SETIAP perjalanan menuju kebenaran selalu menuntut pengorbanan. Namun di antara seluruh cobaan yang menimpa para sahabat Rasulullah ﷺ pada masa awal dakwah di Mekah, ada satu ujian yang paling berat dan paling menyayat hati: ditinggalkan oleh ibu mereka sendiri, perempuan yang telah mengandung, menyusui, membesarkan, dan menyayangi mereka selama hidup.
Di tengah badai kekejaman Quraisy—penyiksaan, embargo, boikot, ancaman, hingga pembunuhan—ada sebuah medan ujian yang lebih senyap dan lebih menyakitkan: medan pertarungan cinta antara iman dan ibu.
Di antara yang mengalami ujian itu adalah dua pemuda terkemuka Mekah:
Mus’ab bin ‘Umair, pemuda paling tampan dan paling dimanjakan di Quraisy,
dan Sa’ad bin Abi Waqqas, salah satu dari enam orang pertama yang masuk Islam.
Dua-duanya diuji oleh ibu mereka, yang melarang, mengancam, bahkan menyiksa diri sendiri untuk memaksa mereka kembali kepada agama nenek moyang.

Mekah Sebelum Cahaya: Ketika Agama Baru Menjadi Ancaman Besar
Mekah pada awal abad ke-7 bukan sekadar kota perdagangan. Ia adalah pusat kekuatan suku Quraisy, tempat Ka’bah berdiri dengan segala simbol prestise kabilah. Kakbah saat itu dikelilingi berhala, menjadi jantung ekonomi, politik, dan spiritualitas jahiliah. Ketika Rasulullah ﷺ mengumumkan dakwah tauhid, Quraisy melihatnya bukan hanya sebagai ajaran agama baru, tetapi sebagai ancaman terhadap tatanan sosial dan kekuasaan.
Para pemuda yang mengikuti seruan itu dianggap sebagai pembangkang terhadap tradisi. Lebih berat lagi bila mereka berasal dari keluarga terhormat. Karena ketika seorang pemuda Quraisy masuk Islam, itu berarti keluarganya tercoreng, sukunya dianggap lemah, dan posisi sosial ibunya terancam jatuh di mata masyarakat.
Maka, banyak ibu-ibu Quraisy melarang anak-anaknya masuk Islam. Di antara yang paling terkenal adalah ibu dari Mus’ab dan ibu dari Sa’ad.
—
Mus’ab bin ‘Umair: Pemuda Paling Tampan, Paling Kaya, dan Paling Manja di Mekah
Jika Mekah punya simbol “anak emas”, maka itu adalah Mus’ab bin ‘Umair.
Para sejarawan menulis bahwa Mus’ab adalah pemuda paling wangi, paling rapi, paling tampan, paling kaya, dan paling dimanjakan ibunya. Ibunya, Khunnas binti Malik, adalah perempuan bangsawan yang sangat tegas, keras, dan berpengaruh di Mekah.
Mus’ab hidup dalam kemewahan. Pakaiannya impor dari Yaman, minyak wanginya termahal di pasar, langkah kakinya dikenali dari jauh karena saking wangi tubuhnya. Tidak ada pemuda yang lebih bersinar darinya.
Namun cahaya sejati turun dari tempat yang berbeda.
Ketika ia mendengar tentang Rasulullah ﷺ mengajar di rumah Al-Arqam bin Abi Al-Arqam, Mus’ab menyelinap diam-diam, takut ketahuan orang tua. Di rumah kecil itu, hatinya terbuka. Dia masuk Islam tanpa keraguan.
Namun rahasia itu tidak bertahan lama. Berita tentang keislamannya sampai ke telinga ibunya. Tidak dengan tangis, tetapi dengan murka.
—
Ketika Seorang Ibu Mengungkung Anaknya demi Tradisi
Ibu Mus’ab tidak seperti ibu yang lembut pada umumnya. Dia adalah perempuan Quraisy yang keras seperti batu Mekah itu sendiri. Ketika mengetahui Mus’ab memeluk Islam, ia mengambil langkah ekstrem.
Ia mengurung Mus’ab di dalam rumah, menutup semua pintu dan jendela, dan menempatkan penjaga agar Mus’ab tidak bisa kabur. Tujuannya satu: memaksa dia meninggalkan Islam.
Ini bukan hanya pengurungan fisik, tetapi penghukuman sosial. Ia ingin menunjukkan kepada keluarga besar bahwa dirinya telah “mengambil tindakan” terhadap anak yang dianggap membangkang.
Namun bagi Mus’ab, pengurungan itu justru menguatkan imannya. Saat kekuatan iman menembus dinding penjara rumah, tidak ada lagi kekuatan yang mampu menahannya.
Mus’ab akhirnya berhasil melarikan diri dan berhijrah ke Habasyah (Ethiopia), meninggalkan ibunya, rumahnya, hartanya, dan seluruh kemewahan hidupnya.
Ketika akhirnya kembali ke Mekah setelah beberapa tahun, Mus’ab berubah. Pakaian lusuh. Fisik kurus. Bau rempah mahal telah hilang. Pemuda paling tampan itu kini menjadi pendakwah pertama Islam di Madinah.
Ibunya tersentak melihat perubahan itu.
Ia berkata dengan nada getir, “Engkau berubah bukan karena miskin, tetapi karena agama Muhammad.”
Mus’ab menjawab dengan ketegasan yang tenang:
“Wahai Ibu, aku tidak akan meninggalkan agama ini meski engkau mati karena sedih.”
—
Sa’ad bin Abi Waqqas: Pemuda Pemanah Terbaik yang Diuji Cinta Ibu
Jika Mus’ab diuji dengan kemewahan, Sa’ad bin Abi Waqqas diuji dengan cinta seorang ibu yang sangat lembut, sangat mencintainya, dan sangat berpengaruh.
Sa’ad masuk Islam pada usia 17 tahun. Ia termasuk enam orang pertama yang memeluk Islam melalui Abu Bakar. Karena masih sangat muda, ibunya tidak percaya bahwa Sa’ad telah mengambil keputusan besar.
Ketika Sa’ad mengakui keyakinannya, ibunya tidak memarahinya. Tetapi ia memilih cara yang jauh lebih menusuk: pemerasan emosional seorang ibu.
—
Ujian Paling Menyakitkan: Ibu Mogok Makan agar Anaknya Murtad
Ibunya duduk di depan rumah, menolak makan, menolak minum, dan berkata:
“Aku tidak akan makan dan tidak akan minum sampai engkau meninggalkan agama Muhammad. Jika aku mati, engkau akan dicela manusia. Orang-orang akan berkata bahwa engkau adalah anak yang membunuh ibunya.”
Ini adalah tusukan paling dalam bagi seorang anak yang sangat mencintai ibunya. Sa’ad memohon, merayu, menangis, tetapi ibunya tidak bergerak. Berhari-hari ia berpuasa, hingga tubuhnya lemah dan nyaris pingsan.
Tetapi Sa’ad adalah pemuda iman. Ia berkata dengan air mata mengalir:
“Wahai Ibu, demi Allah, seandainya engkau memiliki seratus nyawa, dan semuanya keluar satu per satu agar aku meninggalkan agama ini—aku tidak akan meninggalkannya.”
Kata-kata ini mengguncang ibunya. Ia akhirnya makan kembali, tetapi sejak saat itu hubungan ibu-anak itu tidak sama lagi.
Peristiwa ini begitu besar hingga Allah menurunkan ayat khusus:
“Jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak kamu ketahui, maka janganlah engkau taati keduanya.” (QS. Luqman: 15)
Ayat ini menjadi garis pemisah antara cinta kepada ibu dan cinta kepada Allah.
—
Dua Pemuda, Dua Ibu, Satu Ujian yang Sama
Mus’ab diuji dengan ibu yang keras.
Sa’ad diuji dengan ibu yang lembut.
Tetapi keduanya menghadapi ujian yang sama:
ketika cinta orang tua digunakan untuk memaksa mereka meninggalkan iman.
Mus’ab melawan penjara, ancaman, dan kekerasan.
Sa’ad melawan tangisan, lapar, dan tekanan batin.
Mus’ab kehilangan kemewahan.
Sa’ad kehilangan kehangatan keluarga.
Mus’ab menjadi duta Islam pertama di Madinah, membuka jalan bagi hijrah Rasulullah ﷺ.
Sa’ad menjadi panglima besar yang menaklukkan Persia pada masa Umar bin Khattab.
Dari keduanya, sejarah mengajarkan bahwa iman yang sejati tidak tumbuh dari zona nyaman.
—
Ketika Iman Menang Melawan Tekanan Tradisi
Apa yang membuat para ibu itu begitu keras?
Ada beberapa alasan sejarah:
1. Tradisi suku — agama adalah identitas sosial, bukan pilihan pribadi.
2. Tekanan Quraisy — jika anak mereka masuk Islam, keluarga akan dihina.
3. Gerakan Islam dianggap ancaman politik dan ekonomi.
4. Ketakutan kehilangan kehormatan.
Bagi ibu-ibu Quraisy, ketika anaknya masuk Islam, dunia mereka runtuh.
Namun Islam datang untuk membebaskan manusia dari tradisi buta.
Islam mengajarkan:
“Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam maksiat kepada Allah.”
“Sesungguhnya hidayah di tangan Allah, bukan di tangan ibu dan ayah.”
“Orang beriman diuji dengan hal yang paling dicintainya.”
Ujian Mus’ab adalah kemewahan.
Ujian Sa’ad adalah cinta seorang ibu.
Keduanya lulus.
—
Kisah Ini Hidup Kembali dalam Setiap Zaman
Kisah ini bukan hanya tentang dua pemuda Mekah.
Ini adalah kisah universal tentang:
generasi muda yang mencari cahaya baru,
ibu yang takut kehilangan anaknya,
keluarga yang takut terhadap perubahan,
iman yang diuji antara cinta dan kebenaran.
Di setiap zaman, ada keluarga yang merelakan anaknya berubah.
Ada juga keluarga yang menolak perubahan itu.
Tetapi iman tidak pernah tumbuh tanpa luka.
Dan kebenaran tidak pernah datang tanpa pengorbanan.
BACA JUGA: Ragam Kisah Rasulullah ﷺ bersama Arab Badui
Penutup: Para Ibu yang Melarang, Para Pemuda yang Beriman
Mus’ab bin ‘Umair dan Sa’ad bin Abi Waqqas bukan hanya kisah sejarah.
Mereka adalah cermin bagi setiap manusia yang diuji oleh keluarga saat mencari kebenaran.
Dari Mus’ab kita belajar bahwa kemewahan bukan apa-apa bila dibandingkan dengan iman.
Dari Sa’ad kita belajar bahwa cinta kepada ibu tidak boleh mengalahkan cinta kepada Allah.
Dari kedua ibunya kita belajar bahwa manusia sering menolak kebenaran bukan karena benci, tetapi karena takut.
Namun sejarah membuktikan:
Ketika seorang pemuda telah menemukan cahaya, seluruh dunia pun tidak mampu memadamkannya. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

