Strategi Bumi Hangus Mongol, Apakah Israel Memiliki Daya Tahan untuk Terus Berperang?

10 Min Read
Foto: Umar Faqih | Islampos

“Bangsa yang membakar dunia agar berkuasa, akhirnya terbakar oleh apinya sendiri.”

Ketika Dunia Ditaklukkan dengan Ketakutan

Sejarawan besar Ibn al-Athir menulis dengan gemetar ketika mendengar pasukan Mongol datang:

“Aku ingin berhenti menulis tentang bencana ini, karena betapa pahitnya kisah yang terjadi. Seandainya ibu melahirkan anaknya tanpa mendengar nama Mongol, itu adalah kebahagiaan.”

Itulah gambaran paling jujur dari abad ke-13—zaman ketika dunia seperti kehilangan arah karena satu bangsa yang menganggap kehancuran adalah jalan menuju ketenangan.

Ketika Genghis Khan membangun kekaisarannya, ia memahami satu hukum perang yang brutal:

“Orang yang takut akan lebih patuh daripada yang kalah.”

Maka strategi Mongol bukan sekadar menaklukkan, tapi menghapus jejak kehidupan.
Kota-kota besar di Asia Tengah seperti Bukhara, Samarkand, dan Nishapur dibumihanguskan. Sungai berubah merah oleh darah dan tinta dari perpustakaan yang dibakar.
Mereka menciptakan kekaisaran seluas benua hanya dalam satu generasi — dari Korea hingga Eropa Timur — dengan senjata yang paling ditakuti di dunia: teror total.

Montgomery Watt, sejarawan Barat, menyebut taktik Mongol sebagai psychological warfare pertama dalam sejarah. Mereka berperang bukan sekadar di medan fisik, tapi di dalam pikiran lawan-lawannya.

Namun di balik kejayaan itu tersembunyi racun yang pelan-pelan merusak tubuh kekaisaran sendiri: mereka menghancurkan semua yang membuat kehidupan berkelanjutan — pasar, ladang, dan hati manusia.

—

Mengapa Memilih Strategi Bumi Hangus?

Secara militer, strategi bumi hangus (scorched earth policy) memiliki logika sederhana: lenyapkan sumber daya musuh agar tidak bisa bangkit kembali.

Bagi Genghis Khan, kemenangan berarti ruang kosong tanpa perlawanan.
Setiap kota yang hancur adalah jaminan bahwa tak akan ada pemberontakan di belakang mereka.
Ia pernah berkata kepada jenderalnya:

“Biarkan tanah menjadi bisu, agar dunia tahu siapa yang berbicara.”

Dalam pandangan politik realis seperti dikemukakan Henry Kissinger berabad-abad kemudian, strategi seperti ini adalah “kemenangan tanpa masa depan.”

Kissinger menulis dalam World Order (2014):

“Kekuasaan yang memusnahkan tatanan demi mempertahankan dirinya akan kehilangan dasar yang menopangnya.”

Mongol menguasai dunia, tapi tidak menciptakan tatanan baru.
Mereka menang di setiap perang, tapi kalah dalam peradaban.

Ketika Hulagu Khan menyerbu Baghdad tahun 1258, ia menghancurkan kota itu bukan karena kebencian pribadi, tetapi karena logika politik: Baghdad adalah simbol peradaban Islam — pusat pengetahuan, spiritualitas, dan pemerintahan. Menghancurkan Baghdad berarti menghapus orientasi dunia Islam.

Namun sejarah mencatat, runtuhnya Baghdad justru menandai awal kebangkitan spiritual baru.
Darah para ulama dan tinta dari kitab-kitab yang hanyut di Sungai Tigris menjadi benih perlawanan yang tak mati.

—

Logika Kekuasaan: Kemenangan yang Mengandung Kegagalan

Ibn Khaldun, filsuf sejarah Islam, menjelaskan bahwa kekuasaan yang berdiri di atas kekerasan semata selalu bersifat sementara. Dalam Muqaddimah, ia menulis:

“Asabiyyah (solidaritas) yang lahir dari ketakutan akan cepat pudar, sedangkan yang lahir dari keyakinan akan melahirkan peradaban.”

Itulah inti kegagalan Mongol.
Mereka mengira dunia bisa dikuasai dengan pedang, padahal peradaban hanya bisa berdiri dengan nilai.

Setiap kemenangan Mongol adalah kehilangan baru:
Mereka menaklukkan Bukhara, tapi kehilangan pedagangnya.
Menaklukkan Baghdad, tapi kehilangan cendekiawannya.
Menaklukkan negeri-negeri subur, tapi meninggalkan padang tandus.

Sejarawan Inggris Arnold Toynbee menyebutnya “kemenangan steril” — kemenangan yang tidak melahirkan kehidupan.

“Mereka membangun kekaisaran yang luas, tetapi bukan peradaban. Maka, tak ada yang mewarisi Mongol selain kenangan tentang ketakutan.”

—

Dari Ketakutan ke Perlawanan

Ketika Mongol datang ke dunia Islam, mereka mengira menghadapi kekuatan militer yang sama seperti di Asia Tengah. Mereka keliru.
Mereka berhadapan dengan iman yang tak bisa dibunuh.

Kekalahan Mongol di Ain Jalut (1260) menjadi titik balik sejarah. Pasukan Mamluk Mesir di bawah Saifuddin Qutuz dan Baybars menghadapi Mongol bukan dengan jumlah, tapi dengan keyakinan.

Baybars berkata sebelum perang:

“Mereka menaklukkan bumi dengan api, kita akan menaklukkan langit dengan doa.”

Pertempuran itu menjadi simbol: ketakutan dikalahkan oleh keyakinan.

Di timur, para sufi seperti Jalaluddin Rumi menulis puisi tentang hati yang tak bisa ditaklukkan oleh pedang.

“Mereka bisa menghancurkan rumah, tapi tidak jiwa yang tinggal di dalamnya.”

Dan di dalam tubuh Mongol sendiri, perubahan mulai tumbuh. Ghazan Khan, cicit Hulagu, memeluk Islam dan membangun kembali peradaban Persia. Ironisnya, bangsa penghancur itu akhirnya tunduk pada agama yang dulu mereka perangi.

—

Mengapa Mereka Kalah?

Sejarawan militer modern, Victor Davis Hanson, menyebut kejatuhan Mongol sebagai “pola klasik kekuatan yang membakar dirinya sendiri.”
Ada empat sebab besar yang saling berkait:

1. Kehancuran sistem ekonomi dan sosial
Setiap kota yang dibakar adalah hilangnya sumber pajak dan logistik. Kekaisaran yang luas tidak punya fondasi produksi. Dalam istilah ekonomi modern, Mongol kehilangan “basis fiskal”.

2. Fragmentasi internal
Setelah Genghis Khan wafat, kekaisaran terpecah menjadi empat khanat yang bersaing satu sama lain. Tanpa ideologi pemersatu, mereka menjadi suku-suku besar yang berperang antar dirinya.

3. Asimilasi dan hilangnya identitas
Di Cina, Mongol menjadi bagian dari budaya Han. Di Persia, mereka menjadi Muslim. Di Rusia, mereka melebur ke bangsawan lokal. Mereka lenyap bukan karena dikalahkan musuh, tapi karena kehilangan bentuk dirinya sendiri.

4. Kekosongan spiritual
Kemenangan tanpa makna membuat generasi berikutnya hidup tanpa arah. Mereka mewarisi kekuasaan tanpa cita-cita, pedang tanpa misi.

“Mereka menguasai dunia tapi tak lagi tahu untuk apa.”

—

Cermin Zaman: Dari Mongol ke Israel Modern

Jika kita berpindah ke abad ke-21, pola yang sama tampak berulang — kali ini dengan wajah modern.

Israel, dalam pandangan banyak pakar geopolitik seperti John Mearsheimer dan Stephen Walt, mempraktikkan strategi yang mirip dengan “bumi hangus”:
menghancurkan infrastruktur, mengebom rumah, menutup jalur ekonomi, dan menebar ketakutan agar rakyat Palestina menyerah.

Tetapi sebagaimana Mongol, Israel pun terperangkap dalam paradoks yang sama:

Setiap kemenangan militernya melahirkan perlawanan baru.

Kebijakan “memusnahkan Gaza” justru melahirkan generasi baru pejuang, sebagaimana penghancuran Baghdad melahirkan ulama dan penyair sufi yang menghidupkan kembali ruh Islam.

Sejarawan militer Martin van Creveld, profesor di Universitas Ibrani Yerusalem, menulis dengan jujur:

“Israel tidak bisa menang dalam perang yang harus dimenangkannya, dan tidak bisa berhenti dalam perang yang tak boleh berakhir.”

Dengan kata lain, strategi bumi hangus membuat Israel tak pernah bisa berhenti berperang, karena eksistensinya bergantung pada keadaan perang itu sendiri.

Namun, seperti Mongol, strategi itu berbiaya sangat mahal — bukan hanya ekonomi, tetapi juga moral dan spiritual.

Menurut laporan Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), Israel menghabiskan lebih dari 70 miliar dolar untuk operasi militer sejak 2023 di Gaza.
Namun yang paling berat adalah biaya legitimasi: dunia mulai menolak narasi keamanan mereka, dan simpati global berbalik ke arah Palestina.

“Mereka menang dalam teknologi, tapi kalah dalam nurani.”

—

Mengapa Strategi Ini Selalu Gagal?

Karena pada dasarnya, strategi bumi hangus memerangi sesuatu yang tak bisa dibakar: makna dan keyakinan.

Genghis Khan gagal memahami itu.
Begitu pula rezim-rezim modern yang meniru taktiknya.
Kemenangan material tidak pernah bisa menaklukkan jiwa yang yakin pada kebenaran.

Arnold Toynbee menulis:

“Peradaban tidak mati karena dibunuh, tetapi karena bunuh diri moral.”

Dan inilah yang sedang menimpa kekuatan-kekuatan modern.
Israel, Amerika, dan sekutu-sekutunya bisa membakar kota, tapi tidak bisa membunuh ide tentang keadilan.
Mereka bisa menghancurkan rumah, tapi tidak bisa memadamkan cinta orang tua pada anaknya.
Mereka bisa membunuh tubuh, tapi tidak bisa membunuh ruh.

BACA JUGA:  Gema Menolak Wajib Militer: Israel Sulit Rekrut 12.000 Tentara, Padahal Terus Memperluas Front Pertempuran

Dari Abu Perang Lahir Kehidupan Baru

Ironisnya, strategi bumi hangus justru menciptakan kebalikan dari yang diinginkan: ketahanan spiritual.

Dari reruntuhan Baghdad, lahir madrasah baru dan sistem ilmu yang lebih luas.
Dari kehancuran Gaza hari ini, lahir kesadaran global bahwa kemanusiaan sedang diuji.

Karen Armstrong menulis dalam Fields of Blood:

“Setiap kekerasan yang dilakukan atas nama Tuhan atau keamanan, akhirnya menyalakan api pencarian spiritual yang lebih murni.”

Bangsa Mongol membakar dunia Islam, tapi Islam justru menjalar lebih jauh setelah itu.
Demikian pula, Israel bisa menghancurkan Gaza, tapi semangat Palestina kini menembus batas agama dan bangsa.

—

Penutup Reflektif: Api yang Membakar Diri Sendiri

Mongol mengira mereka bisa menaklukkan dunia dengan ketakutan.
Israel mengira bisa memusnahkan perlawanan dengan kekuatan militer.
Namun sejarah hanya mengulang satu pelajaran:
setiap kekuatan yang berperang melawan nurani akan hancur oleh nuraninya sendiri.

Genghis Khan wafat dengan wilayah seluas benua tapi tanpa arah.
Rasulullah ﷺ wafat dengan wilayah kecil tapi meninggalkan umat yang bertahan hingga kini.

Karena penaklukan sejati bukan di atas tanah, tapi di dalam jiwa manusia.

“Mongol mengira telah memadamkan cahaya dunia Islam, padahal mereka hanya meniupkan angin yang membuat nyala itu menjalar lebih jauh.”

Demikian pula hari ini: Israel mengira telah menenggelamkan Palestina di bawah puing, padahal mereka sedang menyuburkan sejarah baru — sejarah tentang umat yang tak bisa dihancurkan, karena berdiri di atas kebenaran. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *