“Kami menandatangani perjanjian, lalu jet tempur datang malam itu juga.”
— seorang negosiator Gaza, dikutip oleh The Guardian, 2014.
—
1. Pendahuluan: Meja yang Tak Pernah Dingin
Ada sesuatu yang ganjil dalam sejarah Palestina modern:
meja perundingan selalu hangat, tapi perdamaian selalu dingin.
Setiap kali dentuman berhenti, dunia menatap Kairo, Doha, atau Jenewa. Di sana, para mediator mengatur mikrofon, membuka peta, menyiapkan daftar nama tahanan dan sandera, dan menunggu utusan Hamas memasuki ruangan dengan wajah tegang dan doa di dada. Di sisi lain, Israel datang dengan berkas tebal, penuh pasal keamanan dan daftar ancaman. Di tengahnya, duduk Mesir, Qatar, Turki, dan PBB — menjadi jembatan yang rapuh antara dua tebing yang sudah lama retak.
Perundingan selalu dimulai dengan kalimat yang sama:
“Kita harus menghentikan darah yang tumpah.”
Namun ia hampir selalu berakhir dengan kalimat yang juga sama:
“Kami perlu waktu untuk berkonsultasi.”
—
2. Bayangan Lama dari Oslo: PLO dan Jejak yang Ditinggalkan
Sebelum Hamas menjadi bahasa politik perlawanan, ada PLO — dan ada Yasser Arafat, dengan kepercayaannya bahwa pena bisa menandingi senjata. Oslo (1993) menandai momen itu: Arafat berjabat tangan dengan Yitzhak Rabin di halaman Gedung Putih, disaksikan Bill Clinton. Dunia bersorak, tapi rakyat di Gaza dan Tepi Barat diam dengan hati ragu.
Perjanjian itu menjanjikan negara, tapi justru memperdalam penjajahan dalam bentuk baru: checkpoint, blokade, dan kontrol administratif.
Sejarawan Palestina Rashid Khalidi menulis, “Oslo memberi Israel hak kontrol permanen dalam bentuk negosiasi tanpa akhir.”
Hamas muncul sebagai kritik terhadap ilusi itu.
Jika Arafat berunding di hotel dan aula diplomatik, Hamas berunding di bawah tanah — di terowongan, di mushala, di ruang keluarga yang tinggal puing-puing. Mereka membawa pesan lain: bahwa perlawanan tidak selalu berarti penolakan diplomasi, melainkan bentuk negosiasi dengan bahasa penderitaan.
—
3. 2008–2009: Gencatan Pertama yang Retak
Desember 2008: udara Gaza dipenuhi suara sirine dan bom fosfor. Israel meluncurkan operasi Cast Lead setelah menuduh Hamas menembakkan roket. Mesir mencoba menengahi gencatan, dan utusan datang dengan wajah letih. Reuters melaporkan: “Kairo mengundang kedua pihak untuk mengakhiri siklus kematian.”
Tapi gencatan itu tak lebih dari jeda napas di tengah badai.
Hamas menuduh Israel melanggar perjanjian dengan tetap menutup perbatasan Rafah dan menahan logistik. Israel menuduh Hamas melanjutkan serangan kecil.
Dalam seminggu, meja perundingan kosong lagi, dan Gaza menjadi kuburan massal 1.300 jiwa.
Alastair Crooke, mantan diplomat Inggris yang lama mempelajari Hamas, menulis dalam Prospect Magazine:
“Gencatan selalu gagal bukan karena Hamas ingin perang, tapi karena tidak ada yang memberi jaminan atas hidup setelahnya. Mereka berperang bukan karena ingin mati, tapi karena tidak diberi ruang untuk hidup.”
—
4. 2011: Gilad Shalit dan Negosiasi yang Menyentuh Urat Kemanusiaan
Satu-satunya negosiasi yang benar-benar “berhasil” antara Hamas dan Israel terjadi bukan karena politik, tapi karena manusia. Gilad Shalit, prajurit muda Israel yang ditawan sejak 2006, dibebaskan pada Oktober 2011 setelah lima tahun penyanderaan. Sebagai gantinya, lebih dari seribu tahanan Palestina dilepaskan.
Kairo menjadi panggungnya. Qatar dan Jerman menjadi mediator.
Media internasional menyiarkan gambar Shalit diserahkan oleh pejuang Hamas — pucat, gemetar — sementara di Tepi Barat, keluarga tahanan Palestina menangis haru.
Kesepakatan itu menunjukkan sesuatu: bahwa di balik perang, ada perundingan yang mungkin.
Namun, seperti kata Norman Finkelstein,
“Keberhasilan kecil itu justru menelanjangi kebenaran besar: bahwa Israel hanya mau berunding jika sesuatu miliknya ditawan, bukan jika satu bangsa ditawan.”
—
5. 2012: “Pillar of Defense” dan Bayang-Bayang Doha
November 2012, Israel melancarkan operasi Pillar of Defense. Lagi-lagi, Mesir — di bawah Presiden Mohamed Morsi kala itu — menjadi mediator. Bersama Qatar, mereka mengatur gencatan dalam hitungan hari.
BBC menulis, “Untuk pertama kalinya sejak lama, Hamas terlihat sebagai pihak yang dapat bernegosiasi secara politik, bukan hanya militer.”
Qatar mengirim bantuan, Mesir membuka Rafah sebentar, dan Hamas mengklaim “kemenangan strategis”: bukan karena menaklukkan, tapi karena diakui di meja diplomasi.
Namun di Tel Aviv, Benjamin Netanyahu melihat lain:
“Selama Hamas berkuasa, tidak ada perdamaian jangka panjang.”
Kata-kata itu menjadi doktrin Israel berikutnya: bernegosiasi boleh, tapi hanya untuk jeda — bukan untuk perubahan.
—
6. 2014: Protective Edge — Diplomasi di Atas Puing
Musim panas 2014. Gaza luluh lantak. 2.200 orang tewas, lebih dari 10.000 luka-luka. Lagi-lagi, Mesir, Qatar, dan AS menggelar meja mediasi di Kairo.
Perwakilan Hamas datang diam-diam. Israel datang lewat utusan keamanan.
Kedua belah pihak bicara lewat kertas, bukan tatap muka.
Seorang pejabat Mesir, dikutip Reuters, berkata lirih:
“Kami sudah menyusun tujuh draf perjanjian. Tapi setiap draf hanyalah kertas sebelum darah berhenti.”
PBB mencoba mengirim pengawas, tapi Israel menolak.
Kementerian luar negeri Qatar menawarkan jaminan dana rekonstruksi, tapi dibatalkan.
Akhirnya gencatan tercapai tanpa perjanjian politik.
Gaza tetap blokade, dan para negosiator pulang dengan tangan hampa.
Azmi Bishara, pemikir Arab modern, menulis refleksi getir:
“Ketika diplomasi kehilangan arah moralnya, perundingan berubah menjadi ritual pengulangan kesia-siaan.”
—
7. 2021: Gencatan 11 Hari — Doa yang Tidak Selesai
Mei 2021, setelah bentrokan di Masjid Al-Aqsa dan pengusiran keluarga Palestina di Sheikh Jarrah, Gaza kembali terbakar. Dalam sebelas hari, lebih dari 250 orang terbunuh.
Mesir dan Qatar kembali di meja depan.
Presiden Joe Biden menelpon Abdel Fattah al-Sisi, meminta gencatan segera.
Dan pada hari ke-11, suara bom berhenti.
Di Gaza, keluarga keluar dari reruntuhan, membawa anak-anak mereka kembali ke rumah yang sudah tak berbentuk.
Al Jazeera menulis headline: “Palestinians return home — to nothing.”
Namun di mata seorang ibu yang memungut batu di depan rumahnya, “kembali” berarti menang.
Di sinilah perbedaan paling mendasar antara diplomasi Israel dan Palestina:
bagi yang satu, kemenangan berarti keamanan; bagi yang lain, kemenangan berarti kembali.
—
8. 2023–2025: Perundingan Pasca-7 Oktober — Diplomasi di Tengah Abu
Tragedi 7 Oktober 2023 membuka babak paling getir dalam sejarah konflik modern.
Ketika Hamas menyerbu perbatasan dan menawan ratusan sandera, dunia menyaksikan dengan ngeri — dan Israel membalas dengan operasi militer paling brutal dalam sejarah modern Gaza.
Lalu meja perundingan kembali dibuka.
Kali ini di Doha, di Kairo, dan kadang di Paris.
Qatar menjadi saluran utama antara Hamas dan dunia luar.
Mesir memegang kunci Rafah.
Turki mengirim utusan.
AS menekan dari belakang layar.
Dan PBB menjadi saksi atas laporan kemanusiaan yang menyesakkan.
Negosiasi sandera berjalan seperti labirin: setiap nama di daftar adalah pertaruhan hidup-mati. Hamas menuntut pembebasan tahanan seumur hidup seperti Marwan Barghouti. Israel menolak. Mediator berputar tanpa akhir.
Namun di tengah kebuntuan, ada secercah harapan.
Pada akhir 2024, beberapa gelombang pertukaran tahanan berhasil dilakukan. Anak-anak dibebaskan, jenazah dikembalikan. Tapi perang tetap berlangsung — dan meja perundingan menjadi satu-satunya tempat di mana Gaza masih punya suara.
—
9. Hamas dan PLO: Dua Bahasa, Satu Luka
Apa bedanya Hamas dengan PLO di era Arafat?
PLO berbicara dengan bahasa internasional: pasal, peta, dan janji negara.
Hamas berbicara dengan bahasa tanah, martabat, dan keimanan.
Jika Arafat berkata, “Kami ingin negara merdeka,”
maka Hamas berkata, “Kami ingin hidup tanpa dijajah.”
Namun perbedaan bahasa itu bukanlah penolakan terhadap diplomasi.
Seorang analis dari Al Jazeera Centre for Studies menulis:
“Hamas tidak menolak negosiasi. Mereka hanya menolak menyerah tanpa jaminan keadilan.”
Sementara itu, bagi Israel dan sebagian dunia Barat, Hamas tetap dicap “non-state actor” — bukan wakil sah bangsa Palestina.
Ironinya, di lapangan, rakyat Gaza justru lebih percaya pada negosiator yang berbicara dengan darahnya sendiri ketimbang politisi yang duduk di Ramallah dengan izin militer Israel.
—
10. Para Mediator: Di Antara Kairo dan Doha
Dalam setiap perundingan, nama-nama yang sama selalu muncul:
Mesir, Qatar, Turki, Amerika Serikat, dan PBB.
Mesir — mediator klasik, punya hubungan intelijen dengan kedua belah pihak.
Qatar — kanal komunikasi langsung, sering menyalurkan dana bantuan.
Turki — suara moral dan politis yang berani.
Amerika Serikat — penjamin politik, tapi juga pelindung Israel.
PBB — saksi tanpa gigi, namun punya catatan moral yang panjang.
Seorang diplomat Mesir pernah berkata kepada Reuters:
“Kami selalu berusaha adil, tapi di ruangan ini tidak ada pihak yang benar-benar bebas.”
Dan memang demikian: setiap mediator membawa kepentingannya.
Mesir ingin stabilitas perbatasan Sinai; AS ingin menjaga hegemoni Israel.
Hanya Palestina yang datang tanpa kekuasaan — hanya dengan penderitaan.
—
11. Mengapa Gagal Berulang?
Tiga hal yang selalu menghantui setiap negosiasi:
1. Tidak ada mekanisme pengawasan yang independen.
Setiap pelanggaran gencatan hanya berakhir dengan saling tuduh.
2. Jaminan politik yang lemah.
AS memberi tekanan, tapi tidak ada sanksi bagi Israel ketika melanggar.
3. Akar konflik tidak disentuh.
Blokade, pendudukan, dan status Gaza tetap tidak dibahas secara struktural.
Sejarawan Rashid Khalidi menulis,
“Setiap gencatan tanpa keadilan hanyalah penundaan luka.”
—
12. Refleksi: Negosiasi sebagai Ibadah Kesabaran
Dalam bahasa perlawanan Palestina, diplomasi bukan sekadar strategi — ia adalah bentuk sabar yang aktif.
Sabar yang menulis di atas luka.
Sabar yang percaya bahwa menunggu bukan berarti menyerah.
Setiap kali Hamas duduk di meja perundingan, dunia bertanya:
“Apakah mereka akan kompromi?”
Tapi mungkin pertanyaannya salah.
Yang benar adalah:
“Apakah dunia mau mendengar suara bangsa yang tak punya tentara, tapi terus hidup di tengah reruntuhan?”
Di Gaza, ada istilah baru yang lahir dari generasi perang:
“sabar yang berunding.”
Ia bukan sabar pasif, melainkan keteguhan untuk terus hadir di meja itu — bahkan ketika lawanmu tak pernah jujur.
BACA JUGA: 20 Poin Rencana Donald Trump: Mengapa Sulit Memberikan Kemerdekaan pada Rakyat Palestina?
13. Penutup: Meja Harapan yang Tak Pernah Kosong
Dari tahun 2008 hingga 2025, dunia sudah menyaksikan puluhan gencatan dan perundingan.
Sebagian berlangsung di ruangan mewah dengan lampu kristal, sebagian di ruang bawah tanah dengan cahaya lilin.
Tapi di antara semuanya, ada satu kesamaan: rakyat Palestina selalu menunggu hasilnya di bawah langit terbuka — bukan di gedung parlemen.
Mungkin itulah sebabnya, meski setiap gencatan rapuh, setiap jeda singkat, dan setiap perundingan penuh kebohongan, rakyat Palestina tetap optimis.
Karena bagi mereka, bukan tanda tangan yang penting, tapi kenyataan bahwa dunia masih mau duduk di meja itu — dan mengingat bahwa mereka ada.
“Kami akan terus berunding,” kata seorang negosiator Hamas kepada Al Jazeera, “karena jika kami berhenti, kami berhenti menjadi manusia.”
Dan mungkin, di situlah makna terdalam dari diplomasi Gaza:
bukan tentang menang atau kalah,
tapi tentang menjaga martabat untuk tetap berbicara
— bahkan ketika dunia sudah berhenti mendengar. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE
