DALAM kitab “Nashaihul ‘Ibad”, Syekh Nawawi Al-Bantani menjelaskan, Ali bin Abi Thalib berpesan bahwa siapa yang mengumpulkan enam perkara berarti dia telah mendapatkan kunci untuk membuka pintu surga dan menutup pintu neraka.
1. Mengenali Allah sebagai Pencipta, Penghidup, dan Pematik, lalu menaati-Nya
Penjelasan:
Mengenal Allah (ma’rifatullah) adalah fondasi seluruh amal. Ali bin Abi Thalib menegaskan bahwa orang yang benar-benar mengenal Allah pasti akan tunduk dan taat kepada-Nya.
Ketaatan bukan sekadar ritual, tetapi penyerahan hati sepenuhnya kepada perintah-Nya.
Pendapat Ulama Salaf:
Al-Hasan Al-Bashri berkata, “Barang siapa mengenal Rabb-nya, ia akan mencintai-Nya; dan barang siapa mencintai-Nya, ia akan lebih mengutamakan-Nya daripada selain-Nya.”
Imam Ahmad berkata, “Dasar agama adalah mengenal Allah. Semakin dalam seseorang mengenal Rabb-nya, semakin sempurna ketundukannya.”
BACA JUGA: Mengapa Ali bin Abi Thalib Mengatakan Talak Tiga tanpa Rujuk pada Dunia?
2. Mengenali Setan sebagai Musuh, lalu mendurhakainya
Penjelasan:
Allah sendiri berfirman bahwa setan adalah musuh yang nyata. Mengetahui hakikat permusuhan ini membuat seorang hamba waspada dari bisikan, tipu daya, dan langkahnya.
Mendurhakai setan berarti menolak godaan maksiat dan tidak mengikuti jalan yang menggiring pada kebinasaan.
Pendapat Ulama Salaf:
Mujahid berkata, “Setan membuka pintu kecil maksiat untuk memasukkan dosa besar; maka tutuplah pintu kecil itu sebelum ia terbuka lebih lebar.”
Sufyan Ats-Tsauri menyatakan, “Tipu daya setan paling berbahaya adalah ketika ia menghiasi keburukan seolah-olah itu kebaikan.”
3. Mengenali Akhirat sebagai negeri kekal, lalu mempersiapkan bekal untuknya
Penjelasan:
Akhirat adalah tujuan akhir. Seseorang tidak akan sungguh-sungguh beramal kecuali ia yakin betapa panjang kehidupan setelah kematian.
Persiapan untuk akhirat dilakukan dengan amal saleh, ibadah, dan meninggalkan maksiat.
Pendapat Ulama Salaf:
Ibnul Mubarak berkata, “Barang siapa mengingat akhirat, sempit baginya dunia.”
Umar bin Abdul Aziz menasihati, “Dunia bukan tempat tinggal, tetapi tempat menanam; sedangkan akhirat tempat memanen.”
4. Mengenali Dunia sebagai sesuatu yang fana, lalu menjauhi keterikatannya
Penjelasan:
Dunia bukan tujuan, melainkan jalan. Menyadari kefanaan dunia membuat seseorang tidak terperdaya oleh gemerlap, harta, dan kemewahan.
Menolak dunia bukan berarti meninggalkan usaha, tetapi tidak menggantungkan hati padanya.
Pendapat Ulama Salaf:
Ali bin Abi Thalib sendiri berkata, “Dunia berjalan pergi, dan akhirat berjalan mendekat. Jadilah anak-anak akhirat, jangan menjadi anak-anak dunia.”
Fudhail bin Iyadh berkata, “Zuhud adalah ketika engkau lebih yakin pada apa yang ada di tangan Allah dibanding apa yang ada di tanganmu.”
5. Mengenali yang Haq (benar), lalu mengikutinya dan mengamalkannya
Penjelasan:
Kebenaran dalam agama adalah petunjuk dari Allah dan Rasul-Nya. Bila seseorang mengetahui kebenaran, kewajiban berikutnya adalah mengikuti tanpa ragu.
Mengikuti yang haq berarti mendahulukan dalil, bukan hawa nafsu.
Pendapat Ulama Salaf:
Imam Malik berkata, “Kebenaran tidak mengenal siapa pun; kenalilah kebenaran, maka engkau akan mengenal ahlinya.”
Abdullah bin Mas’ud berkata, “Kebenaran itu berat, namun manis; sementara kebatilan itu ringan, namun mematikan.”
BACA JUGA: 20 Pertanyaan tentang Ali bin Abi Thalib, Bisakah Kamu Menjawabnya?
6. Mengenali yang Batil, lalu menjauhinya
Penjelasan:
Menjauhi kebatilan adalah tanda kesucian iman. Mengetahui hakikat keburukan membuat seorang hamba waspada dan tidak terjerumus dalam dosa.
Menjauhi batil adalah bagian dari wara’, yaitu kehati-hatian dalam agama.
Pendapat Ulama Salaf:
Al-Fudhayl bin Iyadh berkata, “Tinggalkan apa yang meragukanmu kepada yang tidak meragukanmu. Itulah sikap seorang yang jujur kepada Allah.”
Sahl At-Tustari mengatakan, “Kebatilan tidak akan mampu mempengaruhi hati yang dipenuhi dengan muraqabah (merasa diawasi Allah).”
Penutup
Enam perkara yang dijelaskan Ali bin Abi Thalib ini bukan sekadar nasihat, tetapi peta perjalanan menuju keselamatan. Barang siapa menggabungkannya, dia telah memegang kunci surga dan menutup rapat pintu neraka. []
Referensi: Nashaihul ‘Ibad/Karya: Syekh Nawawi al-Bantani
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

