Logika Kolonial-Pemukim Penjajah Israel: Penghancuran Melalui Senjata, Pelenyapan Demografi, Perampasan Tanah hingga Genosida

Nasrulloh Baksolahar
7 Min Read
Foto: Umar Faqih | Islampos

Luka Lama yang Terulang

DI tanah yang disebut al-Quds, setiap batu adalah saksi. Setiap pohon zaitun menanggung ingatan. Di sanalah sejarah panjang kolonialisme menemukan wajah baru: Israel. Tidak seperti negara-negara lain yang tumbuh dari rahim bangsa itu sendiri, Israel lahir dari sebuah proyek global, yang sejak awal diletakkan di atas fondasi kolonialisme pemukim (settler colonialism).

Logikanya sederhana, meski kejam: datangkan orang-orang dari luar, berikan mereka tanah, dan singkirkan penduduk asli. Inilah pola yang pernah diterapkan Eropa di Amerika, Australia, hingga Afrika Selatan. Namun yang menjadikan Israel unik adalah waktunya—lahir di abad ke-20, ketika kolonialisme klasik mestinya sudah terkubur.

—

1. Dominasi Militer: Negara yang Hidup dengan Pedang

Sejak berdirinya pada 1948, Israel memosisikan militer bukan hanya alat pertahanan, melainkan identitas eksistensial. Moshe Dayan, seorang jenderal legendaris Israel, pernah berkata: “Israel harus hidup selamanya dengan pedang di tangannya.” Pernyataan ini bukan sekadar metafora, tetapi logika negara itu sendiri.

Hampir setiap jengkal tanah yang mereka klaim didapat dari perang: Nakba 1948, Perang Enam Hari 1967, hingga agresi-agresi ke Gaza dan Lebanon. Logika kolonial-pemukim meyakini bahwa keberadaan hanya bisa dijaga dengan menciptakan ketakutan permanen. Militer menjadi bahasa sehari-hari, sekolah kehidupan, bahkan ritual nasionalisme.

Namun, seperti diingatkan Edward Said, intelektual Palestina, dominasi militer tidak pernah menyelesaikan masalah eksistensi. “Kekuatan militer,” tulisnya, “hanya bisa menundukkan tubuh, tetapi tidak pernah mampu menghapus ingatan.”

BACA JUGA: Bila Israel Runtuh, Kemana Perginya Yahudi?

2. Rekayasa Demografi: Membuat yang Minoritas Menjadi Mayoritas

Kolonialisme pemukim bukan hanya urusan senjata, tetapi juga urusan jumlah. Israel sejak awal menyadari bahwa eksistensi mereka tidak akan aman selama orang Yahudi tetap minoritas di tanah Palestina. Karena itu, proyek besar dilakukan: imigrasi massal.

Dari Eropa Timur, Rusia, Ethiopia, hingga Yaman, orang-orang Yahudi dipanggil ke tanah yang dijanjikan. Di sisi lain, bangsa Palestina dipaksa keluar melalui perang, intimidasi, dan regulasi diskriminatif. Jutaan pengungsi Palestina di Lebanon, Yordania, dan Suriah hingga kini masih terkatung-katung, tak diberi hak pulang.

Inilah wajah lain dari logika kolonial: satu etnis dilestarikan, ditumbuhkan, dipelihara; yang lain ditekan agar menyusut. Seperti yang ditulis Ilan Pappé dalam The Ethnic Cleansing of Palestine (2006), “Nakba bukan peristiwa sekali jadi, tetapi sebuah proses yang terus berlangsung. Israel dibangun bukan hanya dengan menciptakan warga, tetapi dengan menghapus warga lainnya.”

—

3. Perampasan Tanah: Membuat yang Ada Menjadi “Kosong”

Tanah adalah medan utama kolonialisme. Dari deklarasi Balfour (1917) hingga kebijakan land acquisition modern, prinsipnya sama: buatlah tanah kosong, lalu klaim sebagai tanah nenek moyang.

Pemukiman ilegal di Tepi Barat hari ini adalah wajah paling telanjang dari logika itu. Jalan khusus pemukim, tembok pemisah yang membelah desa-desa Palestina, hingga penyitaan rumah di Sheikh Jarrah bukan sekadar soal sengketa properti. Itu adalah strategi eksistensial: tanpa tanah, bangsa Palestina kehilangan masa depan.

Sejarawan Patrick Wolfe menyebut kolonialisme pemukim sebagai proyek yang “bukan sekadar mengeksploitasi penduduk asli, tetapi menggantikan mereka.” Dalam kerangka inilah, tanah tidak sekadar sumber daya, tetapi simbol penghapusan.

—

4. Pola Historis: Dari Amerika hingga Israel

Jika ditarik garis panjang, Israel bukan anomali. Ia mengikuti pola klasik kolonialisme pemukim.

Amerika Serikat lahir dari migrasi Eropa yang mengusir penduduk asli Indian.

Australia menjadikan Aborigin minoritas di tanah mereka sendiri.

Afrika Selatan menginstitusikan apartheid untuk menjaga dominasi minoritas kulit putih.

Israel memadukan semuanya: apartheid, etnik cleansing, sekaligus rekayasa demografi. Bedanya, proyek ini dilakukan di tengah dunia yang sudah menolak kolonialisme. Inilah yang menjadikan Israel paradoks: sebuah negara modern yang berdiri di atas logika kuno yang mestinya sudah usang.

—

5. Kontradiksi dari Dalam

Namun, logika kolonial-pemukim menyimpan kontradiksi yang perlahan menggrogoti dirinya sendiri.

Dominasi militer melahirkan lingkaran kekerasan tak berujung, yang justru memperkuat legitimasi perlawanan Palestina.

Rekayasa demografi menciptakan ketegangan internal: Yahudi Ashkenazi mendominasi, sementara Yahudi Mizrahi dan Etiopia mengalami diskriminasi.

Perampasan tanah tidak pernah mampu menghapus ikatan emosional bangsa Palestina pada tanah mereka. Setiap batu, setiap sumur, setiap pohon zaitun adalah ingatan dan identitas.

Sebagaimana Al-Qur’an mengingatkan tentang kaum Fir’aun yang sombong dengan kekuasaan dan istananya, “Maka mereka Kami tenggelamkan di laut karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka adalah orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’raf: 136). Kuasa yang dibangun di atas kezaliman, cepat atau lambat akan runtuh.

—

6. Dimensi Spiritual: Antara Tanah dan Amanah

Al-Qur’an tidak pernah menutup mata terhadap logika kolonial. Ia mencatat bagaimana kaum-kaum terdahulu yang menumpuk kekuasaan dengan menindas akhirnya dihancurkan. Sebaliknya, tanah selalu disebut sebagai amanah yang harus dikelola dengan adil.

Dalam surah Al-Anbiya (21:105), Allah berfirman:
“Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur, sesudah (tertulis) di dalam Lauh Mahfuzh: ‘Bumi ini akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang saleh.’”

Ayat ini menegaskan bahwa warisan tanah bukan milik pedang atau demografi, melainkan milik mereka yang memelihara amanah dan keadilan. Logika kolonial-pemukim, dengan seluruh kerakusannya, bertentangan langsung dengan prinsip ini.

—

7. Refleksi Historis: Kolonialisme yang Runtuh

Sejarah memberi kita banyak pelajaran.

Apartheid Afrika Selatan runtuh meski bertahan puluhan tahun dengan sistem militer dan hukum diskriminatif.

Kolonialisme Prancis di Aljazair akhirnya tumbang meski diperkuat ratusan ribu tentara.

Imperialisme Eropa di Asia dan Afrika hancur karena daya tahan perlawanan rakyat.

Israel hari ini mungkin masih kuat, tetapi ia berjalan di jalur sejarah yang sama: mempertahankan proyek kolonial yang semakin kehilangan legitimasi moral di mata dunia.

BACA JUGA: Israel Mulai Ditinggalkan Rakyat Amerika: Jeritan Surat Charlie Kirk hingga Kampus

Epilog: Dua Logika yang Bertarung

Pertarungan di tanah Palestina bukan sekadar soal wilayah, tetapi soal dua logika sejarah.

Di satu sisi, logika kolonial-pemukim: senjata, demografi, dan perampasan tanah.

Di sisi lain, logika perlawanan: ingatan, identitas, dan iman.

Selama logika kolonial hanya tahu membangun dengan menghapus yang lain, ia akan terus berhadapan dengan daya tahan bangsa yang menolak dihapus.

Seperti kata Jalaluddin Rumi: “Apa yang dibangun di atas ketidakadilan adalah rumah di tepi jurang; ia tampak megah, tetapi runtuh dengan sendirinya.”

Maka, Israel bukan hanya sedang berperang melawan Palestina, tetapi juga melawan hukum sejarah dan hukum Ilahi: bahwa tanah pada akhirnya akan diwarisi oleh mereka yang adil. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *