“Ya Rabku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang-pun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi.” (QS. Shad: 35)
AYAT ini adalah potongan dari doa mulia Nabi Sulaiman ‘alaihis salam — seorang Nabi yang tidak hanya diberi ilmu dan kenabian, tapi juga kekuasaan yang melampaui batas logika manusia. Kekayaannya bukan sekadar melimpah, tetapi juga unik: ia dapat berbicara dengan hewan, memerintah jin, dan menguasai angin. Semua itu bukan hasil ambisi dunia, melainkan jawaban atas doa tulus yang dipanjatkan dengan penuh penghambaan.
Makna Doa Nabi Sulaiman
Kalimat “anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang pun sesudahku” telah menjadi bahan tafsir di kalangan ulama. Ada dua makna utama yang dijelaskan para ahli tafsir:
Bahwa Sulaiman memohon agar tak ada seorang pun yang mampu menggulingkan kekuasaannya hingga ia wafat.
Bahwa beliau memohon agar diberi kerajaan yang tidak layak dimiliki siapa pun setelahnya.
Al-Hafidz Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya (7/70) menegaskan bahwa pendapat kedua lebih kuat. Beliau menulis:
“Yang benar, Sulaiman memohon kepada Allah kerajaan yang tidak boleh dimiliki oleh manusia siapa pun setelah beliau.”
Maka, kekuasaan Nabi Sulaiman adalah spesial, tidak terulang, dan tidak bisa ditiru. Ia adalah mukjizat, bukan hasil usaha manusia biasa.
Keteladanan dari Rasulullah ﷺ
Bahkan Rasulullah ﷺ sendiri menghormati keistimewaan doa itu. Dalam sebuah riwayat sahih (HR. Bukhari 461 & Muslim 541), beliau bersabda:
“Tadi malam ada jin ifrit menampakkan diri kepadaku untuk mengganggu shalatku. Allah memberiku kemampuan untuk memegangnya. Aku ingin mengikatnya di salah satu tiang masjid, agar kalian semua dapat melihatnya di pagi hari. Namun aku teringat doa saudaraku Sulaiman, lalu aku melepaskannya dalam keadaan terhina.”
Nabi ﷺ tidak mau melampaui doa Nabi Sulaiman, sebab beliau tahu bahwa menguasai jin adalah bagian dari mukjizat khusus Sulaiman. Inilah bentuk adab para Nabi terhadap satu sama lain — rasa hormat, pengakuan terhadap batas, dan pemahaman bahwa setiap karunia memiliki konteksnya masing-masing.
Doa Mukjizat yang Tak Dapat Ditiru
Tidak semua doa para Nabi ditujukan untuk umatnya agar ditiru secara literal. Ada doa-doa yang termasuk bagian dari mukjizat, sehingga hanya berlaku bagi mereka. Seperti:
Doa Nabi Isa yang memohon hidangan turun dari langit (QS. Al-Maidah: 114).
Doa Nabi Musa yang ingin melihat langsung Allah (QS. Al-A’raf: 143).
Doa Nabi Ibrahim yang meminta diperlihatkan bagaimana Allah menghidupkan yang mati (QS. Al-Baqarah: 260).
Dan doa Nabi Sulaiman, yang memohon kerajaan tak tertandingi (QS. Shad: 35).
Doa-doa ini bukan sekadar permintaan pribadi, melainkan penegasan kekuasaan dan kebesaran Allah di hadapan umat manusia.
Hikmah untuk Kita
Meski kita tidak boleh meniru doa Nabi Sulaiman secara harfiah, kita boleh meneladani semangatnya: meminta ampunan, memohon karunia, dan menjadikan kekuasaan atau harta sebagai sarana untuk berbuat baik.
Sebagaimana perkataan Imam Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah:
“Dunia ini adalah kendaraan bagi orang beriman. Ia menungganginya untuk menuju akhirat.”
Dan Imam Sufyan Ats-Tsauri juga berkata:
“Harta di tangan orang shalih adalah senjata yang tajam. Ia menggunakannya untuk menegakkan kebenaran dan menolak kebatilan.”
Maka, jika seseorang berdoa agar Allah memberinya rezeki, kekuasaan, atau jabatan — niatnya harus seperti niat para Nabi: bukan untuk keangkuhan, melainkan untuk kemaslahatan dan dakwah.
BACA JUGA: Doa Tertolak karena 7 Hal Ini
Kesimpulan
Doa Nabi Sulaiman adalah doa penuh makna: ia dimulai dengan permohonan ampun, lalu diikuti dengan permintaan besar. Ini mengajarkan bahwa ampunan harus selalu lebih dahulu daripada harapan dunia.
Kekuasaan, kekayaan, dan kemuliaan yang dimiliki Nabi Sulaiman bukan tujuan, melainkan amanah dan ujian.
Dan bagi kita, hikmahnya jelas:
Mintalah kepada Allah, tapi jangan meminta sesuatu yang menjadikan kita lupa bahwa semua hanyalah titipan.
Seperti kata Umar bin Abdul Aziz rahimahullah:
“Setiap nikmat yang tidak mendekatkanmu kepada Allah, sejatinya adalah musibah.”
Allahu a’lam bish-shawab.
Semoga kita diberi rezeki yang barakah, kekuasaan atas diri sendiri, dan hati yang tunduk kepada Rabb semesta alam. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE
