Pengepungan Rumah Rasulullah ﷺ saat Hijrah dan Bumihangus Gaza

7 Min Read
Foto: Freepik

Prolog: Malam yang Sama di Dua Zaman

MALAM Mekah itu dingin dan penuh rahasia. Ka’bah berdiri agung, tapi di sekitarnya ada konspirasi yang ingin merenggut nyawa seorang manusia mulia. Muhammad ﷺ, utusan Allah, yang hanya mengajak manusia menyembah Tuhan Yang Esa, kini menjadi target pembunuhan. Di Dar an-Nadwah, elit Quraisy berkumpul, wajah-wajah penuh kebencian, suara-suara yang merancang kejahatan.

Berabad-abad kemudian, malam Gaza pun sama: dingin dan penuh rahasia. Di balik langitnya yang dihiasi cahaya roket dan drone, ada rencana besar dari ruang-ruang rapat Tel Aviv, Washington, London. Gaza dikepung, bukan oleh puluhan pemuda bersenjata pedang, tapi oleh ribuan tentara reguler, armada laut, jet tempur, dan veto di PBB.

Sejarah, ternyata, gemar mengulang diri.

—

Dar an-Nadwah: Rapat yang Dihadiri Setan

Ibnu Ishaq meriwayatkan dalam as-Sirah an-Nabawiyah, bahwa pada malam menjelang hijrah, Quraisy mengadakan rapat besar di Dar an-Nadwah. Hadir di sana Abu Jahl, Abu Sufyan, Umayyah bin Khalaf, dan tokoh-tokoh lainnya.

Tiba-tiba muncul seorang kakek tua dari Najd. Mereka bertanya, “Siapa engkau, wahai syaikh?”
Ia menjawab, “Aku dari Najd. Aku datang untuk memberikan pandangan, agar keputusan kalian matang.”

Ibnu Katsir dalam al-Bidāyah wa an-Nihāyah menegaskan, lelaki itu bukan manusia biasa. Ia adalah iblis yang menyamar. Bukan kebetulan ia hadir, sebab iblis selalu ada di meja rapat kezaliman.

—

Tiga Usulan, Satu Konspirasi

Usulan pertama: “Kita ikat Muhammad, kita kurung hingga mati.”
Ditolak, karena Bani Hasyim pasti menuntut.

Usulan kedua: “Kita usir dia dari Mekah.”
Ditolak, karena bisa saja dia menemukan pengikut lebih kuat di luar.

Maka Abu Jahl bicara: “Ambillah seorang pemuda dari tiap kabilah, lengkap dengan pedang. Serentak, malam ini, kita kepung rumah Muhammad, lalu bunuh dia bersama-sama. Darahnya akan ditanggung semua kabilah, sehingga Bani Hasyim tak bisa menuntut satu pihak saja.”

Iblis pun menepuk lutut: “Inilah pendapat terbaik. Peganglah itu, jangan lepaskan.”

Syekh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri menulis dalam ar-Rahiq al-Makhtum, “Rapat Dar an-Nadwah adalah puncak makar Quraisy, di mana mereka tak lagi berdebat, melainkan sepakat membunuh Rasulullah.”

—

Malam Pengepungan

Maka dipilihlah pemuda-pemuda Quraisy. Mereka mengepung rumah Rasulullah ﷺ. Pedang-pedang ditajamkan, mata mereka liar. Mereka menunggu fajar, untuk menyerbu serentak.

Namun Allah telah berfirman: “Mereka membuat makar, dan Allah membuat makar. Dan Allah adalah sebaik-baik pembuat makar.” (QS. Al-Anfal: 30)

Rasulullah ﷺ keluar dengan tenang. Beliau membaca ayat: “Dan Kami jadikan di depan mereka sekat, dan di belakang mereka sekat, lalu Kami tutup mata mereka, sehingga mereka tidak bisa melihat.” (QS. Yasin: 9)

Beliau menaburkan tanah di kepala para pengepung. Mereka terlelap dalam konspirasi, tak menyadari bahwa target mereka telah pergi. Di dalam rumah, Ali bin Abi Thalib r.a. tidur di ranjang Nabi ﷺ, menantang maut dengan keyakinan.

Maka hancurlah makar Quraisy di malam pertama.

—

Gaza: Dar an-Nadwah yang Diperbesar

Kini mari kita tengok Gaza. Apakah tidak mirip Dar an-Nadwah, hanya saja diperbesar skalanya?

Israel bersama sekutu globalnya merancang pengepungan. Gaza dipenjara dari darat, laut, dan udara. Rumah sakit dibom, sekolah dihancurkan, masjid diratakan, bahkan markas PBB pun tidak luput. Seperti Abu Jahl yang ingin melibatkan semua kabilah agar darah Nabi tak bisa dituntut, Israel melibatkan sekutu dunia agar kejahatannya seolah sah.

Profesor Rashid Khalidi, sejarawan Palestina, menyebut Gaza sebagai “the modern-day ghetto, a laboratory of siege warfare”. Sementara Ilan Pappé, sejarawan Israel, menulis: “Apa yang terjadi di Gaza bukan perang, melainkan percobaan genosida yang berulang.”

Tidakkah ini sama dengan malam Dar an-Nadwah? Sebuah bangsa sepakat, bersama iblis yang berwajah diplomasi, untuk melumat sebuah cahaya.

—

Setan di Ruang Diplomasi

Dulu iblis datang sebagai syaikh Najd. Hari ini, iblis hadir dalam bentuk lain: resolusi yang diveto, perjanjian senjata, berita yang diputarbalikkan.

Noam Chomsky menyebut kebijakan Israel sebagai “prison with no roof”—penjara tanpa atap. Bukankah ini sama dengan usulan Quraisy: mengurung Muhammad ﷺ hingga mati?

Dan ketika itu gagal, mereka memilih membunuh. Sama halnya Israel yang kini memilih bumi hangus.

—

Gaza: Ali-Ali Kecil yang Tidur di Ranjang Kebenaran

Jika Ali r.a. tidur di ranjang Rasulullah ﷺ malam itu, maka anak-anak Gaza adalah Ali-Ali kecil. Mereka tidur di bawah ancaman roket, tahu bahwa kapan saja rumah mereka bisa dihantam. Namun mereka tetap tidur dengan iman, percaya bahwa Allah tidak meninggalkan mereka.

Setiap malam Gaza adalah pengulangan malam hijrah: rumah dikepung, pedang dan misil terhunus, tapi langit tetap menyertai orang-orang yang teguh.

—

Analisis Sirah dan Sejarah

Akram Diya al-Umari menekankan, “Penentangan Quraisy bukan karena lemah argumen, melainkan karena takut kehilangan hegemoni.”

Begitu pula Israel: masalahnya bukan keamanan semata, tapi ketakutan kehilangan kendali atas tanah yang mereka klaim.

Sejarawan Karen Armstrong menulis bahwa sejarah agama selalu menunjukkan pola: penguasa menolak nabi dan suara kebenaran bukan karena isi ajaran, tapi karena ancaman terhadap struktur kekuasaan.

Maka, Dar an-Nadwah dan Gaza hanyalah dua panggung dari drama yang sama: penguasa bersekutu dengan iblis melawan cahaya.

BACA JUGA:  Bagaimana Mungkin Orang-orang Gaza yang Kelaparan Dibunuh—dan Dunia Tetap Diam?

Refleksi: Dar an-Nadwah Tak Pernah Kosong

Dar an-Nadwah masih ada hari ini. Ia bisa berupa ruang rapat militer, kantor perdana menteri, atau markas besar PBB. Di sana, strategi dirancang untuk mengepung, melumat, menghapus.

Namun sirah Nabi ﷺ mengajarkan: setan boleh hadir, makar boleh disusun, tapi sejarah tetap bergerak ke arah cahaya. Hijrah terjadi, Madinah lahir, dan Mekah akhirnya tunduk.

Apakah Gaza tidak sedang berada di ambang hijrah sejarahnya sendiri?

—

Penutup: Gaza, Cahaya yang Tak Bisa Dilumat

Malam pengepungan rumah Rasulullah ﷺ adalah malam kegagalan Quraisy. Malam pengepungan Gaza bisa jadi akan tercatat serupa: malam ketika dunia menyaksikan kezaliman global, namun juga malam ketika sejarah menyiapkan jalan baru bagi bangsa yang terzalimi.

Setan boleh datang sebagai penasihat tua atau diplomat ulung. Abu Jahl boleh bersorak, Netanyahu boleh merasa menang. Namun cahaya tidak pernah padam.

“Mereka hendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut mereka, tetapi Allah akan menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir membencinya.” (QS. Ash-Shaff: 8)

Sejarah berkata: Dar an-Nadwah kalah.
Hari ini, sejarah akan menulis lagi: Gaza pun tidak akan kalah. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *