1. Sebuah Pertanyaan yang Tak Pernah Usai
Mengapa sepanjang sejarah, orang Yahudi selalu diusir?
Pertanyaan ini tidak hanya muncul dari lidah umat Islam, tetapi juga bergema dalam catatan sejarah dunia. Dari Babilonia hingga Romawi, dari Madinah hingga Andalusia, dari Inggris hingga Spanyol—jejak pengusiran itu berulang, seakan menjadi pola yang tak terhindarkan.
Al-Qur’an telah lebih dulu menyinggung watak kolektif kaum ini: “Maka disebabkan mereka melanggar janjinya, Kami laknat mereka dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka mengubah kalimat (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka diperingatkan dengannya…” (QS. Al-Ma’idah: 13)
Sejarah pun mencatat bahwa setiap kali mereka diberi peluang, mereka mengkhianati. Setiap kali diberi cahaya wahyu, mereka menolaknya. Dan ketika diberi tempat, seringkali mereka justru mengguncang sendi masyarakat yang menaungi mereka.
Mari kita menelusuri empat momentum besar pengusiran Yahudi, untuk menemukan benang merahnya.
—
2. Nebukadnezar dan Pengasingan Babilonia (586 SM)
Bayangkan Yerusalem pada abad ke-6 SM. Kota itu masih menyimpan kebesaran Bait Suci yang dibangun Nabi Sulaiman. Namun, di balik temboknya, bangsa Yahudi mulai berpaling dari ajaran Tuhan, larut dalam penyembahan berhala, dan melupakan hukum Taurat.
Raja Yehuda, Zedekia, bersekutu dengan Mesir untuk memberontak pada Babilonia. Tindakan itu dipandang Nebukadnezar II sebagai pengkhianatan. Maka ia mengepung Yerusalem, menghancurkan Bait Suci, dan mengangkut ribuan orang Yahudi ke Babilonia.

Peristiwa ini dikenal sebagai Babylonian Exile—diaspora besar pertama Yahudi. Sejarawan Yahudi Heinrich Graetz menulis bahwa kehancuran ini adalah “buah dari kesombongan dan ketidaktaatan bangsa sendiri, bukan semata-mata kekuatan musuh.”
Firman Allah mengingatkan: “Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab itu: Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali, dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar.” (QS. Al-Isra’: 4)
Maka pengusiran di era Nebukadnezar menjadi bukti nyata dari janji Allah ini.
—
3. Pemberontakan Bar Kokhba dan Pengusiran Romawi (132–135 M)
Lompat enam abad kemudian. Yerusalem kini berada di bawah Romawi. Setelah wafatnya Nabi Isa ‘alaihis salam, bangsa Yahudi tidak berhenti memberontak. Puncaknya adalah Pemberontakan Bar Kokhba (132–135 M), dipimpin Simon Bar Kokhba yang dianggap sebagian Yahudi sebagai “Mesias.”
Namun, pemberontakan itu justru membawa malapetaka. Kaisar Hadrian menghancurkan Yerusalem, mengganti namanya menjadi Aelia Capitolina, membangun kuil pagan di lokasi Bait Suci, dan melarang Yahudi masuk ke Yerusalem.
Sejarawan Romawi, Cassius Dio, mencatat: “Hampir seluruh bangsa Yahudi musnah; lima puluh benteng dan hampir seribu desa dihancurkan. Orang-orang Yahudi yang tersisa tercerai-berai.”
Apakah ini sekadar politik? Tidak hanya itu. Romawi menilai Yahudi terlalu sering memberontak, tidak bisa tunduk, dan merusak stabilitas.
Al-Qur’an kembali mengingatkan tentang sikap kaum ini: “Mereka beriman kepada sebagian Kitab dan ingkar kepada sebagian yang lain. Maka tidak ada balasan bagi orang yang berbuat demikian selain kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat…” (QS. Al-Baqarah: 85)
—
4. Madinah, Rasulullah ﷺ, dan Umar bin Khattab r.a.
Abad ke-7 M. Di Yatsrib (Madinah), Yahudi hidup berdampingan dengan kaum Aus, Khazraj, dan kaum Muslimin yang baru berhijrah. Rasulullah ﷺ mengikat perjanjian dalam Piagam Madinah: setiap kelompok dijamin haknya, selama tidak berkhianat.
Namun sejarah mencatat:
Bani Qainuqa’ melanggar perjanjian, menindas seorang muslimah di pasar, dan menantang perang. Mereka diusir.
Bani Nadhir bersekongkol untuk membunuh Rasulullah ﷺ. Mereka diusir.
Bani Quraizhah berkhianat saat Perang Khandaq, membuka pintu kota untuk Quraisy. Mereka dihukum.
Di masa Umar bin Khattab r.a., kebijakan Rasulullah ﷺ ditegakkan: Yahudi dan Nasrani dipindahkan dari Jazirah Arab, demi menjaga kesucian tanah haram dari pengkhianatan.
Sejarawan Barat, William Montgomery Watt, menulis: “Kaum Yahudi di Madinah tidak hanya menolak kenabian Muhammad, tetapi juga aktif bersekongkol dengan musuh-musuh beliau. Pengusiran mereka bukan sekadar konflik agama, melainkan langkah politik dan keamanan.”
—
5. Eropa Pasca Perang Salib
Loncat lagi ke abad pertengahan. Setelah Perang Salib (1096–1291), Eropa dipenuhi fanatisme Kristen. Orang Yahudi dipandang sebagai “pembunuh Yesus” (deicide).
Ketika wabah Black Death (1347–1351) melanda, mereka difitnah meracuni sumur. Ditambah lagi, peran Yahudi dalam riba dan monopoli keuangan menimbulkan kebencian sosial.
Maka pengusiran demi pengusiran pun terjadi:
Dari Inggris (1290) oleh Raja Edward I.
Dari Prancis (1306 dan 1394) oleh Raja Philip IV dan Charles VI.
Dari Spanyol (1492) oleh Raja Ferdinand II dan Ratu Isabella melalui Edict of Expulsion.
Ironisnya, pengusiran besar-besaran ini membuat banyak Yahudi mencari perlindungan ke dunia Islam, termasuk Kesultanan Utsmani, yang kala itu justru memberi ruang aman.
Sejarawan Yahudi-Amerika, Salo Baron, menolak pandangan bahwa Yahudi selalu menjadi korban semata. Ia menulis: “Sikap eksklusif, praktik keuangan, dan loyalitas yang sering dipertanyakan, ikut menyumbang pada konflik yang berulang.”
—
6. Pola yang Terulang
Jika ditarik benang merah, maka pengusiran Yahudi sepanjang sejarah berpangkal pada tiga hal:
1. Pengkhianatan politik – mereka bersekongkol dengan musuh atau memberontak pada penguasa (Babilonia, Romawi, Madinah).
2. Konflik agama – menolak wahyu, membunuh nabi, dituduh membunuh Yesus.
3. Ketegangan sosial-ekonomi – monopoli, riba, fitnah wabah, dan eksklusivitas yang menciptakan jurang.
Maka jelaslah, sejarah tidak berdiri di ruang hampa. Ia bergerak selaras dengan firman Allah:
“Telah kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik…” (QS. Al-Ma’idah: 82)
—
7. Sebuah Refleksi
Apakah semua orang Yahudi sama? Tentu tidak. Al-Qur’an sendiri mengingatkan bahwa di antara mereka ada yang jujur dan adil. Namun, sejarah politik kolektif mereka menunjukkan pola berulang: ketika diberi tempat, seringkali mereka melawan, dan ketika diberi cahaya, seringkali mereka padamkan.
Tidak heran, setiap kali mereka diusir, dunia mencatatnya bukan hanya sebagai peristiwa politik, tetapi juga sebagai pelajaran moral.
Mungkin benar kata sejarawan Inggris Arnold Toynbee: “Bangsa Yahudi adalah fosil hidup dari sebuah peradaban yang menolak untuk larut, tetapi justru karena itu, mereka sering berbenturan dengan dunia di sekelilingnya.”
—
8. Penutup: Antara Sejarah dan Janji Langit
Mengapa Yahudi selalu diusir?
Karena sejarah, wahyu, dan pengalaman manusia bersatu dalam satu pola: pengkhianatan, kesombongan, dan eksklusivitas tak pernah berbuah kekal.
Mereka pernah diusir dari Babilonia, Romawi, Madinah, hingga Eropa. Dan kini, dunia kembali menyaksikan kebangkitan pola lama di Palestina, di mana kezhaliman Israel perlahan mengundang perlawanan global.
Sejarah seakan berbisik: setiap kezhaliman memiliki akhir.
Dan firman Allah menegaskan: “Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan bagi orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang beriman.” (QS. An-Nisa’: 141)
Maka, jika sejarah adalah cermin, bukankah bayangan akhir itu sudah mulai tampak? []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

