Dalam Kesendirian Dakwah

5 Min Read
Foto: Freepik

MENGAPA jalan kebenaran sering terasa sunyi?
Karena ia memang bukan jalan hiburan, bukan pula jalan kemewahan, popularitas, atau kekuasaan.

Orang yang mengembara di ketinggian cita-cita adalah mereka yang meniti jalan keutamaan. Ia bergerak bukan demi dirinya sendiri, tetapi demi sesama hamba—sebagai ungkapan syukur kepada Allah dan harapan akan ridha-Nya. Ia tahu, harga dari cita-cita yang tinggi sering kali adalah kesendirian.

Ia sadar sepenuhnya: semakin luhur tujuan, semakin sedikit tangan yang menyertai. Jalan menuju kemuliaan memang tidak ramai. Ia hanya dilalui oleh mereka yang sanggup berjalan tanpa tepuk tangan.

Suatu hari, dari Ibnu Jad‘an diceritakan, Umar bin Khattab mendengar seseorang berdoa:

“Ya Allah, jadikan aku termasuk golongan minoritas.”

Umar bertanya,

“Wahai fulan, apa yang kau maksud dengan golongan minoritas?”

Ia menjawab dengan tenang,

“Aku mendengar Allah berfirman:

‘Dan tidak beriman bersama Nuh kecuali sedikit.’ (Hud: 40)”

Ia pun menyebut ayat-ayat lain yang senada.

Mendengar itu, Umar berkata dengan rendah hati,

“Ternyata semua orang lebih pintar daripada Umar.”

Di sini, Al-Qur’an berbicara pelan tapi tegas: jumlah tidak pernah menjadi ukuran kebenaran.

Sufyan bin ‘Uyainah menguatkan pesan itu:

“Tempuhlah jalan kebenaran, dan jangan merasa kesepian karena sedikitnya orang yang berpihak kepadanya.”

Fudhail bin Iyad menambahkan dengan nada yang lebih tajam:

“Berpeganglah pada jalan petunjuk, dan jangan gelisah karena sedikitnya orang yang menempuhnya. Jauhilah jalan kesesatan, dan jangan tertipu oleh banyaknya orang yang binasa di dalamnya.”

Sulaiman ad-Darani merangkum semuanya dalam satu kalimat singkat:

“Kesendirianmu dalam setia meniti kebenaran adalah bukti kesungguhanmu.”

https://shopee.co.id/product/1343587831/27310804639?gads_t_sig=VTJGc2RHVmtYMTlxTFVSVVRrdENkVHQ3ZkZSUTMrR3pBWmZZNzdrcnRBMGQ5Mk1KZHhtSGtnTWtzVThsYU9vOW9tR2ttNnRJQnBkZzdXbEhLallWVVd0TzlrNHYzQm1QOGxrd1Awcy9PZ0xwMjZMWVZLUXYwa1J6Q0cra0xUbFVWS2VPeGU4dVZFM3R2aVRYV0lrOEgyUzJ1Nk5RVTUxTjVHeVZ0enhPNGRzPQ&mmp_pid=an_11336250108&uls_trackid=54jrahvh02ke&utm_campaign=id_HSaHp71NrV&utm_content=----&utm_medium=affiliates&utm_source=an_11336250108&utm_term=e8n667egvme1

Orang-orang yang hidupnya menyala oleh semangat iman akan terus naik menuju kesempurnaan, tanpa terikat oleh sedikitnya teman. Ia tidak takut sepi, sebab pada setiap jenjang perjalanan, ia akan bertemu Allah—dan perjumpaan itu menghapus rasa sepi.

Sesungguhnya buah iman yang pertama kali dirasakan oleh seorang mukmin adalah kesadaran bahwa Islam memiliki kekuatan sejati. Kekuatan yang cukup sebagai modal untuk berdiri sendiri. Dengannya, ia tidak mudah goyah oleh pemikiran jahiliyah, dan tidak membutuhkan banyak teman yang justru bisa menyesatkannya.

Karena itu, sering kali satu orang mukmin mampu mewakili sebuah umat. Allah berfirman:

“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan, patuh kepada Allah, dan hanif.” (An-Nahl: 120)

Ibnu Taimiyah menjelaskan ayat ini dengan tafsir yang mengguncang:
Ibrahim disebut umat, karena saat itu ia sendirian dalam iman, sementara manusia yang lain tenggelam dalam kekufuran.

Kesendirian dalam kebenaran bukanlah hal asing bagi para nabi. Dari Anas bin Malik, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Demi Allah, aku disakiti di jalan Allah pada saat tidak ada seorang pun yang disakiti. Demi Allah, aku ditakut-takuti pada saat tidak ada seorang pun yang ditakut-takuti.”

Beliau melanjutkan:

“Pernah berlalu satu hari satu malam, aku dan Bilal tidak memiliki makanan yang bisa dimakan oleh makhluk hidup.”

Karena itu, seorang mukmin tidaklah asing selama ia bersama iman dan kebenaran. Justru merekalah yang menyimpang itulah yang sebenarnya asing.

Seseorang pernah berkata kepada Abdul Wahab Azam,

“Menurutku, engkau ini asing di tengah manusia.”

Ia menjawab dengan tenang,

“Bukan. Merekalah yang asing. Aku berada di duniaku, dan inilah jalanku.”

BACA JUGA:  Menghidupkan Malam: Bekal Sunyi bagi Dakwah yang Berat

Ibnu Qayyim menutup persoalan ini dengan timbangan yang adil:

“Orang yang bersemangat tidak peduli pada orang-orang yang menjauhinya. Mereka hanya banyak secara jumlah, tetapi sedikit dalam nilai.”

Seorang ulama salaf berpesan:

“Tetaplah setia menempuh jalan kebenaran, dan jangan merasa sepi karena sedikitnya orang yang berjalan bersamamu.”

Jika suatu hari kesendirian itu terasa berat, pandanglah mereka yang telah mendahuluimu. Berusahalah menyusul mereka. Pejamkan matamu dari selain mereka, karena selain itu tidak memberi manfaat.

Dan jika di tengah jalan terdengar teriakan yang memanggilmu untuk menoleh, janganlah berpaling. Sebab, sekali engkau menoleh, mereka akan menahanmu.

Orang yang menoleh kepada kebatilan itu seperti biawak. Ia sebenarnya lebih cepat daripada anjing. Namun ketika ia menoleh untuk melihat kejaran anjing, larinya melambat—dan saat itulah ia diterkam.

Kesendirian bukanlah tanda kegagalan.
Ia adalah harga dari kesetiaan. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *