LANGIT menghitam lebih cepat sore itu.
Awan datang seperti digiring.
Angin membawa bau tanah basah.
Bel pulang berbunyi.
Dan hujan jatuh tanpa bertanya.
Deras.
Cepat.
Tanpa jeda.
Mereka berlima terjebak di selasar.
Rio berdiri paling depan.
Bagas memeluk tas.
Dimas menutup kepala dengan jaket tipis.
Raka mengeluh pelan.
Fadil hanya menatap hujan.
“Gila,” kata Dimas.
“Hujannya niat banget.”
Mereka menunggu.
Sepuluh menit.
Dua puluh menit.
Hujan tidak memberi ampun.
BACA JUGA: Geng Empat Tanpa HP: Bensin yang Tak Pernah Terisi
Jam di dinding kantor guru berdetak ke arah maghrib.
Adzan dari kejauhan mulai terdengar.
Pelan.
Melayang di udara basah.
“Ke masjid, yuk,” kata Rio.
“Daripada masuk angin.”
Mereka berlari kecil menembus hujan.
Sepatu basah.
Celana lembap.
Tawa kecil pecah di tengah rintik.
Masjid An-Nasath berdiri terang.
Lampunya menyala hangat.
Karpet merah terlihat bersih.
Aroma kayu dan sabun lantai bercampur.
Bang Roy sudah di dalam.
Sarungnya rapi.
Pecinya hitam.
Wajahnya teduh seperti biasa.
“Masuk,” katanya.
“Hujannya belum mau pulang.”
Mereka mengambil wudu.
Air dingin menyentuh wajah.
Menghapus lelah.
Menghapus debu sekolah.
Mereka berdiri di saf belakang.
Berjejer.
Basah.
Anduk kecil menggantung di bahu masing-masing.
Bang Roy maju.
Takbir pertama terdengar.
Suara yang tenang.
Tidak keras.
Tidak juga ragu.
Shalat dimulai.
Raka menunduk.
Biasanya ia setengah mengantuk di rakaat kedua.
Dimas sering melamun.
Bagas sering menghitung cepat.
Rio sering mencuri waktu.
Fadil sering berharap cepat selesai.
Tapi kali ini berbeda.
Bang Roy membaca Al-Fatihah.
Lalu suara itu mengalun.
Dalam.
Panjang.
Fadil terperangah sedikit.
Ini bukan Al-Kafirun.
Bukan Qul Huwallahu Ahad.
Ini An-Naziat.
Panjang.
Berat.
Mengguncang.
Ayat-ayat tentang hari kebangkitan.
Tentang jiwa yang diguncang.
Tentang yang takut kepada Tuhannya.
Tentang surga sebagai tempat kembali.
Suara Bang Roy mengalir rata.
Tidak terburu.
Tidak ditahan-tahan.
Seperti orang yang benar-benar berjalan bersama ayat-ayatnya.
Rio berdiri kaku.
Dadanya naik turun lebih dalam.
Dimas menahan napas.
Bagas menelan ludah.
Dan Fadil…
Fadil merasa seperti ditarik ke tempat yang jauh.
Tempat yang belum pernah ia datangi.
Tapi terasa dikenali.
Raka yang biasanya gelisah,
kali ini diam.
Matanya terpejam.
Tidak bergerak.
Rakaat demi rakaat berjalan lambat.
Tapi tidak terasa panjang.
Hujan masih jatuh di luar.
Seperti ikut mendengar.
Salam ditutup pelan.
Masjid kembali sunyi.
Bang Roy salat 2 rakaat bada Maghrib.
Geng Empat Tanpa HP tidak langsung bangkit.
Semua tertahan beberapa detik.
Seperti baru selesai keluar dari lorong yang panjang.
“Bang…” bisik Dimas setelah berdiri.
“Bang hafal An-Nāzi‘āt semua?”
Bang Roy tersenyum kecil.
“Alhamdulillah,” jawabnya.
Fadil masih terdiam.
Dadanya terasa penuh.
Ada hangat.
Ada juga sesuatu yang tidak bisa ia beri nama.
Karena hujan belum berhenti,
mereka duduk di serambi masjid.
Angin membawa suara rintik dari atap seng.
Raka memulai dengan nada santai.
“Bang, Bang kan satpam.
Kok kayak ustaz juga?”
Bang Roy tertawa pelan.
“Ilmu itu tidak harus berpakaian.”
Rio menimpali.
“Bang tahu banyak.
Tentang bola.
Tentang agama.
Tentang sekolah.”
Bang Roy menyandarkan punggung.
“Saya dulu tukang koran,” katanya.
“Setiap malam baca sisa yang nggak laku.”
“Malah untung ya, Bang,” kata Bagas.
Bang Roy mengangguk.
“Dari situ tahu dunia.
Dari politik sampai cerita silat.
Dari tafsir sampai olahraga.”
Dimas tertarik.
“Bang, orang miskin harus gimana biar tetap kuat?”
Bang Roy menatap hujan.
“Orang miskin jangan kehilangan dua hal,” katanya.
“Doa dan rasa cukup.”
Raka mengangguk pelan.
“Kalau kaya?”
“Kalau kaya jangan kehilangan takutnya pada Tuhan.”
Fadil menyimak tanpa berkedip.
Bang Roy seperti buku yang dibuka pelan-pelan.
Halaman demi halaman keluar dengan tenang.
Rio bertanya tentang kuliah.
Bagas bertanya tentang kerja.
Dimas bertanya tentang hidup.
Raka bertanya tentang cinta.
Bang Roy menjawab semuanya.
Tidak panjang.
Tapi tepat.
Jam di masjid bergerak ke arah delapan malam.
Hujan mulai melemah.
Suara rintiknya menurun seperti napas lelah.
“Isya sebentar lagi,” kata Bang Roy.
Adzan Isya berkumandang.
Langit masih basah.
Namun lebih ringan.
Mereka kembali mengambil saf.
Kali ini lebih rapi.
Lebih tenang.
Bang Roy maju lagi sebagai imam.
Takbir diucapkan.
Dan kali ini,
ia membaca Al-Insān.
“Hal atā ‘alal-insāni ḥīnun minad-dahr…”
Ayat-ayat tentang manusia.
Tentang penciptaan dari setetes mani.
Tentang syukur dan kufur.
Tentang surga yang penuh kenikmatan.
Tentang minuman dari bejana perak.
Tentang orang-orang yang memberi makan karena Allah.
Suara itu mengalir lebih lirih.
Lebih dalam.
Seperti menyentuh sesuatu yang selama ini tersembunyi.
Fadil tidak tahu kenapa.
Dadanya sesak.
Matanya panas.
Air mata mengalir begitu saja.
Tanpa sebab yang terlihat.
Ia tidak sedang sedih.
Tidak juga sangat bahagia.
Tangis itu datang sendiri.
Seperti air yang menemukan jalannya.
Ia menunduk lebih dalam.
Menahan suara.
Tapi air itu tetap jatuh.
Rio di sampingnya menyadari.
Ia tidak menoleh.
Hanya berdiri lebih rapat.
Dimas mengerti tanpa bertanya.
Bagas menahan napas.
Raka menggenggam sarungnya kuat.
Salam ditutup.
Malam menyisakan sunyi yang lain.
Fadil mengusap wajahnya cepat.
Merasa bodoh.
Merasa ringan.
Bang Roy menatap mereka satu per satu.
Matanya berhenti di Fadil.
Ia tidak bertanya.
Tidak juga tersenyum lebar.
Ia hanya mengangguk kecil.
Hujan benar-benar berhenti di luar.
Jalanan masih basah.
Lampu-lampu memantul di aspal.
Mereka berdiri.
Memakai sepatu.
Menggenggam tas.
BACA JUGA: Serial Geng Empat Tanpa HP: New Kid on The Block
Mereka melangkah keluar dari masjid.
Udara malam lebih segar.
Seperti setelah hujan di dalam dada.
Tak ada yang banyak bicara.
Tapi langkah mereka lebih ringan.
Di atas mereka,
langit mulai membuka sedikit.
Sisa awan bergerak perlahan.
Dan di antara mereka berlima,
sesuatu telah berubah.
Pelan.
Tanpa disadari. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

