DALAM tradisi pernikahan, mahar sering kali dipandang sebagai simbol status, gengsi, atau bahkan ajang pamer harta. Tidak jarang kita mendengar calon pengantin yang mengajukan mahar berupa sejumlah besar emas, uang tunai ratusan juta, atau barang-barang mewah lainnya. Padahal, dalam Islam, mahar bukanlah beban, apalagi penghalang bagi terwujudnya pernikahan. Justru, mahar yang terbaik adalah yang paling mudah dan tidak memberatkan.
Apa Itu Mahar?
Secara bahasa, mahar berarti pemberian atau hadiah. Dalam istilah syariat, mahar adalah sesuatu yang wajib diberikan oleh suami kepada istrinya ketika akad nikah sebagai bentuk penghormatan dan bukti keseriusan dalam pernikahan. Allah Ta’ala berfirman: “Berikanlah mahar kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan…” (QS. An-Nisa’: 4)
Ayat ini menegaskan bahwa mahar bukan sekadar formalitas, melainkan hak penuh seorang istri yang wajib ditunaikan suami. Namun, Islam tidak pernah menentukan besaran tertentu. Bahkan, sesuatu yang sederhana pun bisa sah dijadikan mahar.
BACA JUGA: Apa Hukumnya Suami Pinjam Mahar Pernikahan?
Mahar Terbaik: Yang Paling Mudah
Rasulullah ﷺ bersabda: “Sebaik-baik mahar adalah yang paling mudah.” (HR. Abu Dawud no. 2117, dinilai hasan oleh Al-Albani)
Hadis ini menjadi kaidah penting dalam urusan mahar. Islam mengajarkan kesederhanaan agar pernikahan tidak menjadi sesuatu yang sulit atau hanya bisa dijalani oleh orang kaya. Dengan demikian, semakin mudah mahar yang diminta, semakin besar pula keberkahan yang diharapkan.
Contoh dari Rasulullah ﷺ
Kehidupan Nabi Muhammad ﷺ memberikan teladan nyata tentang mahar sederhana:
1- Cincin besi
Dalam sebuah riwayat, ada sahabat yang hendak menikah tetapi tidak memiliki harta. Nabi ﷺ bertanya, “Apakah engkau punya sesuatu?” Ia menjawab, “Tidak ada kecuali cincin dari besi.” Nabi ﷺ pun mengizinkannya menikah dengan mahar cincin tersebut. (HR. Bukhari & Muslim)
2- Mengajarkan Al-Qur’an
Ada pula kisah seorang sahabat yang tidak memiliki harta sama sekali. Maka Nabi ﷺ menikahkannya dengan seorang wanita dengan mahar berupa hafalan Al-Qur’an, yakni sang suami mengajarkan Al-Qur’an kepada istrinya. (HR. Bukhari no. 5087)
Dari dua kisah ini, kita bisa melihat bahwa ukuran mahar bukan pada mahal atau mewahnya, tetapi pada manfaat dan kemampuan suami.
Pandangan Para Ulama
Para ulama sepakat bahwa mahar adalah kewajiban, tetapi jumlahnya tidak ditentukan. Imam Malik rahimahullah berkata: “Tidak ada batasan tertentu dalam jumlah mahar, tetapi yang afdhal adalah tidak berlebihan.”
Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu bahkan pernah menegur kaum muslimin yang meninggikan mahar. Beliau berkata: “Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam mahar wanita. Jika itu kemuliaan di dunia atau ketakwaan di sisi Allah, niscaya Rasulullah lebih dahulu melakukannya. Aku tidak mengetahui Rasulullah ﷺ menikahkan istri-istrinya atau menikahkan putri-putrinya dengan mahar lebih dari 12 uqiyah (sekitar 480 dirham).” (HR. Tirmidzi)
Ini menunjukkan bahwa mahar yang sederhana sudah cukup mulia dan sesuai dengan sunnah Nabi ﷺ.
Hikmah Kesederhanaan Mahar
Mengapa mahar yang terbaik adalah yang mudah? Ada beberapa hikmah di baliknya:
1- Meringankan pernikahan
Semakin ringan mahar, semakin mudah pernikahan dilaksanakan. Hal ini membuka peluang lebih luas bagi kaum muda untuk segera menikah dan terhindar dari zina.
2- Menjaga keberkahan rumah tangga
Kesederhanaan menumbuhkan keikhlasan. Rumah tangga yang diawali dengan niat tulus dan ringan tanpa beban materi insya Allah lebih diberkahi.
3- Menghindari kesombongan dan pamer
Mahar yang berlebihan sering kali menjadi ajang pamer dan justru menghilangkan makna pernikahan yang sejatinya ibadah.
4- Meneladani Rasulullah ﷺ
Dengan memilih mahar sederhana, berarti kita berusaha mengikuti sunnah beliau dan para sahabat.
BACA JUGA: 8 Ciri Laki-Laki yang Sebaiknya Tidak Dinikahi
Penutup
Mahar adalah simbol penghormatan dan keseriusan seorang suami kepada istrinya. Namun, Islam menekankan bahwa sebaik-baik mahar adalah yang paling mudah, bukan yang paling mewah. Rasulullah ﷺ, para sahabat, dan ulama salaf telah memberi contoh betapa sederhana mahar yang mereka praktikkan.
Oleh karena itu, hendaknya kaum muslimin tidak mempersulit pernikahan dengan mahar yang tinggi. Justru, semakin ringan mahar yang disepakati, semakin besar peluang datangnya keberkahan dalam rumah tangga. Seperti sabda Nabi ﷺ: “Sebaik-baik mahar adalah yang paling mudah.”
Semoga kita semua dapat mengamalkan sunnah ini dalam kehidupan, sehingga pernikahan menjadi lebih mudah, lebih berkah, dan lebih diridhai Allah Ta’ala. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE
