HARI itu, kita kembali kepada fitrah. Namun dalam sunyi hati, sebuah pertanyaan mengalir pelan: bagaimana seharusnya merayakan kemenangan ini?
Al-Qur’an menghadirkan dua potret yang lembut namun dalam—kisah Nabi Yusuf dan Nabi Sulaiman.
—
Bayangkan Yusuf.
Dulu ia dibuang, dikhianati, dipenjara. Jalan hidupnya panjang dan penuh luka. Namun ketika takdir membawanya pada puncak kekuasaan, ketika keluarga yang dulu memisah kini bersujud hormat di hadapannya—apa yang keluar dari lisannya?
Bukan dendam.
Bukan kebanggaan.
Melainkan pengakuan yang hening:
“Sungguh, Tuhanku telah berbuat baik kepadaku…”
Ia tidak mengingat luka, tetapi rahmat.
Ia tidak menonjolkan dirinya, tetapi melihat tangan Allah yang bekerja di balik seluruh perjalanan.
Seolah Yusuf berbisik kepada kita di hari Fitri:
Kemenangan bukan tentang sampai di puncak, tetapi tentang mampu memaafkan ketika engkau telah sampai.

Lalu lihat Sulaiman.
Kerajaan tunduk padanya. Angin, jin, bahkan singgasana didatangkan dalam sekejap mata. Kekuasaan yang tak tertandingi—yang bisa saja membuat manusia lupa diri.
Namun ketika keajaiban itu terjadi di hadapannya, ia tidak terpukau oleh kekuatan. Ia justru berkata:
“Ini termasuk karunia Tuhanku, untuk mengujiku—apakah aku bersyukur atau kufur.”
Di puncak kejayaan, ia justru merasa sedang diuji.
Seolah Sulaiman mengingatkan kita:
Semakin besar nikmat, semakin halus ujian.
Maka Idul Fitri bukan sekadar kembali bersih.
Ia adalah momen meneladani cara para nabi menyikapi kemenangan.
Seperti Yusuf—kita belajar memaafkan, bahkan kepada yang pernah melukai.
Seperti Sulaiman—kita belajar bersyukur, tanpa terjebak dalam rasa memiliki.
Karena bisa jadi, setelah Ramadhan, kita merasa lebih baik, lebih kuat, lebih dekat.
Namun hati harus bertanya:
Apakah ini buah dari amal kita, atau murni karunia-Nya?
Dan di situlah kita berdiri—di antara syukur dan ujian.
BACA JUGA: Malam yang Diabadikan Menjadi Nama Surat di Al-Qur’an
Idul Fitri adalah titik pulang.
Namun bukan hanya pulang dari dosa—
melainkan pulang kepada kesadaran:
bahwa semua yang kita capai,
semua yang kita rasakan,
semua yang kita banggakan…
adalah milik-Nya.
Dan mungkin, kemenangan sejati bukanlah ketika kita merasa telah sampai—
tetapi ketika kita mampu berkata, seperti Yusuf dan Sulaiman:
“Ini semua dari Tuhanku.” []
Sumber: Sayid Qutb, Tafsir Fizilalil Qur’an, GIP, 2017 Quran Kemenag
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE


