Syair Duka Atas Wafatnya Rasulullah ﷺ

7 Min Read
Foto: Freepik

KABAR itu menyayat hati. Langit Madinah seakan runtuh, bumi seperti kehilangan cahaya, dan dada-dada para sahabat berguncang hebat. Hari itu, Rasulullah ﷺ wafat.

Tiada peristiwa yang lebih mengejutkan dan memilukan bagi umat Islam pada masa itu selain detik ketika kabar kematian beliau disampaikan. Para sahabat yang biasanya gagah di medan perang, yang sanggup menahan derita dan luka, tiba-tiba luluh, menangis, bahkan limbung tak sanggup menerima kenyataan.

Di tengah lautan duka itu, beberapa shahabiyah mengungkapkan cintanya dengan syair. Kata-kata mereka bukan sekadar bait puitis, melainkan jeritan jiwa, tangisan hati, dan bukti betapa besar arti kehadiran Rasulullah ﷺ bagi mereka.

—

Syair Shafiyah binti Abdul Muthalib

Shafiyah binti Abdul Muthalib, bibi Rasulullah ﷺ, perempuan yang terkenal dengan ketegasan dan keberaniannya, bahkan sanggup mengangkat senjata ketika para lelaki sedang berperang di parit Khandaq, kini tak kuasa menahan duka.

Ia, yang mendidik Zubair bin Awwam dengan keras hingga kelak menjadi panglima besar Islam, justru menangis dalam kelembutan syairnya. Wanita yang kuat itu runtuh oleh kehilangan yang terlalu besar.

Dalam syairnya ia berkata:

*“Hatiku sedih, semalaman aku bagai orang gila,
Aku memperhatikan malam bagai sedang diserang musuh,
karena kesedihan yang telah membelenggu.

Andai saja aku dapat melupakannya dari kematian,
ketika mereka mengatakan Rasulullah telah tiada.

Peristiwa ini membuat diriku sedih berkepanjangan,
merasuk ke dalam hati seperti orang yang dibenci.

Tidakkah, wahai Rasulullah, engkau telah menjadi pengharapan kami?
Engkau telah banyak berbuat baik pada kami.

Demi Allah, aku tidak menangis karena kematianmu,
tetapi karena malapetaka yang akan datang setelahmu.”*

Bait-bait itu mengalir dari lubuk hatinya yang paling dalam. Ia tidak sekadar berduka karena kehilangan seorang keluarga, tetapi karena menyadari—sepeninggal Rasulullah ﷺ—umat ini akan menghadapi gelombang fitnah dan ujian yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

—

Syair Arwa binti Abdul Muthalib

Tak hanya Shafiyah, bibi Nabi yang lain, Arwa binti Abdul Muthalib, pun melantunkan syair. Arwa dikenal sebagai sosok yang beriman sejak awal, ibu dari Abu Salamah yang syahid dan sekaligus mertua dari Ummu Salamah, salah satu Ummahatul Mukminin.

Arwa menuliskan syair pendek, tetapi padat makna:

*“Wahai Rasulullah, engkau harapan kami,
Engkau sangat baik dan tidak pernah mengabaikan kami.

Hatiku selalu mengingat Muhammad,
segala kesedihan bertumpuk pada hatiku setelah kepergiannya.”*

Kesederhanaan bait ini justru memperlihatkan ketulusan cintanya. Tak ada hiasan kata, tak ada metafora panjang. Hanya hati yang remuk, yang terus-menerus mengingat sosok yang menjadi cahaya hidupnya.

—

Syair Ummu Aiman

Di antara mereka ada pula Ummu Aiman, wanita asal Habasyah yang sejak awal menjadi pengasuh Nabi ﷺ. Dialah yang disebut Nabi sebagai “ibuku setelah ibuku.”

Ia menyaksikan sejak kecil bagaimana Nabi tumbuh sebagai yatim piatu, hingga akhirnya diutus menjadi Rasul. Ia pula yang kemudian ikut hijrah, ikut dalam peperangan, dan merasakan langsung suka-duka perjuangan bersama Nabi.

Ketika Rasulullah ﷺ wafat, Ummu Aiman melantunkan syair pilu:

*“Menangis dan mengeluarkan air mata adalah obat kesedihan,
maka menangislah sepuas-puasnya.

Ketika mereka mengatakan Rasulullah telah tiada,
itulah bencana sebesar-besarnya bencana.

Menangislah untuk sebaik-baik manusia yang pernah diberikan kepada kita,
untuk orang yang mendapatkan wahyu dari langit.

Biarlah air mata mengalir sederas-derasnya,
sehingga Allah menilaimu dengan seadil-adilnya.

Kini yang tersisa hanyalah cahaya,
lampu yang menerangi kegelapan.

Engkau laksana gaharu yang wangi,
semerbak baunya menutup segala kesedihan.
Engkau penutup para nabi.”*

Ummu Aiman menangis bukan hanya sebagai seorang ibu yang kehilangan anak asuhnya, tetapi sebagai seorang mukminah yang merasakan bumi menjadi gelap setelah cahaya kenabian dipanggil pulang.

—

Umar bin Khattab: Guncang Oleh Duka

Di sisi lain, duka itu juga menyelimuti para sahabat laki-laki. Umar bin Khattab, yang biasanya tegar bagaikan karang, justru tidak bisa menerima kenyataan.

Ketika mendengar kabar wafatnya Rasulullah ﷺ, Umar masuk ke Masjid Nabawi dengan pedang terhunus. Suaranya lantang, penuh getaran emosi:

*“Demi Allah, Rasulullah tidak wafat!
Beliau hanya pergi sebagaimana Musa bin Imran pergi menghadap Tuhannya,
lalu kembali setelah empat puluh hari.

Demi Allah, Rasulullah pasti akan kembali!
Dan beliau akan memotong tangan dan kaki orang-orang
yang mengatakan beliau sudah mati!”*

Begitu cintanya Umar, hingga ia menolak kenyataan. Baginya, tak mungkin sosok yang ia cintai lebih dari apapun itu wafat meninggalkan mereka.

—

Abu Bakar: Menenangkan dengan Ayat

Namun dalam kekacauan itu, Abu Bakar ash-Shiddiq, sahabat yang paling lembut hatinya, menenangkan semua. Ia masuk ke rumah Aisyah, melihat jasad Rasulullah ﷺ yang terbaring, lalu membuka kain penutup wajahnya.

Dengan suara lirih bercampur tangis, ia berbisik:

“Demi ayah dan ibuku, engkau indah di hidupmu,
indah pula dalam kematianmu.
Demi Allah, Allah tidak akan mengumpulkan atasmu dua kematian.
Yang satu ini sudah pasti.”

Lalu Abu Bakar keluar menemui kaum muslimin yang berkumpul di masjid. Dengan keteguhan, ia berkata:

“Barangsiapa menyembah Muhammad, maka sesungguhnya Muhammad telah wafat.
Dan barangsiapa menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Hidup, tidak pernah mati.”

Kemudian beliau membacakan ayat suci:

“Muhammad hanyalah seorang rasul.
Sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa rasul.
Apakah jika dia wafat atau terbunuh, kalian akan berbalik ke belakang?”
(QS. Ali Imran: 144)

Maka terheninglah suasana. Umar yang tadi berdiri tegang dengan pedang di tangan pun tiba-tiba melemah, lututnya goyah, dan ia jatuh terisak. Saat itu, seluruh sahabat menyadari, bahwa Nabi ﷺ benar-benar telah kembali ke sisi Allah.

—

Kontemplasi

Tangisan Shafiyah, ratapan Arwa, air mata Ummu Aiman, bahkan guncangan Umar bin Khattab—semuanya mengajarkan kepada kita bahwa mencintai Rasulullah ﷺ adalah fitrah.

Namun, Abu Bakar mengingatkan: cinta itu harus mengantarkan kita kepada Allah, bukan berhenti pada sosok manusia, meski manusia itu adalah yang termulia. Rasulullah ﷺ telah menunaikan risalahnya dengan sempurna, dan kewajiban umat adalah melanjutkan jalan itu, dengan iman dan amal.

Hari itu, Madinah dipenuhi air mata. Tetapi dari air mata itu lahir kekuatan baru: kesadaran bahwa agama ini harus dijaga, meski Nabi telah wafat. Syair-syair para shahabiyah adalah bukti cinta, sementara sabda dan sikap Abu Bakar adalah penuntun arah.

Dan kita, berabad-abad kemudian, masih bisa merasakan getarannya. Karena cinta yang tulus tak pernah mati—ia hanya berpindah bentuk, dari air mata di masa sahabat, menjadi doa dan shalawat kita di masa ini. []

Sumber: Abdul Hamid as-Suhaibani, Para Shahabiyat Nabi, Darul Haq

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *