Bersabarlah Hingga Bertemu Rasulullah ﷺ di Telaga Surga

8 Min Read
Foto: Freepik

MALAM  selalu menyimpan rahasia. Di antara bintang yang redup dan angin yang berbisik, ada kisah yang diwariskan para sahabat Rasulullah ﷺ. Kisah yang bukan sekadar sejarah, melainkan cahaya yang menuntun hati kita agar tetap sabar, tetap teguh, hingga pertemuan yang paling indah: bertemu Rasulullah ﷺ di telaga surga.

Anshar di Hunain: Luka dan Rindu

Anas bin Malik r.a. menuturkan: pada Perang Hunain, setelah kemenangan diraih dan harta rampasan perang melimpah, Rasulullah ﷺ membagikan seratus ekor unta kepada seorang lelaki Quraisy. Itu membuat sebagian Anshar merasa terabaikan.

Bisik-bisik pun muncul di tengah mereka: “Semoga Allah mengampuni Rasulullah ﷺ. Beliau memberikan harta rampasan perang kepada Quraisy, sedangkan kita dibiarkan. Padahal pedang kita yang dibasahi darah Hawazin.”

Kalimat itu sederhana, namun di baliknya tersimpan luka dan rasa kecewa. Anas melanjutkan, hingga kabar itu sampai ke telinga Rasulullah ﷺ. Maka beliau pun mengumpulkan Anshar di sebuah kemah kulit.

Di sana, Rasulullah ﷺ memandang wajah-wajah setia yang pernah melindunginya ketika beliau diusir dari tanah kelahirannya. Dengan suara yang lembut, beliau bertanya: “Berita apa yang sampai kepadaku dari kalian, wahai kaum Anshar?”

Mereka menjawab lirih: “Orang-orang berakal di antara kami tidak mengatakan apa pun, wahai Rasulullah. Namun sebagian yang masih muda berkata, ‘Semoga Allah mengampuni Rasul-Nya. Beliau memberikan harta kepada Quraisy, sementara kami tidak mendapat bagian. Padahal pedang kami dibasahi darah mereka.'”

Rasulullah ﷺ tersenyum, lalu bersabda: “Sesungguhnya aku memberi harta kepada orang-orang yang baru masuk Islam, agar hati mereka mantap. Apakah kalian tidak rela, bila orang-orang pulang dengan membawa unta dan kambing, sedangkan kalian pulang bersama Rasulullah ﷺ?”

Kalimat itu menembus hati mereka. Seketika, air mata jatuh membasahi wajah. Mereka sadar, pulang bersama Rasulullah ﷺ lebih berharga daripada seribu unta, lebih mulia dari seluruh dunia.

Rasulullah ﷺ menutup dengan janji: “Sesungguhnya, kalian akan menjumpai egoisme diri yang lebih besar lagi. Bersabarlah hingga kalian bertemu Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya aku berada di telaga surga.”

Kalimat itu bagaikan gemuruh lembut di dada. Bahwa sabar bukan hanya soal menahan diri, melainkan jembatan menuju pertemuan agung: pertemuan di telaga Nabi ﷺ, al-Haudh, tempat beliau menanti umatnya.

Pesan Para Ulama

Imam al-Nawawi menafsirkan kisah ini: “Rasulullah ﷺ mengajarkan kepada Anshar bahwa nilai kebersamaan dengan beliau jauh lebih tinggi daripada dunia dan seisinya.”

Syaikh Ibn Hajar al-Asqalani menambahkan: “Telaga Nabi ﷺ adalah simbol kebahagiaan abadi. Kesabaran di dunia akan berbuah manis di sana.”

Dan Buya Hamka menulis dalam Tafsir al-Azhar: “Sungguh, barang siapa yang kembali bersama Rasulullah ﷺ, maka ia telah mendapatkan lebih dari apa pun yang dimiliki manusia. Dunia hanyalah bayangan, sedang kebersamaan dengan Nabi ﷺ adalah cahaya hakiki.”

Firman Allah pun menguatkan: “Dan bersabarlah kamu, karena sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Hud: 115)

Fatimah r.a. dan Rahasia yang Membuat Menangis

Di hari lain, Aisyah r.a. meriwayatkan kisah yang tak kalah menyentuh. Suatu sore, para istri Nabi ﷺ duduk bersama beliau. Tiba-tiba Fatimah datang, wajahnya tenang, langkahnya lembut. Aisyah bersaksi, “Demi Allah, cara berjalan Fatimah sama dengan cara berjalan Rasulullah ﷺ.”

Melihat putrinya, Rasulullah ﷺ bangkit, menyambutnya penuh kasih, seraya berkata: “Selamat datang, wahai putriku.” Beliau mempersilakan Fatimah duduk di sampingnya.

Kemudian beliau berbisik. Fatimah menangis seketika, tersedu-sedu. Tak lama, beliau kembali berbisik, dan Fatimah justru tertawa.

Aisyah penasaran. Setelah Rasulullah ﷺ wafat, ia bertanya: “Wahai Fatimah, apa yang dibisikkan Rasulullah ﷺ saat itu?”

Fatimah menjawab: “Pertama, beliau berkata bahwa ajalnya sudah dekat, karena Jibril menguji bacaan Al-Qur’an beliau dua kali dalam tahun itu. Maka aku menangis. Lalu beliau membisikkan lagi, bahwa aku akan menjadi pemimpin wanita beriman di surga. Maka aku pun tertawa.”

Dalam tangis Fatimah ada perpisahan, dalam tawanya ada pertemuan. Inilah rahasia iman: air mata dan senyum dapat lahir dari bisikan yang sama, sebab keduanya bertemu pada cinta dan sabar.

Sabar: Benang Merah dari Anshar hingga Fatimah

Kisah Anshar dan kisah Fatimah r.a. sama-sama berakhir dengan satu pesan: sabar hingga bertemu Rasulullah ﷺ di surga.

Anshar diminta bersabar dari egoisme dan dunia yang memikat. Fatimah diminta bersabar dari perpisahan paling menyakitkan, yaitu wafatnya ayah tercinta.

Syaikh Abdul Qadir al-Jailani berkata: “Sabar adalah kuda yang tidak akan pernah menjatuhkan penunggangnya hingga sampai di pintu surga.”

Dan ayat Allah kembali meneguhkan: “Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu, tetaplah bersiap siaga, dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.” (QS. Ali Imran: 200)

Doa-doa Kerinduan akan Telaga Nabi ﷺ

Para sahabat dan ulama sering berdoa agar kelak bertemu Rasulullah ﷺ di telaganya. Di antaranya doa yang dinukil dari sahabat:

“Allahumma asqina min haudh Nabiyyika syurbatan haniyyatan la nadhma’u ba’daha abadan.”

(Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami minuman dari telaga Nabi-Mu, minuman yang lezat, hingga kami tak haus lagi selamanya.)

Imam al-Suyuthi meriwayatkan doa seorang tabi’in: “Ya Allah, jangan pisahkan aku dari kekasih-Mu Muhammad ﷺ, dan izinkan aku menemuinya di telaga dengan wajah berseri, bukan wajah yang diusir.”

Doa-doa itu adalah getaran rindu yang menembus zaman. Dari padang pasir Hijaz hingga mushalla kecil di kampung-kampung Nusantara, umat Islam berdoa dengan nada yang sama: ingin bertemu Nabi ﷺ, ingin minum dari tangannya, ingin diakui sebagai umatnya.

BACA JUGA: Penulisan Sejarah Manusia: Andai tanpa Al-Qur’an?

Penutup: Bersabar, Karena Janji Itu Nyata

Jika hari ini kita merasa dunia sering tak adil, jika hati kita pernah dilukai, atau jika doa kita terasa lama diijabah, ingatlah dua kisah ini.

Anshar yang merasa tersisih, akhirnya mendapatkan janji telaga. Fatimah yang menangis karena perpisahan, akhirnya dijanjikan surga sebagai pemimpin wanita beriman.

Semua bermuara pada sabar.

Maka, bersabarlah. Karena sabar bukan berarti diam, melainkan berjalan bersama keyakinan. Bersabarlah, karena sabar adalah tiket menuju pertemuan.

Dan pada hari itu, ketika matahari digulung, bumi diganti dengan bumi lain, saat manusia berdesakan haus dan resah, ada sebuah telaga yang beningnya lebih putih dari susu, lebih manis dari madu. Di sanalah Rasulullah ﷺ berdiri, menanti umatnya.

Beliau ﷺ pernah bersabda: “Aku mendahului kalian di telaga. Barang siapa menemuiku di sana, ia pasti minum darinya. Dan barang siapa minum darinya, ia tidak akan haus selamanya.” (HR. Muslim)

Maka mari kita berdoa dengan hati yang bergetar: “Ya Allah, jadikan kami umat yang sabar, hingga kami berjumpa Rasulullah ﷺ di telaganya. Jangan palingkan wajah kami darinya, dan jangan biarkan tangan kami terlepas dari genggamannya. Aamiin.” []

Sumber: Mahmud Musthafa Saad, Golden Stories, Pustaka Al-Kautsar

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *