(Sebuah Kajian Naratif-Reflektif Berdasarkan At-Taubah ayat 128)
DI antara ayat Al-Qur’an yang paling kuat menggambarkan hubungan Rasulullah ﷺ dengan umatnya adalah firman Allah dalam Surah At-Taubah ayat 128. Ayat ini tidak hanya menjadi potret akhlak Nabi yang luhur, tetapi juga menyingkap kedalaman cinta beliau kepada manusia, terutama kaum mukmin, yang tidak tertandingi oleh siapapun sepanjang sejarah kemanusiaan.
> لَقَدْ جَاۤءَكُمْ رَسُوْلٌ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ عَزِيْزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيْصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِيْنَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ
“Sungguh, telah datang kepada kalian seorang Rasul dari kalangan kalian sendiri. Berat terasa olehnya penderitaan yang kalian alami. Ia sangat menginginkan keselamatan bagimu. Dan terhadap orang beriman, ia amat belas kasihan dan penyayang.”
Ayat ini turun pada fase yang sangat berat: masa akhir kehidupan Nabi ﷺ, ketika kekuatan munafik masih ada, ketika sebagian umat mulai longgar dalam komitmen, dan ketika berbagai fitnah mulai bermunculan. Pada situasi seperti itu, Allah menurunkan ayat yang menegaskan siapa sebenarnya Rasulullah: bukan hanya seorang pemimpin, bukan hanya penyampai wahyu, tetapi puncak kasih sayang Allah yang diwujudkan dalam sosok manusia.
—
“Rasūlun min anfusikum”: Rasul dari Kalangan Kalian Sendiri
Ungkapan ini tampak sederhana, namun para mufassir menegaskan bahwa di dalamnya terdapat hikmah besar. Allah tidak mengutus malaikat sebagai Rasul terakhir. Allah mengutus manusia, dari suku yang sama, dari bahasa yang dipahami masyarakat Arab, dari lingkungan sosial yang mereka ketahui sejak kecil. Ini sekaligus menutup pintu alasan bagi mereka yang menolak risalah dengan dalih bahwa Nabi bukan bagian dari komunitas mereka.

Sebagian mufassir menegaskan bahwa frasa ini dipertegas oleh hadis pilihan keturunan:
“Sesungguhnya Allah memilih Bani Kinanah dari anak Ismail, memilih Quraisy dari Kinanah, memilih Bani Hasyim dari Quraisy, dan memilihku dari Bani Hasyim.” (HR. Muslim dan at-Tirmiżī)
Dengan kata lain, Allah mengutus kepada umat manusia seorang utusan yang:
- nasabnya paling mulia,
- akhlaknya paling agung,
- dikenal secara dekat oleh masyarakatnya,
- dan dibangun dari tradisi kesucian keturunan yang terjaga.
Karena itulah para mufassir mengatakan:
“Jika orang Arab tidak percaya kepada Nabi yang mereka kenal sejak kecil, bagaimana mungkin orang non-Arab akan lebih mudah beriman?”
Namun pada hakikatnya, ayat ini juga ditujukan kepada seluruh umat. Karena kemuliaan Nabi tidak terbatas pada ikatan kesukuan—beliau adalah rahmat bagi seluruh alam.
—
Nabi Tidak Rela Jika Umatnya Tertimpa Kesengsaraan
Bagian ayat “‘azīzun ‘alayhi mā ‘anittum” mengungkapkan inti hati Rasulullah ﷺ. Berat bagi beliau melihat umatnya menderita. Sebab, bukan hanya akal, pemikiran, dan strategi yang membentuk perjuangan Nabi — tetapi hati yang penuh rahmat.
Sejak di Mekah, Rasulullah ﷺ telah memikul rasa sakit umatnya:
- beliau melihat Bilal disiksa, dan hatinya perih,
- beliau melihat Sumayyah dibunuh, dan air matanya jatuh,
- beliau menyaksikan keluarga Yasin dikejar-kejar, dan doa keselamatan dipanjatkan,
- beliau mendengar rintihan orang miskin, lalu memberikan apa pun yang ada pada beliau, bahkan jika itu berarti beliau tidur dalam keadaan lapar.
Demikian pula dalam urusan akhirat. Nabi ﷺ tidak rela jika ada satu pun umatnya yang celaka. Dalam banyak riwayat, beliau menangis pada malam-malam tertentu sambil membaca ayat:
“Jika Engkau menyiksa mereka, maka mereka adalah hamba-hamba-Mu;
dan jika Engkau mengampuni mereka, sungguh Engkaulah Yang Mahaperkasa lagi Maha Bijaksana.” (al-Māidah: 118)
Umar bin Khattab yang menyaksikan tangisan itu ikut menangis, karena memahami bahwa kecintaan Nabi kepada umatnya bukan cinta biasa. Itu adalah cinta yang diletakkan Allah di dalam hati beliau.
—
Nabi Sangat Menginginkan Hidayah bagi Manusia
Allah menggambarkan keinginan Nabi melalui kata “ḥarīṣun ‘alaykum” — sangat menginginkan kebaikan bagi kalian. Bukan hanya ingin, tetapi sangat ingin, sampai-sampai Allah menegur beliau dalam beberapa ayat karena begitu sedih melihat manusia tidak kunjung beriman.
Allah berfirman:
“Jika engkau sangat mengharapkan mereka mendapat petunjuk, ketahuilah bahwa Allah tidak memberi petunjuk kepada orang yang telah disesatkan-Nya…” (an-Naḥl: 37)
Dan:
“Kebanyakan manusia tetap tidak beriman, walaupun engkau amat menginginkannya.” (Yūsuf: 103)
Ayat-ayat ini menghibur hati Nabi sekaligus menggambarkan intensitas kasih beliau kepada manusia. Dalam riwayat lain, Rasulullah ﷺ menyatakan:
“Perumpamaanku dengan kalian laksana seseorang yang menyalakan api, lalu serangga-serangga mendekat ke api itu. Aku memegang kalian agar tidak terjun ke dalam api, sementara kalian berusaha melepaskan diri dariku.” (HR. Muslim)
Inilah akhlak seorang pemimpin yang bukan hanya memberi perintah, tetapi memikul kesedihan ketika perintahnya tidak dipahami. Beliau bukan hanya penyampai wahyu, tetapi penyelamat umat.
—
Rasulullah ﷺ Amat Belas Kasihan dan Penyayang
Ayat ini diakhiri dengan dua sifat:
- Ra’ūf — amat belas kasihan,
- Raḥīm — sangat penyayang.
Kedua sifat ini juga merupakan sifat Allah. Pemberian sifat ini kepada Nabi menandakan:
- 1. Allah memuliakan beliau dengan sifat-sifat keilahian yang paling lembut.
- 2. Rahmat Allah kepada manusia disalurkan melalui tangan Nabi.
Contoh nyata akhlak ini dapat ditemukan di sepanjang perjalanan hidup beliau:
* Kasih sayang beliau dalam mengajar
Nabi tidak pernah memarahi sahabat yang salah bertanya, salah memahami, atau melakukan kesalahan karena ketidaktahuan. Bahkan ketika ada Badui kencing di masjid, Nabi tidak marah, tetapi melarang sahabat memukulnya, lalu mendidiknya dengan lembut.
* Kasih sayang beliau dalam memaafkan
Pada saat Fathu Mekah, ketika musuh-musuh yang dulu menyiksa beliau kini berada di bawah kekuasaannya, beliau hanya berkata:
“Pergilah, kalian bebas.”
* Kasih sayang beliau kepada orang miskin
Tidak ada satu pun malam yang membuat beliau tenang jika mengetahui ada seorang fakir yang kelaparan.
* Kasih sayang beliau kepada generasi masa depan
Dalam setiap dakwah beliau, selalu ada doa khusus untuk umat yang belum lahir. Dalam hadis, beliau berkata:
“Aku rindu kepada saudara-saudaraku.”
Para sahabat bertanya,
“Bukankah kami saudara-saudaramu?”
Beliau menjawab,
“Kalian adalah sahabat-sahabatku. Saudara-saudaraku adalah mereka yang beriman kepadaku padahal mereka tidak pernah melihatku.”
(HR. Ahmad)
Kitalah yang dimaksud. Umat akhir zaman. Dan kasih sayang itu tetap mengalir kepada kita.
—
Akhlak Nabi: Puncak dari Rahmat Allah
Para mufassir menjelaskan bahwa ayat At-Taubah ayat 128 merupakan salah satu bentuk penegasan Allah bahwa:
Risalah Nabi adalah rahmat yang nyata di dunia,
akhlak Nabi adalah penjelmaan sifat kasih sayang Allah,
dan kehadiran Nabi adalah rahmat universal, sebagaimana firman-Nya:
“Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.”
(al-Anbiya: 107)
Maka, kasih sayang Rasul bukan sekadar perasaan manusiawi. Ia adalah bagian dari misi langit:
membawa manusia menuju keselamatan dunia dan akhirat.
—
Apa Makna Ayat Ini bagi Kita Hari Ini?
Ayat ini bukan sekadar catatan sejarah spiritual. Ia memanggil setiap Muslim untuk meneladani akhlak Nabi dalam kehidupan nyata.
* Jika Nabi tidak senang umatnya menderita,
maka seorang Muslim tidak boleh menjadi penyebab penderitaan saudaranya.
* Jika Nabi sangat menginginkan hidayah bagi manusia,
maka seorang da’i harus penuh kesabaran dan kasih sayang, bukan kebencian.
* Jika Nabi adalah ra’ūf dan rahīm,
maka umatnya seharusnya menjadi cermin sifat tersebut dalam tutur kata, pekerjaan, dakwah, dan interaksi sosial.
* Jika Nabi memikul beban berat umat,
maka kita pun perlu memikul sebagian beban sesama—sekecil apa pun.
* Jika Nabi mencintai umat yang belum pernah beliau lihat,
maka tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mencintai dan menghormati beliau lebih dari apa pun di dunia.
-BACA JUGA: Akhlak Rasulullah ﷺ kepada Orang Munafik
Penutup: Rasul yang Hidup dalam Hati Umatnya
Surah At-Taubah ayat 128 adalah ayat yang seharusnya membuat seorang Muslim berhenti sejenak, menundukkan kepala, dan bertanya kepada dirinya sendiri:
“Bagaimana mungkin aku tidak mencintai orang yang begitu mencintaiku bahkan sebelum aku lahir?”
Kasih sayang Nabi ﷺ tidak akan pernah terputus. Doa beliau berlaku hingga hari kiamat. Syafaat beliau setia menunggu di mahsyar. Dan akhlak beliau tetap menjadi cahaya bagi siapa pun yang ingin menemukan kedamaian.
Ayat ini bukan hanya ayat tentang Nabi.
Ia adalah ayat tentang hubungan paling indah antara seorang Rasul dan umatnya—hubungan yang dibangun oleh cinta, dipelihara oleh rahmat, dan diabadikan oleh Allah dalam kitab suci-Nya. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE





