. Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa rahmat bukanlah balasan atas cinta, melainkan pemberian meski dicaci. Dan dari tangan beliau, kita belajar: kelembutan dapat menundukkan hati yang paling keras sekalipun.

Sungguh, cinta Rasulullah ﷺ adalah cahaya yang abadi. Ia hidup dalam setiap amal kasih, dalam setiap sabar, dalam setiap kelembutan yang kita teruskan di dunia ini. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *