“BAGAIMANA mungkin satu tangan mengubur jeritan satu bangsa?”
Pertanyaan itu bergema di ruang Dewan Keamanan PBB, pada malam ketika dunia berharap resolusi gencatan senjata bisa lahir. Sepuluh negara mendukung, tiga menahan diri. Tetapi satu tangan terangkat, satu kata dilontarkan: veto.
Dan resolusi pun gugur.
Amerika Serikat, sekali lagi, berdiri sendirian menolak. Gaza tetap terbakar, bayi-bayi tetap menangis tanpa susu, jenazah tetap ditarik dari bawah reruntuhan. Dunia tersentak, tetapi sejarah seperti sedang mengulang dirinya.
Bukankah dahulu Firaun juga berdiri dengan kesombongan yang sama, menolak semua tanda, menutup telinga dari jeritan rakyat, yakin bahwa kekuasaan dan bala tentaranya akan membuatnya abadi?
—
Firaun: Dari Didukung Hingga Ditelan Laut
Firaun tidak pernah sendirian sejak awal. Ia memobilisasi seluruh rakyat Mesir. Ia menggelar pertunjukan besar, menyatukan para ahli sihir untuk mempermalukan Musa. Ia punya sekutu kaya raya seperti Qarun yang menjadi simbol pilar ekonomi. Ia punya Haman, pejabat tinggi yang setia melayani kekuasaannya.
Tetapi satu per satu, tembok itu runtuh.
Ahli-ahli sihir yang ia banggakan justru tersungkur bersujud, berkata, “Kami beriman kepada Tuhannya Musa dan Harun.” Qarun, yang kekayaannya membuat rakyat silau, ditelan bumi oleh Allah. Para pemuka pun mulai menyuarakan keraguan, bahkan sebagian rakyat menolak.
Namun Firaun tidak menyerah. Ia melakukan pukulan terakhir: mengejar Musa dan Bani Israil yang menyeberangi laut. Dengan keyakinan penuh, ia merasa kemenangan sudah di depan mata.
Namun sejarah berbalik. Laut yang terbelah itu menutup kembali. Dan Firaun pun terkubur di kedalaman, bersama bala tentaranya.
Al-Qur’an mengingatkan: “Maka Kami hukumlah dia dan tentaranya, lalu Kami lemparkan mereka ke dalam laut. Lihatlah bagaimana kesudahan orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Qashash: 40)
Sebuah kisah yang bukan hanya tentang masa lalu, tetapi cermin abadi bagi setiap kekuatan yang menganggap dirinya tak tergoyahkan.
—
Amerika: Firaun Modern di Panggung Dunia
Hari ini, Amerika tampil persis dalam bayangan itu. Dengan hak veto, ia berdiri menentang mayoritas dunia. Dengan alasan klise—“tidak mengutuk Hamas”, “berbahaya bagi Israel”—ia mengubur resolusi yang disusun banyak negara.
Tetapi ada satu hal yang sering dilupakan Washington: legitimasi moral.
Sejarawan Inggris Arnold Toynbee pernah menulis bahwa setiap peradaban runtuh bukan karena kekuatan luar, tetapi karena kehilangan legitimasi di dalam dirinya sendiri. Seperti Firaun yang ditinggalkan rakyatnya, kekuatan besar pada akhirnya ambruk ketika dunia tidak lagi percaya pada keadilan mereka.
Geopolitik Timur Tengah hari ini memberi tanda-tanda jelas: sekutu yang dulu setia mulai berpaling.
—
Retaknya Lingkar Sekutu
Dulu, Amerika dianggap satu-satunya penjamin stabilitas kawasan. Tetapi sejak perang Gaza meletus, retakan itu tampak jelas.
Qatar, yang menjadi tuan rumah Piala Dunia dan sekutu ekonomi penting AS, semakin berjarak setelah serangan Israel ke infrastruktur kemanusiaan.
Arab Saudi yang selama puluhan tahun menggenggam erat Washington, kini membuka pintu diplomasi dengan Iran. Pertemuan bersejarah antara Putra Mahkota Mohammed bin Salman dengan Presiden Iran menandai bab baru: musuh lama bisa bersalaman jika kepentingan bersama menuntut.
Arab Saudi bahkan mulai membangun pakta pertahanan dengan Pakistan, menandai diversifikasi keamanan yang tak lagi bergantung pada payung Amerika.
Secara ekonomi, negara-negara Timur Tengah makin aktif dalam BRICS (Brazil, Rusia, India, China, South Africa), sebuah blok yang jelas menjadi tandingan dominasi Barat.
Profesor geopolitik Timur Tengah, Fawaz Gerges, menyebut perubahan ini sebagai “strategic recalibration”—pergeseran strategis yang lahir dari kekecewaan mendalam atas standar ganda Amerika.
Seperti Firaun yang ditinggalkan ahli sihir, Qarun, dan sebagian rakyatnya, Amerika pun perlahan ditinggalkan sekutu yang mulai sadar: berpegang pada kekuasaan yang zalim hanya akan menenggelamkan mereka bersama.
—
Sejarah: Yang Lemah Mengguncang yang Kuat
Fenomena ini bukan hal baru. Dunia sudah berkali-kali menyaksikan bagaimana kekuatan besar tumbang melawan pihak yang tampak lemah.
Vietnam vs Amerika
Amerika datang dengan napalm dan helikopter. Tetapi hutan Vietnam mengajari mereka bahwa semangat rakyat lebih abadi daripada mesin perang. Amerika mundur, bukan karena kalah dalam satu pertempuran besar, melainkan karena kehabisan legitimasi di mata dunia dan rakyatnya sendiri.
Soviet vs Mujahidin Afghanistan
Tank-tank Soviet menguasai kota, tetapi tidak bisa menundukkan gunung. Para mujahidin dengan senjata sederhana dan keyakinan kuat memaksa sang adidaya angkat kaki. Tak lama kemudian, Uni Soviet runtuh, bukan hanya karena Afghanistan, tetapi karena kehilangan pijakan moral dan ekonomi.
Hizbullah vs Israel 2006
Israel menyerbu Lebanon untuk menghancurkan Hizbullah. Tetapi milisi kecil dengan roket sederhana itu membuat pasukan modern Israel kewalahan. Dunia terkejut: raksasa militer bisa dipaksa mundur oleh pasukan kecil.
Badar: Kisah Abadi
Dan tentu saja, Badar. Tiga ratus lebih sedikit pasukan Rasulullah ﷺ menghadapi seribu Quraisy. Kemenangan itu bukan sekadar sejarah, melainkan pelajaran abadi: kekuatan tidak diukur dari angka, melainkan dari keberpihakan Allah kepada orang-orang yang sabar.
—
Palestina Hari Ini: Cermin Badar
Di Gaza, peristiwa itu seakan berulang. Israel, dengan dukungan penuh Amerika, menebar bom dari udara. Rumah sakit rata, sekolah hancur, stadion dibakar. Tetapi semangat rakyat tidak padam.
Setiap anak yang kehilangan orang tua justru tumbuh menjadi simbol baru perlawanan. Setiap rumah yang runtuh melahirkan tenda, dan dari tenda lahirlah doa.
Profesor Noam Chomsky menyebut Gaza sebagai “open-air prison”—penjara terbuka terbesar di dunia. Namun, di balik dinding penjara itu, justru lahir generasi yang tidak bisa ditaklukkan.
Seperti di Badar, kemenangan bukan ditentukan oleh siapa yang punya lebih banyak pedang, tetapi siapa yang punya alasan lebih murni untuk bertahan.
—
Mengapa yang Lemah Bisa Menang?
Ada empat faktor utama yang membuat yang lemah mampu mengguncang yang kuat:
1. Legitimasi Moral
Yang lemah biasanya berjuang untuk bertahan hidup. Yang kuat sering bertindak sebagai penindas. Legitimasi inilah yang membuat dunia bersimpati.
2. Strategi Jangka Panjang
Perlawanan rakyat adalah maraton, bukan sprint. Negara besar terjebak dalam logika perang cepat.
3. Dukungan Rakyat
Perlawanan sejati lahir dari rakyat. Tanpa dukungan rakyat, pasukan besar hanyalah raksasa tanpa kaki.
4. Iman dan Spiritualitas
Inilah energi yang tak kasat mata. Sejarah Badar, Vietnam, Afghanistan, Lebanon, hingga Gaza, menunjukkan bahwa iman mampu memberi daya tahan melampaui kalkulasi militer.
—
Refleksi: AS dan Firaun
Maka, pertanyaan itu kembali menggema: Apakah Amerika sedang berada di jalan Firaun?
Hari ini mereka masih bisa menggunakan hak veto. Mereka masih bisa menyelamatkan Israel di forum internasional. Mereka masih bisa mengklaim sebagai pemimpin dunia.
Tetapi semakin hari, mereka semakin sendirian. Dunia Islam menolak. Negara-negara Eropa mulai ragu. Global South bersatu dalam BRICS. Bahkan rakyat Amerika sendiri mulai turun ke jalan menentang kebijakan luar negeri negaranya.
Apakah ini bukan tanda-tanda bahwa gelombang sejarah sedang mendekat?
—
Epilog: Gelombang yang Menutup
Firaun berlari mengejar Musa, yakin kemenangan sudah di depan mata. Tetapi justru di situlah ia binasa, ditelan laut bersama seluruh pasukannya.
Amerika mungkin masih bisa menunda, menekan, bahkan menghancurkan Gaza dengan bantuan sekutunya. Tetapi sejarah punya cara menutup tirai: dengan gelombang legitimasi yang menelan segala bentuk kesombongan.
Seperti kata Al-Qur’an: “Dan janganlah kamu merasa aman dari makar Allah, karena yang merasa aman dari makar Allah hanyalah orang-orang yang merugi.”
(QS. Al-A’raf: 99)
Dan sejarah akan terus menulis, bahwa yang tampak kuat bisa roboh dalam sekejap, sementara yang tampak lemah bisa berdiri tegak abadi.
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE
