DALAM sejarah umat manusia, nama Qarun (Korah dalam kitab Taurat) dikenal sebagai simbol kesombongan dan keserakahan. Ia hidup di masa Nabi Musa ‘alaihis-salām dan merupakan salah satu kaum Bani Israil. Namun berbeda dari kaumnya yang lain, Qarun diberi kekayaan yang luar biasa besar.
Bahkan Al-Qur’an menggambarkan kekayaannya dengan kalimat yang menggugah: “Sesungguhnya kunci-kunci perbendaharaannya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat.” (QS. Al-Qashash: 76). Bayangkan, bukan harta bendanya yang berat, tapi kunci-kunci gudang harta saja sudah harus dibawa oleh banyak orang!
Menurut sebagian mufasir seperti Imam Al-Qurthubi dan Ibnu Katsir, ayat ini menunjukkan betapa luar biasanya kekayaan Qarun. Ia memiliki harta bertimbun-timbun — emas, perak, permata, pakaian mewah, hingga istana megah yang memantulkan cahaya di bawah sinar matahari.
Dalam tafsir disebutkan bahwa Qarun memiliki perbendaharaan di berbagai tempat, bahkan dikatakan saking banyaknya, setiap kuncinya harus disimpan dengan penjagaan khusus. Ulama salaf menyebutkan, jika harta seseorang sudah membuatnya tak sempat bersujud, maka harta itu bukan lagi nikmat, melainkan ujian besar.
Namun di balik kekayaan itu, Qarun justru sombong. Ia berkata dengan congkak: “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku.” (QS. Al-Qashash: 78). Ia menolak mengakui bahwa semua itu datang dari Allah. Ia merasa sukses karena kecerdikannya dalam berdagang dan mengelola harta. Inilah titik kejatuhannya — saat manusia mengira bahwa keberhasilan murni karena dirinya sendiri.
Imam Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Tidaklah seseorang berkata ‘Aku mendapat ini karena diriku’, kecuali telah hilang rasa tawakalnya kepada Allah.” Qarun adalah contoh nyata dari kalimat itu.
Kaum Bani Israil sempat tergoda dengan gemerlap kekayaan Qarun. Mereka berkata, “Wahai, alangkah baiknya jika kita memiliki seperti apa yang diberikan kepada Qarun, sungguh dia memiliki keberuntungan besar.” (QS. Al-Qashash: 79). Tapi apa yang terjadi kemudian menjadi pelajaran abadi. Allah menenggelamkan Qarun beserta rumah dan hartanya ke dalam bumi. Tidak ada seorang pun yang dapat menolongnya. Kekayaannya tidak menyelamatkannya, justru menjadi sebab kehancurannya.
BACA JUGA: Dari Air yang Ditimba, Takdir Jodoh Nabi Musa pun Tiba
Dari kisah ini, para ulama salaf mengingatkan bahwa kekayaan sejati bukanlah seberapa banyak harta yang dimiliki, tetapi seberapa lapang hati terhadap takdir Allah. Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata, “Barang siapa ridha dengan ketentuan Allah, maka dialah orang kaya yang sebenarnya.” Qarun punya segalanya, kecuali kerendahan hati dan rasa syukur.
Maka, seberapa kaya Qarun? Secara duniawi, mungkin ia adalah manusia terkaya pada zamannya — bisa jadi bahkan melampaui para raja. Tapi dalam pandangan Allah, Qarun adalah orang paling miskin, karena tidak punya iman yang bisa menyelamatkannya. Kekayaan sejati bukan di tangan, melainkan di hati.
Subhanallah, betapa banyak orang ingin jadi seperti Qarun, padahal justru lebih baik menjadi seperti orang miskin yang bersyukur daripada kaya tapi kufur. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

