Sahabat yang Ditegur Rasulullah ﷺ karena Mengabaikan Malam Pengantinnya

4 Min Read
Foto: Freepik

MALAM itu, Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash duduk di sudut rumahnya. Wajahnya memancarkan keteguhan seorang ahli ibadah, namun di matanya ada kelelahan yang hanya dimengerti oleh mereka yang bergelut lama dengan malam. Ia baru saja menikah dengan seorang wanita terpandang. Sang ayah, Amr bin Al-‘Ash — panglima penakluk Mesir yang cerdas — menaruh harapan besar pada rumah tangga putranya.

Sang ayah bukan hanya memperhatikan keberanian dan ilmu Abdullah, tetapi juga menginginkan ia menjadi suami yang penuh kasih. Namun, hari-hari awal pernikahan mereka berjalan… aneh.

Suatu siang, ayahnya mendatangi menantunya.

“Bagaimana suamimu, wahai putriku?” tanya beliau dengan nada lembut.

Sang istri tersenyum malu. “Dia laki-laki terbaik…” jawabnya pelan.

Namun, setelah hening sejenak, suaranya merendah, nyaris berbisik, “Hanya saja… sejak aku datang ke rumah ini, ia belum pernah tidur bersamaku. Ia tidak pernah membuka bajunya di hadapanku. Malam-malamnya ia habiskan untuk berdiri di atas sajadah, berselimut doa dan tilawah…”

Kata-kata itu menusuk hati sang ayah. Ada kebanggaan atas ibadah anaknya, tetapi juga kekhawatiran: bagaimana mungkin rumah tangga bisa bertumbuh tanpa sentuhan kasih? Maka ia pun mendatangi Rasulullah ﷺ, menceritakan apa yang ia dengar.

Rasulullah ﷺ mendengarkan dengan penuh perhatian. Tidak ada sedikit pun guratan marah di wajah beliau, hanya kelembutan yang memanggil kesadaran.

“Bawalah dia menemuiku,” sabda beliau.

—

Ketika Abdullah datang, suasana pertemuan itu penuh wibawa. Abdullah, dengan wajah teduh namun lelah, duduk berhadapan dengan Rasulullah ﷺ.

Beliau memulai dengan pertanyaan yang menusuk tepat ke inti. “Wahai Abdullah, bagaimana cara engkau berpuasa?”

“Setiap hari, wahai Rasulullah,” jawab Abdullah, matanya bersinar bangga.

Beliau tersenyum tipis. “Bagaimana cara engkau mengkhatamkan Al-Qur’an?”

“Setiap malam, wahai Rasulullah,” jawabnya lagi.

Rasulullah ﷺ menghela napas lembut, lalu menatapnya dengan pandangan seorang guru yang sedang menuntun murid kesayangannya keluar dari jalan yang terlalu berat.

“Berpuasalah tiga hari saja dalam sebulan. Dan khatamkan Al-Qur’an sebulan sekali.”

Abdullah menggeleng, “Aku mampu lebih daripada itu.”

Beliau pun menaikkan sedikit. “Kalau begitu, berpuasalah sehari dan berbukalah dua hari.”

“Aku mampu lebih daripada itu,” jawab Abdullah lagi, mantap.

Rasulullah ﷺ tersenyum tipis, kali ini dengan nada tegas namun penuh rahmat. “Kalau begitu, berpuasalah seperti puasa Nabi Dawud — sehari berpuasa, sehari berbuka. Dan khatamkan Al-Qur’an dalam tujuh malam sekali. Itu sebaik-baiknya puasa.”

Abdullah mengangguk. Ia menerima, meski di dadanya masih menyala semangat muda yang ingin berlari lebih jauh.

—

Bertahun-tahun kemudian, usia pun mengepungnya. Rambutnya memutih, langkahnya melambat. Dalam keheningan rumahnya yang kini sering sunyi, Abdullah merenung panjang. Ia teringat malam-malam pengantin yang dulu ia abaikan, teringat wajah muda istrinya yang menatapnya dengan senyum yang menunggu, teringat nasihat Rasulullah ﷺ yang dulu ia rasa terlalu ringan.

“Oh, seandainya dulu aku menerima kelonggaran yang diberikan Rasulullah ﷺ…” ucapnya lirih, nyaris seperti doa yang tertinggal.

—

Kisah ini meninggalkan pelajaran yang dalam. Bahwa ibadah bukan hanya tentang panjangnya malam di sajadah atau banyaknya hari dalam puasa, tetapi juga tentang menunaikan hak-hak orang di sekitar kita. Rasulullah ﷺ mengajarkan keseimbangan: beribadah kepada Allah tanpa melupakan hak tubuh, hak keluarga, hak pasangan.

Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash memang seorang yang luar biasa: penulis hadis yang teliti, ahli ibadah yang gigih, dan sahabat yang zuhud. Tetapi bahkan ia pun diingatkan, bahwa rumah tangga adalah ladang ibadah yang tak kalah mulia dari tahajud yang panjang.

Dan kita, membaca kisah ini hari ini, seakan mendengar suara lembut Rasulullah ﷺ membisik di hati:

“Berikanlah hak kepada dirimu, hak kepada keluargamu, dan hak kepada Tuhanmu. Karena yang seimbang itulah yang paling dicintai oleh Allah.” []

Sumber: Muhammad bin Hasan bin Aqil Musa, Membangun Keteguhan Mukmin, Robbani Press

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
2 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *