Di Malam Wafatnya Umar bin Abdul Aziz: dari Firasat, Syuhada, dan Anjing pun Berbicara

7 Min Read
Foto: Hanya Ilustasi - Umar Faqih | Islampos Media

MALAM  itu, langit Syam terasa berat. Angin padang pasir bergerak pelan, seakan membawa bisikan yang tak semua telinga sanggup mendengarnya. Di antara manusia yang terjaga dan yang terlelap, ada hati-hati yang mulai merasa gelisah—gelisah yang belum punya nama.

—

1. Singa dan Seorang Pemilik Kambing

Sekelompok musafir dari Madinah tiba di Syam. Mereka singgah di rumah seorang lelaki yang tampak makmur: kandang-kandangnya penuh unta, sapi, dan kambing. Udara sore itu membawa aroma rumput kering dan suara dentingan lonceng di leher ternak.

Mereka melihat tuan rumah tenang, wajahnya ramah. Namun tiba-tiba, langkah seorang pembantunya terdengar tergesa-gesa dari arah ladang. Nafasnya terengah.

“Tuan,” katanya sambil menunduk, “hari ini seekor singa menerkam kambing-kambing yang ku gembalakan.”

Hening sejenak. Hanya suara angin yang menyapu pepohonan jarang di halaman rumah. Lelaki itu menutup matanya sebentar, lalu berkata lirih:

“Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un…”

Nada suaranya berat, seakan kehilangan itu lebih dari sekadar hewan yang mati.

Para musafir saling berpandangan. Dalam hati mereka, terbersit penilaian cepat: “Orang ini bukan orang baik. Kok berduka hanya karena seekor kambing?”

Seorang di antara mereka memberanikan diri bertanya:  “Wahai tuan, Allah telah memberimu harta dan kehidupan yang sejahtera. Mengapa engkau tampak gundah hanya karena seekor kambing?”

Lelaki itu menghela napas. Matanya memandang ke arah barat, tempat matahari mulai jatuh ke peraduan.

“Kalian mengira ini hanya tentang kambing? Tidak. Aku takut malam ini Umar bin Abdul Aziz wafat. Demi Allah, penerkaman singa terhadap seekor kambing adalah pertanda kematiannya.”

Kata-kata itu melayang di udara, menimbulkan rasa aneh di dada para musafir. Mereka mencatat kejadian itu. Dan benar—hari kemudian membawa kabar: Umar bin Abdul Aziz wafat tepat pada hari seekor singa menerkam kambing lelaki itu.

—

2. Anjing dan Kucing yang Bicara

Di Yaman, seorang lelaki tidur di loteng rumahnya pada malam yang sama. Udara malam dingin menusuk, langit bertabur bintang. Dari bawah, terdengar suara seekor anjing menyalak, lalu… suara itu berubah menjadi kata-kata yang bisa ia pahami.

Anjing: “Wahai kucing, adakah makanan untukku? Aku lapar sekali malam ini.”

Kucing: “Tidak ada. Orang-orang telah menutup semua wadah. Piring-piring sudah dibalik.”

Anjing: “Kalau begitu, bawakan periuk yang belum dicuci. Setidaknya aku ingin mencium aromanya untuk sedikit meredakan lapar.”

Kucing: “Tidak. Itu amanah. Aku tidak akan melanggarnya. Dari mana kau datang dengan keluhan dan rasa lapar ini?”

Anjing itu terdiam sejenak, lalu suaranya berat: “Aku datang dari Syam. Aku menyaksikan wafatnya Umar bin Abdul Aziz dan ikut mengantarkan jenazahnya.”

Kucing itu menghela napas panjang. “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un… Umar adalah salah satu cahaya dunia, dan kini cahaya itu padam.”

Sesudah itu, kucing menghindar, khawatir anjing akan berbuat kasar. Anjing pun beranjak pergi, langkahnya hilang ditelan malam.

Keesokan harinya, lelaki itu berkata pada kucingnya: “Wahai kucing, semoga Allah membalas kesetiaanmu menjaga amanah kami.”

Kucing itu pergi… dan tak pernah kembali.

Hari-hari kemudian, kabar itu tiba di Yaman: Umar bin Abdul Aziz wafat pada malam yang sama ketika anjing dan kucing itu berbicara.

—

3. Syuhada yang Pulang

Di sebuah desa di Syam, seorang lelaki dan istrinya sedang mencangkul tanah. Wajah mereka legam terbakar matahari, tangan mereka kasar oleh kerja keras.

Anak mereka—yang dulu gugur di medan jihad—telah lama mereka lepaskan dengan doa. Namun hari itu, dari kejauhan, lelaki itu melihat seorang penunggang kuda datang. Jantungnya berdebar.

“Istriku,” katanya lirih, “itu anak kita. Dia kembali.”

Istrinya menghentikan cangkul. Wajahnya tegas: “Jangan biarkan setan mempermainkanmu. Engkau rindu, maka semua orang tampak seperti anak kita. Dia telah wafat bertahun-tahun.”

Lelaki itu menunduk, memohon perlindungan dari godaan setan. Mereka kembali bekerja. Namun suara derap kuda semakin dekat. Lelaki itu tak tahan, ia menoleh lagi.

“Istriku, demi Allah, itu anak kita!”

Kali ini, sang istri ikut melihat. Debu yang mengepul dari langkah kuda itu kini begitu dekat. Penunggangnya turun, wajahnya bersinar, matanya menatap penuh kasih.

“Assalamu’alaikum, Ayah, Ibu.”

Mereka membalas salam, mata mereka berkaca-kaca.

“Bukankah engkau telah wafat, wahai anakku?”

“Benar, Ayah, Ibu. Namun tadi malam Umar bin Abdul Aziz wafat. Para syuhada memohon izin kepada Allah agar diperkenankan melihat jenazahnya, dan Allah mengizinkan. Aku termasuk di antara mereka. Aku pun memohon izin agar bisa menemui kalian, dan Allah memberikannya.”

Mereka berbicara sebentar, lalu sang anak pamit. Kuda itu berbalik, meninggalkan debu yang perlahan mengendap kembali di ladang mereka.

—

4. Renungan di Malam yang Sunyi

Kisah-kisah itu—singa yang menerkam kambing, anjing yang berbicara pada kucing, syuhada yang pulang menemui orang tuanya—semua terjadi di malam yang sama. Malam ketika Umar bin Abdul Aziz menutup matanya untuk dunia ini.

Bagi yang hanya melihat dari permukaan, itu hanyalah cerita aneh, kebetulan, atau sekadar legenda. Tapi bagi hati yang peka, itu adalah cara alam dan makhluk Allah memberi kabar bahwa seorang yang adil, zuhud, dan jujur telah berpulang.

Bahkan binatang dan arwah syuhada pun ikut bergerak. Bahkan ladang, angin, dan bintang pun seakan mengantar kepergiannya.

—

UMAR bin Abdul Aziz bukan sekadar khalifah. Ia adalah simbol bahwa kekuasaan bisa bersanding dengan kesederhanaan, bahwa keadilan bisa lahir dari hati yang takut pada Allah, bukan dari takut kehilangan jabatan.

Kematian seperti ini—yang ditandai oleh firasat ulama, tanda alam, dan kesaksian makhluk—mengajarkan bahwa hidup yang benar akan diakhiri dengan cara yang mulia.

Dan mungkin, tanpa kita sadari, di zaman kita pun tanda-tanda seperti itu masih ada. Hanya saja, kita sering terlalu bising untuk mendengarnya. []

Sumber: Ibnu Qutaibah, Politik dan Kekuasaan, Pustaka Al-Kautsar

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *