Kesepakatan Faksi-Faksi Palestina: Seperti Upaya Ali bin Abi Thalib dan Hasan bin Ali

Nasrulloh Baksolahar
6 Min Read
Foto: Freepik

DUDUKLAH sejenak di pinggir tenda perundingan yang remang. Di tengah angin yang membawa debu masa lalu dan harapan, para pemimpin Palestina berkumpul. Di satu sisi, suara rakyat yang memilih; di sisi lain, layar diplomasi global yang penuh warna. Di sanalah luka lama berpadu dengan janji baru — dan di situlah muncul momen penting: kemenangan demokrasi yang terlupakan, kini menuntun jalan baru menuju persatuan nasional.

—

Kemenangan Demokrasi 2006 — Sebuah Proklamasi Rakyat, Namun Terabaikan

Pada 25 Januari 2006, rakyat Palestina di Tepi Barat dan Jalur Gaza menyalurkan suara mereka dalam pemilu legislatif. Hasilnya mengguncang tatanan lama: Hamas memenangkan 74 dari 132 kursi, mengungguli Fatah yang selama puluhan tahun mendominasi.

Para pengamat internasional menilainya sebagai salah satu pemilu paling “bebas dan adil” di bawah pendudukan. Namun suara rakyat itu segera dibungkam oleh mekanisme global yang menolak kenyataan baru.

Barat — terutama Amerika Serikat dan Uni Eropa — membekukan bantuan, menolak hasil demokrasi yang tidak sesuai dengan kepentingannya. Israel menahan pajak, memperketat blokade Gaza, dan memicu krisis kemanusiaan. Koalisi yang baru tumbuh pun runtuh di bawah tekanan internasional dan intrik internal.

Seorang pengamat menulis getir:

“Hamas memenangkan suara rakyat, tetapi Palestina kehilangan legitimasi kolektif — bukan karena rakyat menolak demokrasi, tetapi karena dunia menolak hasilnya.”

Dari sinilah benih perpecahan tumbuh — bukan karena rakyat berbeda jalan, tetapi karena sistem global menolak mendengar suara yang lahir dari penderitaan panjang.

—

Dari Demokrasi ke Fragmentasi

Setelah 2006, Palestina terbelah. Hamas menguasai Gaza, sementara Fatah mempertahankan Tepi Barat di bawah payung Otoritas Palestina.

Konflik internal yang pecah pada 2007 menumpahkan darah sesama anak negeri. Gaza terkepung, Ramallah terisolasi, dan suara rakyat kembali terkubur di reruntuhan politik.

Seperti halnya dalam sejarah Islam, perpecahan internal lebih mematikan daripada serangan musuh di luar.
Sebagaimana Ali bin Abi Thalib menanggung luka umat yang terpecah, Palestina pun menghadapi krisis serupa: antara idealisme dan realitas, antara kebenaran dan kekuasaan.

Dari fragmen itu, tumbuh kesadaran baru: persatuan bukan pilihan moral semata, melainkan kebutuhan eksistensial — jika bangsa ini masih ingin hidup di peta sejarah.

—

Rekonsiliasi Baru — Dari Mekkah ke Beijing, Menuju Kairo 2025

Perjalanan rekonsiliasi Palestina adalah perjalanan yang panjang dan melelahkan. Dari Perjanjian Mekkah 2007, Doha 2012, Kairo 2017, Aljir 2022, hingga Beijing 2024, setiap pertemuan membawa harapan dan kekecewaan.

Namun pertemuan Beijing 2024 menjadi penanda perubahan besar:
14 faksi Palestina menandatangani deklarasi persatuan nasional yang menegaskan kembali PLO sebagai wakil sah tunggal rakyat Palestina, merancang pemerintahan teknokrat pasca-perang Gaza, dan mengatur kerangka rekonstruksi nasional.

Poros diplomasi pun bergeser: dari Washington ke Beijing, dari logika hegemoni ke logika mediasi multipolar.

Puncaknya, Kairo 2025 menjadi tonggak yang lebih konkret:

Pembentukan pemerintahan teknokrat transisi selama dua tahun.

Persiapan pemilu umum serentak di Gaza dan Tepi Barat.

Pembentukan Komite Rekonstruksi Gaza di bawah supervisi gabungan PLO dan PBB.

Kesepakatan penghapusan narasi “otoritas ganda” dan pengakuan bersama terhadap keabsahan politik PLO.

Langkah ini, bagi banyak pengamat, menjadi momen “Hasani” dalam sejarah Palestina — menyerahkan ego politik demi menjaga kelangsungan bangsa.

—

Analogi Ali & Hasan — Pelajaran untuk Palestina

Dalam sejarah Islam, dua tokoh agung menuntun kita pada pelajaran abadi:

Ali bin Abi Thalib, yang berjuang menegakkan keadilan di tengah fitnah umat.

Hasan bin Ali, yang rela menanggalkan kekuasaan demi mencegah perpecahan dan meneguhkan persatuan.

Analogi itu kini hidup dalam dinamika Palestina:
Ketika faksi-faksi mulai menyadari bahwa kekuasaan tanpa persatuan hanyalah kemenangan yang kosong, dan persatuan tanpa keadilan hanyalah kompromi yang rapuh.

PLO yang kini muncul kembali sebagai wadah representatif tunggal adalah upaya untuk menyeimbangkan keduanya — menghidupkan kembali roh perjuangan rakyat di atas puing-puing politik faksi.

BACA JUGA: Penyiksaan hingga Mutilasi di Penjara Israel

Refleksi Akhir — Dari Luka ke Harapan yang Nyata

Pemilu 2006 adalah demokrasi yang dicuri. Gaza adalah luka yang dibiarkan terbuka. Tapi Beijing dan Kairo adalah tanda bahwa luka itu mulai dijahit.

Dalam ruang diplomasi yang kini tidak lagi dikontrol penuh oleh Barat, Palestina menulis bab baru: politik kesetaraan.
Persatuan kini bukan sekadar seruan moral, tetapi strategi geopolitik — karena hanya bangsa yang bersatu yang bisa menegosiasikan kemerdekaannya.

“Apakah demokrasi kita akan terus ditulis lalu dibuang?”
“Apakah persatuan hanya menjadi slogan di tengah reruntuhan?”
“Ataukah kita berani, seperti Ali dan Hasan, menukar ego politik dengan kelangsungan umat?”

Sejarah memberi jawaban:
Demokrasi yang diabaikan adalah luka, tetapi persatuan yang dibangun adalah penyembuh.
Dan ketika dunia mulai berpaling ke arah baru, Palestina juga belajar — bahwa kemerdekaan sejati bukanlah hadiah dari luar, tetapi hasil dari kesepakatan yang lahir dari dalam. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *