DALAM sejarah keilmuan Islam, nama Imam Abu Hanifah rahimahullah bukan hanya dikenal sebagai pendiri salah satu mazhab fikih terbesar, tetapi juga sebagai sosok yang teguh dalam prinsip, rendah hati, dan penuh kebijaksanaan.
Kisah-kisah kehidupannya tak hanya mengandung nilai-nilai keilmuan yang tinggi, tetapi juga memuat pelajaran akhlak, keteguhan hati, dan cinta kepada kebenaran yang dapat menggugah siapa saja yang mendengarnya. Setiap langkah hidupnya seolah menjadi cahaya bagi generasi setelahnya, memperlihatkan betapa seorang ulama sejati hidup dengan prinsip, bukan hanya ilmu.
Dari keteguhan beliau dalam menolak jabatan penguasa demi menjaga integritas, hingga kelembutan hatinya dalam memperlakukan orang-orang yang menyakitinya, kisah Abu Hanifah sarat makna dan menggugah hati nurani.
Bukan sekadar cerita lama dari masa silam, tetapi cermin hidup yang menunjukkan bagaimana iman dan ilmu bisa berjalan beriringan. Mari kita selami beberapa kisah pilihan dari kehidupan beliau yang begitu menggetarkan dan memberi ilham bagi siapa pun yang rindu akan teladan sejati.
Tidak Memakan Daging Kambing
Abu Hanifah sangat wara’, takut terhadap barang haram, dan meninggalkan banyak sekali barang halal karena takut syuhbat. Suatu ketika, kambing-kambing curian atau kambing-kambing yang melarikan diri bercampur dengan kambing-kambing milik penduduk Kufah. Abu Hanifah kemudian menemui pakar di bidang kambing dan bertanya, “Berapa lama kambing hidup?” “Tujuh tahun,” jawab mereka. Abu Hanifah akhirnya tidak memakan da-ging kambing selama tujuh tahun.” (Manaqib Al-Imam Al-A’zham, 1:205)
BACA JUGA: Imam Abu Hanifah dan Rumah Seorang Majusi
Keluarga Masih Punya Allah
Dunia ditawarkan kepada Abu Hanifah lalu ia meninggalkan dan tidak menerimanya. Seseorang dengan heran berkata kepada-nya, “Wahai Abu Hanifah! Dunia ditawarkan kepadamu lalu engkau menolaknya, padahal engkau punya keluarga.”
Abu Hanifah berkata, “Keluarga masih punya Allah. Makananku dalam sebulan hanya dua dirham. Untuk apa aku menumpuk-numpuk harta bagi orang yang sudah dijamin rejekinya oleh Allah, toh rejeki Allah selalu menghampiri orang-orang durhaka maupun orang-orang taat.” (Manaqib Al-Imam Al-A’zham, 1:213)
Cambuk dan Dirham
Abu Hanifah An-Nu’man pernah dirantai, lalu Amirul Mukmi-nin menawarkan jabatan hakim kepadanya. la menolak lalu Amirul Mukminin melucuti pakaiannya dan mencambuknya sebanyak tiga puluh kali hingga darah mengucur dari tubuhnya.
Abdush Shamad, paman khalifah, berkata, “Wahai Amirul Mukminin! Apa yang engkau lakukan! Engkau telah menghunus 100 ribu pedang terhadap dirimu sendiri. Abu Hanifah itu faqihnya penduduk Irak dan kawasan timur.”
Khalifah Al-Manshur kemudian memerintahkan agar Abu Hanifah diberi 30 ribu dirham sebagai ganti rugi dari tiga puluh kali cambukan, setiap kali cambuk diganti rugi seribu dirham. Ketika dirham-dirham itu diletakkan di hadapan Abu Hanifah, Abu Hanifah menolaknya. Dikatakan kepadanya, “Sedekahkan uang itu!” Abu Hanifah berkata, “Memangnya mereka memiliki sedikit pun harta halal?!” Abu Hanifah enggan menerima uang itu. (Manaqib Al-Imam Al-A’zham, 1: 217)
Kau Telah Memuji Pakaian
Abu Hanifah adalah seorang pedagang pakaian. Suatu ketika, seseorang meminta pakaian sutera padanya lalu ia berkata kepada anaknya, Hammad, “Hai Hammad! Keluarkan sehelai pakaian untuk orang itu.” Hammad mengeluarkan sehelai pakaian, membukanya di hadapan orang tersebut, lalu berkata, “Muhammad!”
Abu Hanifah kemudian berkata kepada anaknya karena wara’, “Kamu telah memuji pakaian itu. Angkatlah!” Hammad kemudian mengangkat pakaian tersebut tidak jadi menjualnya kepada orang itu. Orang tersebut kemudian berkeliling ke pasar namun tidak menemukan pakaian lain. Abu Hanifah tetap enggan men-jualnya kepada orang tersebut karena anaknya memuji pakaian tersebut.” (Al-Manaqib, Muwaffiq, 1: 198)
Makanan Abu Hanifah
Abu Hanifah mengangkat dan mendidik jiwanya hingga mencapai puncak wara’. Di antara wujud wara’ Abu Hanifah, ia tidak memakan makanan para khalifah. Ketika khalifah memintanya untuk menjabat sebagai hakim di Baghdad, ia tidak memakan makanan si khalifah. la kemudian bertemu seseorang bernama Faidh bin Muhammad.
Beberapa orang hendak pergi ke Kufah lalu Abu Hanifah berkata kepadanya, “Jika engkau tiba di Kufah, temuilah Hammad dan katakan kepadanya, “Makakanku dalam sebulan adalah dua dirham tepung, dan engkau tidak kunjung mengirimkannya ke-padaku, maka segeralah engkau kirim makanan itu kepadaku.” Ini menunjukkan sifat wara’ Abu Hanifah yang tulus.
Abu Hanifah Mengembalikan Pakaian
Suatu hari, seorang Madinah datang ke Kufah dan menanya-kan tentang salah satu jenis pakaian, lalu dikatakan kepadanya, “Kamu hanya menemukan pakaian itu di tempat Abu Hanifah, dan janganlah engkau menawarnya.” Orang tersebut datang ke toko dan mendapati salah seorang murid Abu Hanifah. la mengiranya Abu Hanifah lalu bertanya, “Berapa harga pakaian ini?”
BACA JUGA: Meneladani Semangat Belajar Imam Syafi’i
Si murid itu menjawab, “Seribu dirham.” Orang itu langsung membeli pakaian tersebut tanpa menawar. Selang beberapa hari, si murid berkata kepada Abu Hanifah, “Aku menjual pakaian itu seharga seribu dirham kepada seseorang dari Madinah.”
Abu Hanifah merasa sedih. la segera berangkat ke Madinah dan menanyakan tentang orang yang membeli pakaian tersebut hingga mengetahuinya. Abu Hanifah meminta orang tersebut agar bersedia menerima kembali harga kain dan ongkos jahitnya, dan mengembalikan pakaian tersebut.
Orang tersebut tidak menerima usulan Abu Hanifah dan meminta Abu Hanifah agar menyerahkan seribu dirham saja. Abu Hanifah bertanya, “Berapa ongkos untuk memperbaiki pakaian itu?” Orang itu menjawab, “Enam ratus dirham.” Abu Hanifah akhir-nya memberinya 1600 dirham, dan memberikan pakaian tersebut kepadanya sebagai hadiah.” (Manaqib Al-Imam Al-A’zham, 1: 119-200) []
SUMBER: HUMAYRO
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

