Di Akhir Zaman, Banyaknya Perdagangan oleh Kaum Perempuan

Dini Koswarini
7 Min Read
Foto: Freepik

DI penghujung masa, kehidupan dunia kian bergejolak. Hiruk pikuk manusia saling berlomba menumpuk harta, seakan dunia adalah tujuan terakhir, padahal ia hanyalah persinggahan singkat. Persaingan semakin marak, pasar-pasar semakin sesak, perdagangan menjadi jalan hidup yang paling digandrungi, dan para perempuan ikut berdagang. Rasulullah ﷺ telah memberi nubuwat: “Sesungguhnya menjelang kiamat akan ada ucapan salam khusus dan perdagangan tersebar luas, sehingga seorang perempuan ikut serta dengan suaminya dalam perdagangan.” (HR. Ahmad)

Hadis ini bukan sekadar kabar masa depan, tetapi kenyataan yang kini telah kita saksikan. Perdagangan meluas ke segala arah, menjelma dalam pasar tradisional hingga dunia digital. Tidak hanya laki-laki, perempuan pun berjejal di arus kompetisi yang kian deras.

Perempuan dan Pergeseran Peran di Akhir Zaman

Islam menempatkan perempuan dalam kemuliaan rumah tangga, sebagai penjaga kehormatan dan pendidik generasi. Allah ﷻ berfirman: “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah dahulu…” (QS. Al-Ahzab: 33)

Namun, realitas akhir zaman menunjukkan perubahan besar. Tuntutan ekonomi, semangat emansipasi, dan dorongan kesetaraan membuat kaum perempuan turun ke jalan, ke pasar, ke kantor, bahkan ke medan kerja yang dahulu identik dengan laki-laki. Mereka menjadi buruh pasar, pekerja bangunan, sopir, bahkan aparat penegak hukum.

https://s.shopee.co.id/BNe5MhdZ4

Fenomena ini sejatinya bukan sekadar persoalan sosial, melainkan isyarat akhir zaman. “Akan datang suatu masa kepada manusia, di mana agama mereka hanya tinggal nama, dan Al-Qur’an hanya tinggal tulisan. Masjid-masjid mereka ramai dari sisi bangunannya, namun kosong dari hidayah.” (HR. Al-Baihaqi)

Demikian pula dengan peran perempuan. Yang dahulu terhormat dengan tinggal di rumah, kini terseret arus zaman, bercampur di pasar dengan laki-laki, dan kehilangan fitrah alaminya.

Himpitan Dunia, Lupa Akhirat

Ketika dunia menjadi pusat perhatian, manusia lupa bahwa kehidupan hakiki bukan di sini. Allah ﷻ mengingatkan:

“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan, suatu yang melalaikan, perhiasan, bermegah-megahan antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak…” (QS. Al-Hadid: 20)

Himpitan ekonomi sering dijadikan alasan. Orang berlari dari satu usaha ke usaha lain, dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain, dengan satu tujuan: uang. Padahal Rasulullah ﷺ telah bersabda: “Akan datang suatu zaman kepada manusia, seseorang tidak peduli dari mana ia mendapatkan harta, apakah dari yang halal atau dari yang haram.” (HR. Bukhari)

Bukankah inilah potret kita hari ini? Perdagangan yang semula menjadi sarana halal mencari nafkah, kini bercampur dengan tipu daya, riba, monopoli, bahkan penipuan.

Pasar: Cermin Akhir Zaman

Para ulama salaf dahulu menekankan betapa pasar adalah tempat ujian iman.  “Pasar adalah tempat setan menancapkan benderanya, maka janganlah kalian menjadi yang pertama masuk dan yang terakhir keluar.” (HR. Muslim)

Hari ini, pasar tidak lagi sebatas ruang fisik. Ia telah menjelma ke dalam genggaman: di layar-layar ponsel, di ruang digital yang tidak pernah tidur. Setiap saat manusia ditarik untuk membeli, menjual, menawar, dan bersaing. Perdagangan tersebar luas tanpa batas, sebagaimana sabda Nabi ﷺ di atas.

Peringatan dan Jalan Keselamatan

Rasulullah ﷺ menggambarkan kondisi umat di akhir zaman dengan penuh kasih, agar kita berhati-hati. Beliau bersabda: “Bersegeralah beramal sebelum datang fitnah seperti potongan malam yang gelap gulita. Pada pagi hari seseorang beriman, pada sore hari ia kafir; atau pada sore hari ia beriman, pada pagi harinya ia kafir; ia menjual agamanya dengan sedikit keuntungan dunia.” (HR. Muslim)

Maka bukan hanya sekadar fenomena sosial, meluasnya perdagangan hingga melibatkan semua kalangan adalah bagian dari fitnah zaman. Jika manusia tidak berhati-hati, ia bisa terjerat dalam jebakan dunia, melupakan amal akhirat, dan menjual agamanya demi keuntungan sesaat.

Imam Hasan al-Bashri rahimahullah berkata: “Dunia hanyalah tiga hari: Hari kemarin yang telah pergi dan tak akan kembali, hari esok yang belum tentu engkau temui, dan hari ini yang engkau miliki. Maka beramallah di dalamnya.”

Mengembalikan Fitrah, Menjaga Kehormatan

Bukan berarti Islam menolak perempuan bekerja. Namun syariat telah menetapkan batasan dan kehormatan yang harus dijaga. Seorang perempuan lebih utama ketika ia memilih menjaga rumah dan keluarganya, sebab dari tangannya lahir generasi rabbani. Nabi ﷺ bersabda: “Perempuan adalah pemimpin di rumah suaminya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ketika zaman semakin menggeser fitrah, umat Islam dituntut untuk kembali kepada panduan wahyu. Lelaki wajib memikul tanggung jawab nafkah, sementara perempuan menjaga kehormatan dan generasi. Itulah keseimbangan yang ditetapkan Allah ﷻ.

BACA JUGA:  Apa Kesamaan Kejadian di Film Lord of The Rings dengan Peristiwa Akhir Zaman dalam Islam?

Sudah Disebutkan Nabi

Fenomena maraknya perdagangan dan bergesernya peran perempuan di akhir zaman adalah tanda yang telah diisyaratkan Nabi ﷺ. Ia bukan sekadar realita sosial, melainkan peringatan agar kita waspada. Dunia akan semakin memikat, pasar akan semakin bising, dan manusia akan semakin sibuk mengejar harta.

Namun, di tengah hiruk pikuk itu, cahaya masih terbentang bagi yang mau kembali. Al-Qur’an, sunnah Nabi, dan nasihat ulama salaf adalah lentera di jalan yang kian gelap. Maka jangan biarkan dunia menipu. Ambillah secukupnya, jadikan ia kendaraan menuju akhirat, dan jangan menjadikannya tujuan akhir.

Allah ﷻ berfirman: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi, dan berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qashash: 77)

Semoga kita menjadi hamba yang selamat di akhir zaman: hati terikat pada Allah, bukan pada dunia, dan langkah selalu tertuju menuju akhirat. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

TAGGED:
Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *