ANGIN sore menyapu lembut halaman rumah yang sepi. Di bawah langit yang separuh merah, seorang ibu menatap puncak pohon di depan rumahnya dengan mata yang basah. Di sana, anak lelakinya memanjat, bukan karena ingin bermain atau mencari buah, tetapi karena ingin membuktikan sesuatu kepada Tuhannya.
“Kalau aku tidak mau makan, apa Allah bisa membuatku makan?” katanya dengan nada menantang, seperti seseorang yang sedang berperang dengan bayangan sendiri.
Sang ibu tidak membalas dengan amarah. Ia hanya menyiapkan sepiring nasi hangat, lauk kesukaannya, dan meletakkannya di bawah pohon. “Kalau kau lapar, Nak, Ibu sudah siapkan,” ucapnya pelan, suaranya nyaris tenggelam dalam desir dedaunan.
BACA JUGA: Amplop Titipan Ustad
Waktu berlalu pelan. Senja memudar menjadi malam. Bintang-bintang muncul seperti mata-mata yang menyaksikan kesombongan kecil manusia di bumi. Pemuda itu masih di atas pohon. Dingin mulai menggigit, tapi ia tetap bertahan. Ia yakin, lapar ini adalah bukti bahwa ia berkuasa atas dirinya sendiri. Bahwa kehendaknya bisa menandingi takdir.
Lalu takdir datang — dengan cara yang tak pernah ia duga.
Di jalanan yang sepi, langkah-langkah kasar terdengar. Sekelompok perampok lewat, wajah mereka buram oleh dosa dan gelap malam. Mereka berhenti ketika melihat sepiring makanan di bawah pohon. “Siapa yang menaruh ini?” tanya salah satu dengan nada curiga. “Mungkin racun,” jawab yang lain.
Mata mereka kemudian menatap ke atas — ke arah pemuda yang bersembunyi di antara cabang. “Hei! Kau di atas sana! Turun!”
Ketakutan melanda. Pemuda itu turun dengan gemetar. Di hadapan para perampok, ia seperti seekor burung kecil yang kehilangan sayap. “Makan makanan itu,” perintah mereka.
Ia menolak. Ia ingin mempertahankan tantangannya. Tapi tangan-tangan kasar itu memaksanya. Satu pukulan mendarat di pipinya, satu lagi di perutnya. Ia menunduk, menatap makanan yang kini terasa seperti ujian paling pahit dalam hidupnya.
Lalu, dengan air mata yang jatuh bersama nasi yang masuk ke mulutnya, ia memakannya. Satu suap, dua suap — dan para perampok itu tertawa. Mereka pergi setelah tahu makanan itu tak beracun.
Di bawah pohon yang dingin, pemuda itu terduduk lemah. Nafasnya berat. Ia menatap langit.
Dan di antara rasa malu, perih, dan sisa rasa asin air mata, ia berbisik lirih:
“Ya Allah… Engkau memaksaku makan tanpa aku mau. Engkau Maha Menguasai, sementara aku hanya makhluk yang dikuasai.”
BACA JUGA: 9 Renungan: Dunia yang Melenakan Ini
Ia pulang dengan langkah gontai, mendapati ibunya tertidur di beranda, menunggu dengan sabar. Tapi ketika ia mencoba membangunkan, tubuh itu sudah dingin. Dalam dekapan kasih yang tak pernah pudar, ibunya telah kembali kepada Sang Pengatur segalanya.
Barulah pemuda itu benar-benar lapar — bukan karena perutnya kosong, tapi karena hatinya kehilangan sumber cinta yang selama ini menuntunnya kepada Allah.
Dan di bawah pohon yang menyaksikan segalanya, ia bersujud sambil terisak: “Ternyata bukan aku yang menantang Allah, tapi Allah yang sedang mengajariku siapa yang sesungguhnya berkuasa.” []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE
