“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) dunia; dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi.” — QS. Al-Qashash [28]: 77
SETIAP pemimpin memiliki asal keyakinan tentang dari mana kekayaannya datang. Ada yang meyakini bahwa semua berasal dari kecerdikan diri, ada yang membanggakan jumlah pengikut dan aset, ada pula yang memegang erat hartanya seolah dunia berputar karena dirinya. Tapi Al-Qur’an menunjukkan empat wajah kepemimpinan dan manajemen yang lahir dari sikap hati manusia terhadap nikmat Tuhan — dan bagaimana keempatnya berakhir.
—
1. Qarun: Pemimpin yang Menyembah Kecerdasannya Sendiri
“Qarun berkata, ‘Sesungguhnya aku hanya diberi (harta itu), karena ilmu yang ada padaku.’” — QS. Al-Qashash [28]: 78
Qarun bukan sekadar simbol orang kaya. Ia adalah role model dari self-made leadership yang terputus dari kesadaran ilahiah. Ia menganggap kekayaan sebagai hasil kecerdasannya — bukan karunia Allah. Dalam bahasa manajemen modern, Qarun adalah figur ego-driven leader: pandai, sistematis, tapi kehilangan arah moral.
Profesor Rhenald Kasali sering menyebut tipe pemimpin seperti ini sebagai “pemimpin yang sibuk dengan dirinya sendiri.” Mereka membangun sistem yang kuat, tapi tidak membangun manusia di dalamnya.

Sementara Peter Drucker sudah lama mengingatkan bahwa “management is doing things right; leadership is doing the right things.” Qarun melakukan segalanya “dengan benar” menurut logika bisnisnya — tapi bukan hal yang benar menurut nilai-nilai kehidupan.
Qarun tenggelam bukan karena ia kaya, tapi karena kekayaan membuatnya buta. Dalam sistem manajemen modern, itu mirip dengan perusahaan yang hancur oleh kesombongan inovasinya sendiri — seperti kasus Enron atau FTX. Dalam istilah Jim Collins, mereka jatuh karena hubris born of success — kesombongan yang lahir dari keberhasilan.
—
2. Pemilik Kebun dalam Surat Al-Kahfi: Pemimpin yang Menyembah Jumlah dan Jaringan
“Dia berkata kepada temannya ketika berbincang dengannya: ‘Aku lebih banyak daripadamu dalam hal harta dan lebih kuat dalam pengaruh.’” — QS. Al-Kahfi [18]: 34
Pemilik dua kebun dalam kisah Al-Kahfi menggambarkan pemimpin yang mengukur nilai dirinya dari ukuran luar: banyaknya aset, luasnya jaringan, dan kuatnya pengaruh sosial.
Inilah mentalitas manajer yang menuhankan angka — followers count, market share, total revenue — tapi melupakan keberkahan dan tanggung jawab sosial.
Dalam dunia manajemen, ini mirip dengan “growth-at-any-cost leadership”: orientasi ekspansi tanpa refleksi. Stephen Covey, dalam The 7 Habits of Highly Effective People, menyebutnya sebagai “kepemimpinan reaktif” — yang berakar dari ego dan ketakutan akan kehilangan status.
Al-Qur’an menggambarkan bagaimana kebun yang subur itu tiba-tiba hancur karena satu malam bencana. Refleksi spiritualnya jelas: ketika manajemen tak lagi berorientasi pada keberlanjutan (sustainability), tapi hanya pada pride of ownership, maka kehancuran bukan soal waktu — melainkan kepastian.
—
3. Pemilik Kebun dalam Surat Al-Qalam: Pemimpin yang Kikir dan Eksploitatif
“Sesungguhnya Kami telah menguji mereka sebagaimana Kami telah menguji pemilik kebun, ketika mereka bersumpah untuk memetik hasilnya di pagi hari, dan mereka tidak menyisakan (sesuatu pun) untuk orang miskin.” — QS. Al-Qalam [68]: 17–18
Ini adalah tipe kepemimpinan yang mengatur sumber daya secara efisien tetapi tanpa belas kasih. Mereka adalah manajer yang obsesif terhadap efisiensi, produktivitas, dan laba — namun lupa keadilan dan kebermanfaatan sosial.
Dalam pandangan Rhenald Kasali, inilah pemimpin “yang kehilangan jiwa sosial dalam kapitalisme.” Ia menyebutnya “the soulless manager”, yang mengelola dengan kepala dingin tapi hati beku.
Jika dikaitkan dengan teori modern, gaya ini menyerupai McGregor’s Theory X — pemimpin yang berasumsi bahwa manusia malas, harus dikontrol ketat, dan hanya termotivasi oleh uang. Padahal, Al-Qur’an memperlihatkan kebalikan: Allah justru menguji manusia agar muncul keikhlasan memberi. Ketika pemilik kebun bersekongkol menahan hak kaum miskin, kebun itu dibinasakan — bukan karena salah manajemen, tapi karena salah niat.
Peter Senge dalam The Fifth Discipline menyebut kesalahan seperti ini sebagai “learning disability” — ketidakmampuan organisasi untuk belajar dari nilai moral.
—
4. Kaum Saba’: Pemimpin yang Tidak Bersyukur
“Sungguh, bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) pada tempat kediaman mereka: dua kebun di kanan dan di kiri (mereka). (Kepada mereka dikatakan), ‘Makanlah dari rezeki Tuhanmu dan bersyukurlah kepada-Nya.’ Tetapi mereka berpaling, maka Kami kirimkan kepada mereka banjir besar.” — QS. Saba’ [34]: 15–16
Kaum Saba’ adalah contoh peradaban yang berhasil secara ekonomi, tetapi gagal dalam keberlanjutan spiritual. Mereka memiliki irigasi, perdagangan, dan kekayaan yang makmur — tapi kehilangan rasa syukur, lalu runtuh oleh bencana ekologis dan sosial.
Dalam bahasa Jim Collins, kaum Saba’ mewakili fase “decline of discipline”: ketika organisasi berhenti bersyukur dan mulai menganggap kemakmuran sebagai hak, bukan amanah.
Rhenald Kasali pernah berkata, “Banyak organisasi yang gagal bukan karena tidak punya sistem, tapi karena kehilangan makna.”
Itulah inti kehancuran Saba’: kehilangan makna keberhasilan.
Dari sudut pandang kepemimpinan modern, mereka gagal menerapkan prinsip stewardship — yaitu kesadaran bahwa pemimpin bukan pemilik, melainkan pengelola amanah. Peter Drucker menulis, “The purpose of management is to make human strengths productive and human weakness irrelevant.”
Saba’ gagal karena kekuatannya justru menjadikan mereka lemah — tidak lagi belajar, tidak lagi berterima kasih.
—
Refleksi: Empat Watak, Satu Pertanyaan
Jika empat kisah ini kita sejajarkan, maka Al-Qur’an tidak sedang menceritakan sejarah masa lalu, tetapi memperlihatkan empat mentalitas kepemimpinan yang terus berulang di zaman modern:
Qarun, merasa pintar sendiri, ego-driven leadership, tenggelam dalam keangkuhan
Pemilik kebun Al-Kahfi, menyombongkan pengikut dan aset, image-based leadership, hancur oleh kesombongan
Pemilik kebun Al-Qalam, kikir & eksploitatif Efficiency without empathy, dihancurkan untuk diingatkan
Kaum Saba’, tidak bersyukur, Wealth without gratitude, runtuh oleh kehilangan makna
BACA JUGA: Wah, Ternyata Shalat Itu Peta Bisnis?
Dari “Kepintaran” ke “Keberkahan”
Rhenald Kasali sering menulis bahwa kepemimpinan sejati bukan tentang “siapa yang paling pintar”, tapi “siapa yang paling bertumbuh.”
Sementara Stephen Covey menegaskan, “Leadership is communicating to people their worth and potential so clearly that they see it in themselves.”
Itulah antitesis dari Qarun, dari pemilik kebun yang kikir, dari kaum Saba’ yang sombong.
Dalam manajemen modern, nilai spiritual bukan penghambat, melainkan kompas strategis. Organisasi yang memiliki budaya syukur, kolaborasi, dan memberi — cenderung lebih tahan terhadap krisis dan lebih stabil dalam inovasi. Inilah prinsip yang oleh Covey disebut “principle-centered leadership”, dan oleh Collins disebut “Level 5 Leadership”: kerendahan hati yang berpadu dengan keteguhan visi.
—
Penutup: Mengelola Amanah, Bukan Memiliki Dunia
Empat kisah ini mengajarkan satu prinsip universal: kekuasaan, kekayaan, dan kepintaran adalah amanah, bukan prestasi pribadi.
Kepemimpinan sejati tidak lahir dari seberapa banyak kita punya, tapi seberapa dalam kita menyadari bahwa semua itu bukan milik kita.
“Sesungguhnya manusia diciptakan dalam keadaan tergesa-gesa. Aku akan perlihatkan kepadamu tanda-tanda-Ku, maka janganlah kamu minta agar Aku menyegerakannya.” — QS. Al-Anbiya [21]: 37 []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

