Saat Makan dan Minumnya Hanya Mengikuti Kehendak Allah, Apa yang Terjadi?

3 Min Read
Foto: Freepik

“BUKANKAH  makan dan minum itu kebutuhan paling dasar manusia?”

“Benar,” jawabnya pelan, “tetapi Ramadhan mengubah maknanya.”

Di hari-hari biasa, makan diukur oleh rasa lapar. Minum ditentukan oleh dahaga. Ukurannya sederhana: perut kosong atau tidak, makanan tersedia atau tidak. Manusia menjadi pusat keputusan.

Namun di bulan Ramadhan, ukurannya berubah. Bukan lagi perut, melainkan ketetapan Allah.

Al-Qur’an menegaskan: “Makan dan minumlah hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar…” (QS. Al-Baqarah: 187). Lalu berhenti. Hingga matahari terbenam. Waktu menjadi sakral. Jam bukan lagi milik tubuh, tetapi milik ketaatan.

“Apa bedanya hanya soal waktu?” tanya seorang murid.

“Justru di situlah keajaibannya,” jawab gurunya.

Perbedaannya bukan pada makanan. Nasi tetap nasi. Air tetap air. Tetapi orientasinya berubah. Di luar Ramadhan, manusia makan karena ingin. Di dalam Ramadhan, manusia makan karena diizinkan.

Sahur pun menjadi waktu yang berbeda. Rasulullah ﷺ bersabda, “Bersahurlah kalian, karena dalam sahur terdapat keberkahan” (HR. Bukhari dan Muslim). Keberkahan itu bukan sekadar energi untuk bertahan seharian. Ia adalah kedekatan. Sahur terjadi di ujung malam, ketika doa-doa naik tanpa riuh dunia. Suapan kecil menjadi ibadah, tegukan air menjadi saksi kepatuhan.

https://s.shopee.co.id/60M1zoHWHp

“Lalu berbuka?”

“Berbuka adalah saat paling dekat.”

Dalam hadis riwayat Tirmidzi disebutkan bahwa doa orang berpuasa saat berbuka tidak tertolak. Seharian menahan diri, lalu dalam satu momen sederhana—kurma dan air—hamba berdiri di ambang pengabulan doa. Lapar berubah menjadi pintu kedekatan.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin mengingatkan agar berbuka tidak berubah menjadi pelampiasan. Karena puasa bukan memindahkan kerakusan dari siang ke malam. Ia adalah latihan menata nafsu agar tunduk pada kehendak Allah.

BACA JUGA: Setelah Imsak, Bolehkan Makan atau Minum Lagi?

“Hanya mengubah waktu,” gumam murid itu.

“Ya,” jawab gurunya, “hanya mengubah waktu. Tetapi ketika Allah dijadikan rujukan dalam jam makan dan minum, seluruh cara hidup ikut berubah.”

Ramadhan mengajarkan bahwa kedekatan dengan Allah tidak selalu melalui hal besar. Kadang ia lahir dari keputusan sederhana: menahan ketika ingin, menikmati ketika diizinkan.

Di situlah rahasianya. Makan dan minum tetap sama. Tetapi hati yang melakukannya telah berbeda. Dan perbedaan itu luar biasa. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *