Sudah Siapkah Kita Menghadapi Kematian?

7 Min Read
Foto: Freepik

SUDAHKAH kita layak bertemu dengan Allah?

Pada usia kita yang sekarang, sudah berapa banyak bekal yang sudah kita kumpulkan untuk pulang ke kampung abadi? Karena kita tidak pernah tahu kapan Allah memanggil kita. Sedetik setelah ini bisa saja Malaikat maut mencabut nyawa kita. Adakah yang bisa lari darinya? Allah tidak memandang kita apakah sudah siap atau belum, Allah tak melihat apakah kita masih punya banyak tanggungan, atau apakah kita masih dibutuhkan orang lain atau tidak.

Allah ta’ala berfirman,

كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِۗ ثُمَّ اِلَيْنَا تُرْجَعُوْنَ

Artinya: Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan. (QS. Al Ankabut: 57)

كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِۗ وَاِنَّمَا تُوَفَّوْنَ اُجُوْرَكُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ ۗ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَاُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. [Ali Imrân:185]

Al-Hafidh Ibnu Katsir menjelaskan maksud ayat diatas dalam tafsirnya: “Allah ta’ala mengkabarkan secara umum bahwa seluruh makhluk yang dikarunia nyawa pasti dirinya akan merasakan kematian.

Ayat ini senada dengan firman-Nya:

كُلُّ مَنۡ عَلَيۡهَا فَانٖ ٢٦ وَيَبۡقَىٰ وَجۡهُ رَبِّكَ ذُو ٱلۡجَلَٰلِ وَٱلۡإِكۡرَامِ [الرحمن: 26-27]

“Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan“. [Ar-Rahmaan: 26-27].

Hanya Allah ta’alla semata Dzat yang Maha Hidup, kekal tidak pernah mati, sedangkan jin dan manusia mereka semua mengalami kematian. Demikian pula para malaikat dan pembawa Arsy juga mati, tinggal Allah Yang Maha Esa yang mempunyai kebesaran yang akan tetap kekal, menjadi Dzat yang akhir seperti halnya menjadi Dzat yang awal.

Semua kita akan mati. Masalahnya hanya cepat atau lambat saja. Ada jiwa yang masih suci, belum pernah terkontaminasi oleh dosa sudah dipanggil Allah, ada jiwa yang sudah terkontaminasi tapi dikasih kesempatan oleh Allah untuk membersihkannya, dan ada jiwa yang kotor tapi selalu merasa suci, dan akhirnya mati dalam kondisi belum berbenah.

Andai makhluk mengetahui ajalnya, tentu semua akan berlomba-lomba menyiapkan bekal untuk mati, tapi karena ketidaktahuannya maka kematian seolah menjadi perkara yang diragukan.

Usia di dunia ini adalah usia paling pendek dibandingkan di alam kubur, apalagi di akhirat yang kekal selamanya. Namun justru waktu yang sebentar ini menjadi penentu tempat dan kedudukan kita kelak.

Jangankan berbicara di kehidupan abadi, di alam kubur saja waktunya jauh lebih panjang dari kehidupan di dunia, bisa dibayangkan betapa lamanya para ahli kubur menunggu datangnya hari kiamat. Imam Nawawi rahimahullah sosok ulama masyhur, wafat di usia sekitar 40 tahunan di tahun ±670-an H (tidak bisa dipastikan karena banyak versi). Artinya hingga saat ini lebih dari 770-an tahun beliau di alam kubur (hitungan di dunia). Hanya ±25 tahunan beliau beramal (usia baligh) untuk menikmati hasil selamanya. Bagaimana mungkin kita enggan berlelah-lelah sebentar saja untuk menikmati di kehidupan abadi selamanya.

Betapa banyak orang ingin mati karena lari dari kenyataan di dunia, padahal orang mati justru mengharapkan bisa kembali di dunia walaupun hanya sebentar untuk beramal yang bisa membantu mereka di alam sana.

Apa yang hendak mereka lakukan?, diantaranya ada beberapa dalil yang menyebutkan:

(1). Shalat Sunnah dua Rakaat

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu telah berkata: “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam melewati sebuah Kuburan, lalu beliau bertanya, “Siapa penghuni kuburan ini?” Mereka pun lalu menjawab, “Ini kuburannya si Fulan”, lantas Rasulullah shalalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Shalat dengan dua rakaat lebih dia cintai, dari pada apa-apa yang tersisa dari dunia kalian” (HR. Ath-Thabraaniy, Shahiihut Targhiib wat Tarhiib no. 391)

(2). Ingin Bersedekah

“Dan infakkanlah sebagian (Rezeki) dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kalian. Lantas dia pun Berkata (dengan Menyesali) : “Ya Tuhanku, Sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku pun dapat bersedekah dan termasuk orang-orang yang shalih” (QS. Al-Munafiqun ayat 10)

(3). Melaksanakan Amal Shalih

“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), sehingga apabila Datang kematian Kepada Seseorang Dari Mereka, dia pun berkata : “Ya Tuhanku, kembalikan aku (ke dunia) agar aku dapat beramal shalih yang telah aku tinggalkan”. Sekali-kali tidak! Sungguh itu adalah dalih yang diucapkannya saja, dan di hadapan mereka ada Barzakh Sampai Pada Hari Mereka dibangkitkan” (QS.Al-Mukminun ayat 99-100)

Imam Ibnu Rajab berkata, “Angan-angan terbesar orang-orang yang mati di alam kubur mereka adalah hidup sesaat untuk taubat dan beramal shalih yang telah luput dari mereka, sedangkan orang-orang yang masih hidup di dunia ini justru menyia-nyiakan hidup mereka sehingga umur mereka habis percuma dalam kelalaian, bahkan sebagian dari mereka ada yang menghabiskannya untuk bermaksiat” (Lathaa-iful Ma’aarif hal 339)

(4). Ingin Memberikan Kabar Gembira pada Kaum atau Keluarga yang Hidup

“Dikatakan (kepadanya) : “Masuklah Ke dalam surga. Dia berkata: “Alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui apa yang menyebabkan Tuhanku memberi ampun kepadaku dan menjadikan aku termasuk orang-orang yang dimuliakan” (QS. 36 : 26-27)

Rasulullah bersabda : “Apabila seorang mukmin Telah melihat apa yang dilapangkan padanya di dalam Kuburnya, maka ia berkata: “Biarkanlah diriku, aku ingin memberi kabar gembira keluargaku”. Maka Malaikat pun berkata kepadanya : “Tenanglah” (HR. Ahmad no. 14587, hadits dari Jabir bin Abdillah, lihat Silsilah ash-Shahiihah no. 1344)

BACA JUGA:  Bolehkah Seseorang Mengangan-angankan Kematian?

(5). Ingin Mati Syahid lagi

“Tidak ada seorang pun yang telah masuk surga namun dia senang untuk kembali ke dunia padahal dia hanya mempunyai sedikit harta di bumi ini, kecuali orang yang mati syahid. Dia berangan-angan untuk bisa kembali ke dunia, kemudian berperang, lalu terbunuh lagi hingga 10 kali, karena dia melihat keistimewaan karamah (orang yang mati syahid)” (HR. Bukhari 2817 & Muslim 1877, haditsnya dari Anas bin Maalik)

(6). Ingin mendapatkan ujian/ musibah

Rasulullah sallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Orang-orang yang sehat (ahlul ‘afiyah) di hari kiamat nanti berharap kulitnya digunting dengan gunting ketika melihat orang-orang yang sakit (ahlul musibah) mendapatkan pahala. (HR. Turmudzi no : 2402. lihat Silsilah As-Shohehah no : 2206)

Wallahu a’lam. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *