Janji Allah kepada Nabi Musa di Hijrahnya Rasulullah ﷺ ke Madinah

7 Min Read
Foto: Freepik

ADA momen yang selalu terasa getir bila kita membacanya. Saat Rasulullah ﷺ berdiri di sebuah bukit kecil, menatap Mekah untuk terakhir kalinya sebelum hijrah. Dari balik pandangan penuh cinta, air mata beliau jatuh. Beliau menghela napas panjang, lalu bersabda:

“Allah mengetahui, bahwa engkau (wahai Mekah) adalah negeri yang paling aku cintai. Seandainya bukan karena kaummu mengusirku, niscaya aku tidak akan pernah pergi.”

Begitu dalam rasa itu. Sebuah luka karena harus meninggalkan tanah kelahiran, rumah masa kecil, Ka‘bah yang mulia, dan pusara leluhur. Namun, justru di tengah kesedihan hijrah inilah Allah SWT menurunkan ayat-ayat kisah Nabi Musa. Sebuah kisah panjang, terekam dalam Surat Al-Qashash, sebagai penghiburan sekaligus janji.

Mengapa kisah Musa? Mengapa Allah menghadirkan perjalanan seorang nabi Bani Israil di saat Nabi Muhammad ﷺ sedang melangkah menuju kota asing bernama Madinah?

—

Kisah Nabi Musa: Sebuah Cermin untuk Rasulullah

Surat Al-Qashash memuat potret paling lengkap tentang Nabi Musa. Dari sejak kelahiran hingga kemenangan. Kita membaca, seakan Allah sedang menuliskan biografi seorang nabi pilihan, bukan dalam bentuk catatan manusia, tapi dalam bahasa wahyu yang abadi.

Bayi Musa yang dihanyutkan ke sungai, lalu dibesarkan di istana Fir‘aun.

Pemuda Musa yang harus melarikan diri ke Madyan, hidup di tanah asing, lalu menikahi putri Nabi Syu‘aib.

Nabi Musa yang kembali ke Mesir setelah sepuluh tahun, membawa misi kenabian.

Perjuangan melawan Fir‘aun hingga akhirnya menyaksikan tenggelamnya sang tiran di laut.

Kisah ini penuh dengan perpisahan dan kepergian. Nabi Musa berkali-kali harus meninggalkan sesuatu yang dicintai:

Meninggalkan ibunya saat bayi.

Meninggalkan istana Mesir ke negeri asing Madyan.

Meninggalkan rumah mertuanya untuk kembali ke Mesir.

Meninggalkan Mesir menuju Palestina.

Lalu meninggalkan Palestina menuju Sinai, karena kaumnya enggan masuk ke Tanah Suci.

Bukankah ini mirip dengan Rasulullah ﷺ?

Beliau juga harus meninggalkan Mekah, tanah leluhurnya, menuju Madinah yang asing. Tidak tahu apa yang akan terjadi, tidak tahu apa yang menunggu di masa depan.

—

Kisah Musa sebagai Obat Luka Hijrah

Uniknya, Allah tidak menurunkan kisah Musa yang penuh dengan pergolakan menghadapi Bani Israil yang keras kepala. Tidak. Yang diturunkan justru bagian kisah penuh janji.

Allah ingin menghibur Nabi Muhammad ﷺ. Allah ingin menegaskan: sebagaimana janji itu ditepati kepada Musa, maka janji itu pun berlaku untukmu, wahai kekasih-Ku.

Mari kita telusuri janji-janji Allah kepada Musa dalam Surat Al-Qashash.

—

Janji Pertama: Musa akan Kembali kepada Ibunya

Allah berfirman: “Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa: susuilah dia, dan apabila engkau khawatir terhadapnya, maka hanyutkanlah dia ke sungai. Dan janganlah engkau takut dan jangan bersedih hati. Sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu dan menjadikannya salah seorang dari rasul-rasul.” (QS. Al-Qashash: 7)

Janji itu benar-benar terwujud.

“Maka Kami kembalikan Musa kepada ibunya, agar senang hatinya dan tidak berduka cita, dan agar dia mengetahui bahwa janji Allah itu benar.” (QS. Al-Qashash: 13)

Dan janji itu mencapai puncaknya ketika Musa diangkat menjadi rasul:  “Maka ketika dia datang ke api itu, dia diseru dari arah pinggir lembah sebelah kanan di tempat yang diberkahi, dari sebatang pohon: ‘Wahai Musa, sesungguhnya Aku adalah Allah, Tuhan seluruh alam.’” (QS. Al-Qashash: 30)

—

Janji Kedua: Mereka Tidak Akan Mencapaimu

Allah menegaskan kepada Musa: “Kami akan memperkuat hatimu dengan saudaramu, dan Kami berikan kepada kamu berdua kekuasaan yang besar, maka mereka tidak akan dapat mencapaimu. Dan dengan membawa mukjizat Kami, kamu berdua dan orang-orang yang mengikuti kamu, itulah yang menang.” (QS. Al-Qashash: 35)

Dan janji itu benar-benar nyata: “Maka Kami hukum Fir‘aun dan tentaranya, lalu Kami lemparkan mereka ke laut. Maka lihatlah bagaimana akibat orang-orang yang zalim itu.” (QS. Al-Qashash: 40)

—

Janji Ketiga: Kekuasaan akan Diberikan

Bahkan sebelum Musa tumbuh dewasa, Allah telah menegaskan rencana-Nya: “Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi, dan hendak menjadikan mereka pemimpin-pemimpin, dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi).” (QS. Al-Qashash: 5)

Dan janji itu ditutup dengan gambaran kemenangan akhirat: “Negeri akhirat itu Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di bumi. Dan kesudahan yang baik itu bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Qashash: 83)

—

Rasulullah ﷺ Dihibur oleh Janji

Bayangkan, Rasulullah ﷺ sedang berjalan jauh dalam hijrah, melewati padang pasir, dikejar kaum Quraisy yang siap membunuh. Hati beliau sedang pedih karena meninggalkan tanah air.

Lalu Allah menurunkan kisah Musa. Seakan-akan Allah berkata:

“Wahai Muhammad, engkau bukanlah seorang diri. Lihatlah Musa, bagaimana Aku jaga sejak bayi, bagaimana Aku selamatkan dari Fir‘aun, bagaimana Aku kembalikan kepada ibunya, bagaimana Aku menangkan dia melawan tiran terbesar, dan bagaimana akhirnya Aku berikan kemenangan. Semua janji itu berlaku juga untukmu. Maka janganlah engkau bersedih.”

Bagaimana rasanya dihibur dengan cara ini? Lelah perjalanan hilang, rasa gentar berganti dengan harapan. Sebab janji Allah pasti ditepati, sebagaimana ditepati pada Musa.

BACA JUGA:  Nabi Yusuf di Tengah Kesedihan Mekah

Refleksi: Janji yang Menenangkan Setiap Hijrah

Hijrah bukan hanya peristiwa sejarah. Hijrah adalah gerak sepanjang zaman: meninggalkan yang lama menuju yang baru, meninggalkan keburukan menuju kebaikan, meninggalkan gelap menuju cahaya. Dan setiap hijrah selalu dibarengi rasa kehilangan.

Kita pun kadang merasa berat: meninggalkan kebiasaan buruk, meninggalkan zona nyaman, meninggalkan dunia yang kita cintai. Namun, kisah Musa dan hijrah Rasulullah ﷺ menegaskan: Allah selalu bersama orang yang berhijrah.

Janji Allah selalu berlaku:

Allah akan mengembalikan ketenangan hati.

Allah akan melindungi dari kejaran musuh.

Allah akan memberi kekuatan dan kemenangan.

Dan pada akhirnya, Allah akan memberikan negeri yang lebih baik—baik di dunia maupun di akhirat.

—

Penutup

Hijrah Rasulullah ﷺ ditemani kisah Nabi Musa adalah pelajaran indah. Bahwa di balik air mata ada janji. Di balik perpisahan ada harapan. Dan di balik perjalanan yang melelahkan, ada kemenangan yang pasti.

Allah SWT menghibur Rasulullah ﷺ, dan sekaligus menghibur kita hari ini: “Jangan takut, jangan bersedih. Sesungguhnya janji-Ku benar.” []

Sumber: Amru Khalid, Khowathir Qur’aniyah, Pustaka Al-I’tishom

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *