Istriku, Aku Mencintaimu

6 Min Read
Foto: Freepik

ISTRIKU,
aku menulis ini bukan sekadar rangkaian kata,
melainkan sebuah doa yang kusulam dengan tinta cinta,
yang pernah Allah letakkan di dalam hati seorang hamba.
Cinta ini bukan hanya milikku, bukan hanya milikmu,
tetapi milik Sang Pencipta yang menitipkan rahasia agung
pada ikatan yang kita sebut pernikahan.

Aku mencintaimu, bukan karena wajahmu yang teduh,
bukan pula karena senyum yang menenangkan,
melainkan karena aku melihat di matamu
cahaya yang Allah titipkan,
cahaya yang membuatku takut kehilangan.

Istriku,
aku sering teringat ucapan Sufyān ats-Tsaurī rahimahullah,
“Tidaklah aku mendapati penawar hati yang paling mulia,
melebihi seorang istri yang shalihah.”
Dan aku merasakan kebenaran itu padamu.
Engkau adalah penawar bagi resahku,
engkau adalah obat bagi gundahku,
engkau adalah rahmat yang menyelimuti malam-malamku.

Kadang aku bertanya pada diriku sendiri:
apa jadinya bila Allah tak mempertemukan kita?
Apakah aku akan berjalan dalam sepi yang panjang,
menyusuri jalan-jalan tanpa tujuan?
Ataukah aku akan terhanyut dalam arus dunia
tanpa tahu kemana harus kembali?
Namun Allah Maha Baik,
Dia memilihkanmu untukku,
dan aku percaya,
itulah bentuk cinta Allah yang nyata.

Istriku,
aku mencintaimu dengan sederhana,
seperti udara yang tak terlihat namun selalu dibutuhkan.
Aku mencintaimu seperti doa yang lirih,
tak bersuara namun menggetarkan langit.
Aku mencintaimu sebagaimana sabda Nabi ﷺ
ketika beliau ditanya tentang cintanya kepada Khadijah:
“Sesungguhnya aku diberi rezeki dengan cintanya.”
Betapa indah kalimat itu, betapa dalam maknanya.
Dan aku pun ingin berkata padamu:
rezeki terbesarku setelah iman adalah cintamu.

Engkau adalah rumah bagi lelahku,
engkau adalah mata air bagi dahagaku,
engkau adalah jalan pulang
bagi langkah yang tersesat di simpang kehidupan.
Istriku, aku mencintaimu
dengan cinta yang tak terhitung oleh angka,
tak terbatas oleh waktu,
tak diukur oleh jarak.

Istriku,
aku ingat nasihat Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu:
“Bukanlah cinta itu selalu tentang rupa dan harta,
tetapi bagaimana engkau saling menjaga dan saling setia.”
Dan engkau telah menjagaku,
engkau telah setia menemaniku,
bahkan dalam detik-detik paling rapuh dalam hidupku.
Aku berutang banyak padamu,
utang yang takkan pernah bisa kulunasi
dengan apapun selain doa.

Aku tahu, kadang aku bukan suami terbaik.
Aku terlambat memahami bahasa matamu,
aku terlupa membaca isyarat resahmu.
Namun, engkau tetap sabar.
Engkau tetap mendekapku dalam diam,
dan itu mengajarkanku arti cinta yang sesungguhnya:
bukan hanya tawa dalam bahagia,
tetapi juga kesetiaan dalam luka.

Istriku,
aku mencintaimu dengan doa.
Setiap kali sujudku menyentuh bumi,
namamu ikut jatuh bersama air mataku.
Setiap kali aku mengangkat tangan,
aku meminta Allah menjagamu,
sebagaimana Allah menjaga hamba-hamba pilihan-Nya.
Aku ingin, kelak di akhirat,
aku masih dapat berkata pada malaikat:
“Inilah istriku, yang bersamaku dalam iman dan kesabaran.”

Aku mencintaimu dalam kesunyian malam,
saat dunia terlelap,
aku menyebut namamu lirih,
menyambungkan namamu pada doa panjang
yang menuju langit.
Istriku, cintaku bukan sekadar janji,
tapi ibadah,
karena aku tahu, setiap kebaikan yang kuberikan padamu,
akan kembali padaku sebagai amal.

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah pernah berkata:
“Cinta yang benar adalah yang mengantarkanmu
kepada Allah, bukan menjauhkanmu dari-Nya.”
Dan aku ingin cintaku padamu
selalu menjadi jalan untuk mendekat pada Allah.
Karena aku takut,
cinta tanpa arah hanya akan menjadi fana,
sementara cinta yang berlandaskan iman
akan menjadi kekal.

Istriku,
aku mencintaimu dengan kesabaran.
Ketika amarah datang,
aku belajar menundukkan ego,
karena aku tahu, di balik kelembutanmu
tersimpan keteguhan yang Allah titipkan.
Engkau bukan sekadar pasangan,
engkau adalah madrasah bagiku,
tempat aku belajar arti lapang dada.

Aku teringat ucapan Hasan al-Bashri rahimahullah:
“Orang beriman itu yang paling lembut hatinya kepada keluarganya.”
Maka aku berusaha, meski sering gagal,
menjadi suami yang lembut,
menjadi pendengar bagi ceritamu,
menjadi pundak bagi letihmu.
Karena aku tahu,
engkau layak mendapatkan cinta yang lembut,
cinta yang sabar,
cinta yang tidak berlebihan dalam kata,
tapi berlimpah dalam makna.

Istriku,
aku mencintaimu dalam diam dan dalam terang.
Di hadapan manusia, aku mungkin hanya seorang biasa,
tetapi di hadapanmu, aku ingin menjadi lelaki terbaik
yang pernah engkau temui.
Aku ingin engkau melihatku
sebagaimana aku melihatmu:
bukan sempurna,
tapi cukup untuk saling melengkapi.

BACA JUGA:  Suami Suka Bohong soal Keuangan, Istri Harus Bagaimana?

Aku mencintaimu seperti hujan,
kadang deras, kadang rintik,
tapi selalu membawa kehidupan.
Aku mencintaimu seperti cahaya bulan,
kadang redup, kadang purnama,
tapi selalu menuntun langkah dalam gelap.
Dan aku mencintaimu seperti bumi mencintai hujan,
selalu rindu, selalu menunggu,
selalu merasa cukup meski sederhana.

Istriku,
aku tidak tahu bagaimana puisi ini berakhir,
sebab cintaku padamu tidak mengenal akhir.
Aku hanya ingin terus menulis namamu
dalam setiap hela napasku,
dalam setiap lembar takdirku.
Dan bila kelak ajal datang lebih dulu padaku,
ingatlah, di sisi kuburku ada doa
yang tidak pernah padam:
“Istriku, aku mencintaimu,
karena Allah yang mengikat kita dengan kasih-Nya.” []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *