PADA masa jayanya, seorang Gubernur Jenderal Hindia Belanda adalah orang paling berkuasa di Asia Tenggara, mengendalikan tanah jajahan seluas hampir dua juta kilometer persegi. Ia memerintah dari istana megah di Batavia, tidur di kamar-kamar berhias sutra, dan dikelilingi ajudan serta pasukan elite.
Namun sejarah memiliki cara yang dingin dalam memperlakukan penguasa. Banyak dari mereka kembali ke Amsterdam bukan sebagai pahlawan, tetapi sebagai lansia yang rapuh, sakit, terlupakan, atau bahkan dibenci.
Ada ironi yang berat di balik semua itu—seperti firman Allah: “Dan negeri-negeri (yang penduduknya zalim) itu Kami binasakan. Dan setelah itu, kamilah yang mewarisinya.” (QS. Al-Qasas: 58)
Mereka dulu penguasa negeri jauh, tetapi justru negeri itu pula yang menggerus tubuh mereka, meruntuhkan citra mereka, dan akhirnya melupakan mereka.
Inilah laporan tentang masa tua, kemerosotan, dan tempat kematian dari para gubernur jenderal yang pernah memerintah Nusantara.
—
Herman Willem Daendels (Gubernur Jenderal ke-36, 1808–1811)
Mati di Pantai Gading, jauh dari Eropa dan Jawa
Daendels datang ke Jawa dengan ambisi Napoleon: membangun benteng, menata kolonialisme baru, dan mengerahkan kerja rodi untuk membuat Jalan Raya Pos. Ia adalah simbol kekuasaan mutlak.
Tetapi masa tuanya adalah bentuk pembuangan politis. Setelah pulang ke Belanda, ia tidak disambut sebagai pahlawan, melainkan dituduh kejam, korup, dan terlalu Napoleonic. Ia tidak diberi posisi terhormat, tetapi justru dikirim ke Afrika sebagai Gubernur Jenderal Pantai Gading.
Ia meninggal terserang malaria—sendirian, tanpa upacara kenegaraan.
Tempat kematian: Elmina, Pantai Gading (Ghana), 1818.
Ayat yang menggambarkan nasibnya seperti tertulis: “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman: 18)
Ia membangun jalan sepanjang Jawa, tetapi pulang sebagai orang yang tidak lagi memiliki jalan pulang.
—
Jan Pieterszoon Coen (Gubernur Jenderal ke-4 dan 6)
Mati di Batavia—dikubur di tanah yang ia penuhi darah
Coen adalah pendiri Batavia, otak pembantaian Banda, simbol paling kelam VOC. Masa tuanya tidak sempat panjang—usia kekuasaan yang intens membuat tubuhnya rusak cepat.
Ia wafat bukan di Belanda, tetapi di tanah jajahan yang ia peras. Serangan kolera dan kelelahan memakan hidupnya. Ironisnya, ia tidak pernah menikmati masa pensiun. Ia meninggal dalam keadaan bekerja, menindas, dan memerintah.
Tempat kematian: Batavia, 1629.
Jasadnya dikuburkan di bawah lantai gereja tua di Jakarta Kota.
Firman Allah seolah menggambarkan akhir tragisnya: “Tidakkah mereka berjalan di bumi, lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka yang lebih kuat dari mereka?” (QS. Ghafir: 82)
Coen kuat, tetapi tanah tropis lebih kuat darinya.
—
Gustaaf Willem van Imhoff (Gubernur Jenderal ke-27)
Mati dalam frustrasi, sebelum reformasinya terwujud
Van Imhoff termasuk sedikit gubernur yang ingin memperbaiki sistem kolonial: sekolah, reformasi hukum, hingga meredam kekuasaan kaum bangsawan Jawa yang eksploitatif. Tetapi justru niat baik itu membuatnya dibenci elit VOC.
Ketika tua, Van Imhoff tenggelam dalam depresi. Reformasi yang ia usulkan ditolak, ia dituduh tidak pro-komersial, dan reputasinya jatuh.
Ia meninggal saat sedang berlayar kembali ke Eropa—bukan sebagai pemenang, tetapi sebagai reformis yang dikhianati bangsanya sendiri.
Tempat kematian: di kapal, Samudera Hindia, 1750.
Ayat yang sesuai dengan nasibnya: “Kamu tidak akan menemukan jalan keluar bagi siapa saja yang Allah sesatkan.” (QS. An-Nisa: 143)
Ia tersesat bukan karena niat buruk, tetapi karena sistem kolonial yang menolak suara hati nurani.
—
J. B. van Heutsz (Gubernur Jenderal ke-59)
Dulu dipuja, mati sebagai simbol dosa kolonial
Van Heutsz dianggap sebagai “Penakluk Aceh.” Pada masa tuanya, keadaan berubah. Eropa memasuki era anti-kolonial. Para sejarawan Belanda membuka kembali pembantaian Aceh.
Ia dihujat publik Belanda, rumahnya dilempari batu, pemuda-pemuda Belanda menulis artikel yang menyebutnya “algojo bangsa sendiri.”
Akhir hidupnya muram—ditolak bangsanya, dikutuk rakyat Aceh, dan dianggap simbol kejahatan kolonial.
Tempat kematian: Montreux, Swiss, 1924.
Ia meninggal jauh dari tanah air, membawa warisan berdarah.
Firman Allah seakan menutup riwayatnya: “Dan orang-orang yang zalim itu akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali.” (QS. Asy-Syu’ara: 227)
—
Cornelis Speelman (Gubernur Jenderal ke-10)
Mati dalam paranoia dan isolasi
Speelman adalah penghancur Makassar dan pelopor agresi VOC di Sulawesi. Ia menghabiskan masa tua dalam tubuh rusak oleh penyakit tropis, penuh gula dari kehidupan mewah, dan tekanan mental.
Surat-suratnya menyebut ia dihantui oleh:
korban pembantaiannya,
politik VOC yang busuk,
dan rasa takut dibunuh oleh bekas sekutunya sendiri.
Ia menghabiskan tahun-tahun terakhir terkurung di rumah, nyaris tidak keluar.
Tempat kematian: Batavia, 1684.
Ia meninggal dalam tubuh yang membengkak dan jiwa yang patah.
Allah menggambarkan keadaan ini: “Barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka baginya kehidupan yang sempit.” (QS. Thaha: 124)
Speelman berpaling dari nurani, dan hidupnya menjadi sempit—bahkan sebelum mati.
—
Pieter Gerardus van Overstraten (Gubernur Jenderal ke-62)
Mati sebagai penjaga bangkai VOC
Van Overstraten memimpin ketika VOC bangkrut. Ia bukan penguasa megah, tetapi pengurus kehancuran.
Pemerintah Belanda menyalahkannya atas kolapsnya VOC, meski itu bukan salahnya. Ketika tua, ia hidup dalam kemarahan dan rasa ditelantarkan. Ia kembali ke negeri yang tidak menghargainya.
Ia wafat beberapa tahun setelah pulang—tanpa penghargaan, tanpa pengakuan, tanpa warisan yang membesarkan namanya.
Tempat kematian: Utrecht, Belanda, 1801.
“Maka tatkala datang ketentuan Kami, Kami jadikan negeri itu hancur lebur.” (QS. Al-Isra: 16)
Ia tidak dihukum karena dosa pribadi, tetapi ia menjadi saksi kehancuran sistem yang ia layani.
—
Godert van der Capellen (Gubernur Jenderal ke-63)
Mati dalam pengasingan, jauh dari rakyat yang ia bela
Van der Capellen termasuk sedikit gubernur yang membela rakyat Jawa:
membatasi kekuasaan bupati,
menolak penyewaan tanah oleh kapitalis asing,
melarang proyek-proyek yang memiskinkan petani.
Namun itulah yang membuatnya ditendang pulang.
Pengusaha kolonial membencinya, para bupati Jawa membencinya, dan pejabat Belanda menganggapnya penghalang keuntungan.
Ia kembali ke Belanda dengan dada penuh luka. Masa tuanya dihabiskan dengan menulis catatan getir bahwa kolonialisme adalah mesin yang menelan semua orang bermoral.
Tempat kematian: ’s-Heerenberg, Belanda, 1848.
Ayat yang menggambarkan posisinya: “Dan katakanlah: Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap.” (QS. Al-Isra: 81)
Ia berpihak kepada yang benar—tetapi sistem batil yang ia lawan membuatnya terbuang.
—
Mereka Hidup di Istana, Tetapi Mati Kesepian
Setelah pulang, banyak gubernur jenderal mendapati realitas pahit:
mereka bukan bangsawan,
bukan pahlawan nasional,
dan bukan tokoh penting di Belanda.
Banyak yang menjadi lansia yang dilupakan, hanya menghabiskan hari-hari dengan membolak-balik surat-surat lama, memoar yang tak laku, dan mengenang kejayaan palsu yang sudah usai.
Beberapa lainnya mati dalam kondisi buruk:
penyakit tropis yang dibawa pulang,
masalah mental,
alkoholisme,
dan kesepian panjang.
BACA JUGA: Mengapa Si Pitung Melawan Kompeni? Sistem Tanah Partikelir di Batavia
Mereka pernah menguasai puluhan juta rakyat Nusantara.
Tetapi tidak satu pun dari rakyat itu datang untuk menangisi mereka ketika mati.
Allah telah berfirman tentang akhir para pemimpin zalim: “Itulah rumah akhirat Kami jadikan bagi orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di muka bumi.” (QS. Al-Qasas: 83)
Mereka menguasai bumi, tetapi rumah akhirat bukan untuk orang yang merusaknya.
—
Penutup: Penjajah yang Dijajah
Masa tua para gubernur jenderal Belanda adalah kisah yang menembus mitos kolonialisme.
Mereka mengira datang untuk menaklukkan.
Tetapi pada akhirnya, merekalah yang ditaklukkan oleh sejarah:
Daendels mati di Afrika,
Coen mati di Batavia,
Speelman mati menghantui dirinya sendiri,
Van Heutsz mati sebagai simbol dosa masa lalu,
Van Imhoff mati tenggelam di laut,
Van Overstraten mati sebagai saksi runtuhnya VOC,
Van der Capellen mati sebagai pengasing moral.
Mereka datang sebagai penguasa.
Tetapi mereka pergi sebagai peringatan bahwa tidak ada kekuasaan yang dibangun di atas kezaliman yang berakhir bahagia. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE
