Gazwah dan Sariyah di Ramadhan

4 Min Read
Foto: Freepik

“BUKAN Ramadhan bulan ibadah?”
Seorang murid bertanya lirih di serambi masjid, ketika angin malam berembus lembut membawa aroma tanah.

Aku tersenyum. “Benar. Tapi siapa yang mengatakan ibadah itu selalu sunyi dari perjuangan?”

Ia terdiam.

Langit Ramadhan pernah menyaksikan langkah kaki yang mengguncang padang pasir. Pada 17 Ramadhan tahun 2 Hijriyah, di lembah Badar, Rasulullah ﷺ memandang pasukan kecilnya. Tiga ratus lebih sedikit. Persenjataan seadanya. Di hadapan mereka, seribu pasukan Quraisy berdiri penuh percaya diri.

“Apakah kita siap?” tanya seorang sahabat.

Beliau menengadah, bukan kepada jumlah, bukan kepada pedang. Doa itu lebih tajam dari tombak. Lalu sejarah mencatatnya sebagai Perang Badar, dipimpin langsung oleh Muhammad ﷺ. Tujuannya sederhana—menghadang kafilah Quraisy dan mempertahankan eksistensi Madinah. Tetapi maknanya jauh melampaui strategi. Di Badar, iman diuji. Dan ketika matahari tenggelam, Ramadhan menjadi saksi bahwa kemenangan lahir dari sujud yang panjang.

“Tapi bukankah itu perang?” murid itu kembali bertanya.

“Ya,” jawabku pelan, “perang yang membebaskan keyakinan dari rasa takut.”

Enam tahun setelahnya, Ramadhan kembali bergetar. Kali ini bukan denting pedang yang nyaring, melainkan derap sepuluh ribu langkah menuju Makkah. Tahun 8 Hijriyah. Rasulullah ﷺ memimpin langsung pasukan dalam Fathu Makkah. Kota yang dahulu mengusirnya kini menyaksikan beliau masuk dengan kepala tertunduk, bukan membalas dendam, tetapi membawa ampunan.

“Apa tujuan beliau?” tanya sang murid.

“Menyucikan Ka’bah dari berhala dan mengakhiri dominasi penindasan,” kataku. Dan ketika berhala-berhala runtuh, Ramadhan menjadi bulan pembebasan—bukan hanya kota, tetapi juga hati manusia.

Namun Ramadhan tidak selalu menghadirkan Rasulullah ﷺ di garis depan. Ada pula sariyah—ekspedisi yang beliau amanahkan kepada para sahabat.

https://s.shopee.co.id/2Vlfst3K1Z

Pada Ramadhan 1 Hijriyah, paman beliau, Hamzah ibn Abdul-Muttalib, memimpin ekspedisi pertama di Saif al-Bahr. Tujuannya menghadang jalur dagang Quraisy. Bukan sekadar ekonomi, melainkan pesan: Madinah bukan kota yang bisa ditekan sesuka hati.

Tahun 7 Hijriyah, Ghalib ibn Abdullah al-Laythi memimpin sariyah ke Al-Muraisi’. Ancaman-ancaman kecil di pinggiran Jazirah harus diredam agar stabilitas tetap terjaga.

Dan pada Ramadhan 9 Hijriyah, Ali ibn Abi Talib diutus ke Yaman. Bukan untuk peperangan besar, melainkan dakwah dan konsolidasi. Kadang Ramadhan tidak berisi benturan pedang, tetapi dialog dan perjanjian.

Murid itu kini menunduk, merenung.

BACA JUGA:  Puasa Ramadhan: Meninggalkan Nafsu Demi Allah

“Jadi Ramadhan bukan hanya bulan menahan lapar?” ia berbisik.

“Ramadhan adalah bulan menaklukkan diri,” jawabku. “Dan siapa yang mampu menaklukkan dirinya, ia akan mampu menghadapi dunia.”

Badar mengajarkan keberanian. Fathu Makkah mengajarkan pemaafan. Sariyah-sariyah mengajarkan kesiapsiagaan. Semua terjadi dalam bulan yang sama—bulan ketika Al-Qur’an diturunkan.

Ramadhan tidak pernah lemah. Ia melahirkan generasi yang berpuasa di siang hari dan berjaga di malam hari. Generasi yang menangis dalam doa, lalu tegar di medan laga.

Langit malam itu semakin gelap.
“Apakah kita masih memiliki semangat itu?” tanya muridku.

Aku memandang bulan sabit yang menggantung tipis.

“Ramadhan selalu datang,” kataku pelan. “Pertanyaannya bukan pada bulan itu. Pertanyaannya pada kita—apakah kita datang kepada Ramadhan dengan jiwa yang siap berjuang? []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *