Apakah Kejayaan tanpa Iman Akan Bertahan?

4 Min Read
Foto: Freepik

SERING kali manusia terpesona oleh kekuatan yang tampak di depan mata.

Kekayaan yang melimpah.
Teknologi yang canggih.
Militer yang kuat.
Pengaruh politik yang menjangkau berbagai penjuru dunia.

Sebagian orang lalu bertanya—atau mungkin diam-diam merasa—bahwa bangsa yang memiliki semua itu pasti akan bertahan lama. Bahkan mungkin selamanya.

Namun sejarah manusia selalu mengajukan pertanyaan yang sama:

Benarkah kekuatan materi mampu menjaga sebuah peradaban dari kehancuran?

Al-Qur’an berulang kali mengajak manusia menengok ke belakang. Bukan sekadar untuk mengenang masa lalu, tetapi untuk membaca pola yang terus berulang dalam perjalanan manusia.

Ambil contoh kaum Nabi Syu’aib. Mereka dikenal sebagai masyarakat yang maju dalam perdagangan dan aktivitas ekonomi. Namun keserakahan dan kecurangan merusak fondasi moral mereka. Kisah ini diabadikan dalam Qur’an, khususnya dalam Surah Hud dan Surah Ash-Shu’ara. Ketika keadilan hilang dan kebenaran ditolak, kekuatan ekonomi mereka tidak mampu menyelamatkan mereka dari kehancuran.

Begitu pula kisah kaum Saba dalam Surah Saba. Mereka memiliki negeri yang makmur, sistem pertanian yang maju, dan bendungan besar yang mengairi wilayah mereka. Namun ketika mereka berpaling dari syukur kepada Allah, kemakmuran itu berubah menjadi keruntuhan.

Sejarah yang sama juga terlihat pada kaum ‘Ad dan Tsamud. Mereka dikenal sebagai bangsa yang memiliki kemampuan teknologi bangunan yang luar biasa pada masanya. Kaum ‘Ad disebut dalam Surah Al-Fajr sebagai bangsa yang membangun kota dengan pilar-pilar yang tinggi. Kaum Tsamud bahkan mampu memahat rumah-rumah di gunung, sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-A’raf.

Namun kemampuan teknologi mereka tidak membuat mereka abadi.

https://id.shp.ee/JLAL5EP

Kesombongan menghancurkan mereka.

Hal yang sama terlihat pada para penguasa yang tampak tak terkalahkan dalam sejarah. Nimrod dengan kekuasaan politiknya. Pharaoh dengan militernya yang kuat. Goliath (Jalut) dengan kekuatan perangnya.

Masing-masing pernah berada di puncak kekuasaan.

Namun masing-masing juga runtuh.

Sejarah seakan mengulang pesan yang sama: kekuatan materi saja tidak cukup untuk menopang sebuah peradaban.

Seorang sejarawan besar seperti Ibn Khaldun dalam karyanya Muqaddimah menjelaskan bahwa peradaban tumbuh karena kekuatan nilai, solidaritas sosial, dan keyakinan yang mengikat manusia. Ketika nilai itu melemah, peradaban perlahan mulai rapuh dari dalam.

Karena itu, pertanyaan yang lebih penting sebenarnya bukanlah: siapa yang paling kuat secara ekonomi, militer, atau teknologi.

Pertanyaan yang lebih mendasar adalah:

Nilai apa yang menopang kekuatan itu?

BACA JUGA: Ratu Balqis dan Nabi Sulaiman

Sebuah peradaban yang dibangun hanya di atas materialisme sering kali menghasilkan kemajuan lahiriah, tetapi meninggalkan kekosongan batin. Manusia mungkin menjadi lebih kaya, tetapi tidak selalu menjadi lebih adil. Teknologi mungkin semakin canggih, tetapi tidak selalu membuat manusia lebih bijaksana.

Di sinilah Islam memandang peradaban dari sudut yang berbeda.

Al-Qur’an dan Sunnah tidak hanya berbicara tentang ibadah ritual, tetapi juga tentang pembentukan manusia: kejujuran, keadilan, tanggung jawab, dan kesadaran bahwa kehidupan memiliki tujuan yang lebih tinggi daripada sekadar kekuasaan atau kekayaan.

Peradaban yang bertahan lama tidak hanya membutuhkan kekuatan materi. Ia membutuhkan manusia yang memiliki hati yang lurus.

Dan mungkin di situlah letak pelajaran terbesar dari sejarah manusia:

Banyak peradaban pernah mencapai puncaknya.
Tetapi hanya sedikit yang mampu bertahan ketika nilai-nilai yang menopangnya mulai runtuh. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

TAGGED:
Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *