TERNATE, 1570. Di balik rimbunnya pohon cengkih yang aromanya tercium hingga ribuan mil melintasi samudra, sebuah pengkhianatan besar sedang dirancang. Di sebuah benteng batu yang kokoh bernama Nossa Senhora da Rosario, Gubernur Portugis Lopez de Mesquita tersenyum licik. Ia baru saja mengundang Sultan Khairun, penguasa Ternate yang disegani, untuk sebuah jamuan perdamaian. Namun, alih-alih kesepakatan dagang, yang diterima sang Sultan adalah sebilah belati.
Pembunuhan ini bukan sekadar insiden kriminal; ini adalah pemicu ledakan geopolitik yang akan mengubah peta kekuatan di Nusantara Timur selamanya. Inilah investigasi atas perlawanan maritim paling terencana dalam sejarah awal modern Indonesia.
Retaknya Aliansi Rempah
Awalnya, kehadiran Portugis di Ternate pada 1512 disambut dengan tangan terbuka. Bagi Sultan Bayanullah, bangsa Eropa ini adalah mitra dagang sekaligus penyedia teknologi militer baru. Namun, jurnalis sejarah mencatat bahwa niat terselubung segera terkuak.
Melalui kebijakan Padroado, Portugis tidak hanya menginginkan monopoli ekonomi, tetapi juga kontrol spiritual dan politik.
Benteng Sao Paulo (Gamlamo) yang awalnya dibangun sebagai perlindungan, berubah fungsi menjadi penjara bagi kedaulatan lokal. Portugis mulai mencampuri suksesi takhta dan mendikte harga cengkih hingga titik yang mencekik para petani lokal.
Ketegangan ini mencapai puncaknya di masa Sultan Khairun. Ia bukan pemimpin yang mudah ditekan; dengan dukungan aliansi dari Aceh dan Demak, Khairun mulai membatasi ruang gerak Portugis. Mesquita, yang merasa terpojok, memilih jalan pintas yang fatal: pembunuhan politik.
BACA JUGA: Adipati Unus: Sepenuh Hidupnya untuk Jihad Maritim Melawan Portugis di Malaka
Strategi Atrisi — Pengepungan Sunyi Selama 1.800 Hari
Kematian Sultan Khairun tidak membuat Ternate bertekuk lutut. Sebaliknya, ia melahirkan seorang jenius militer bernama Sultan Baabullah. Di bawah sumpahnya, Baabullah tidak hanya membalas dendam, tetapi merancang sebuah operasi militer yang sangat modern pada masanya: Perang Atrisi.
Alih-alih menyerbu benteng Sao Paulo dengan serangan bunuh diri, Baabullah menerapkan blokade total. Selama lima tahun (1570–1575), Ternate melakukan hal berikut:
Isolasi Logistik: Memutus akses pasokan air bersih dan bahan pangan dari pulau-pulau sekitar.
Perang Psikologis: Baabullah membiarkan prajurit Portugis yang kelaparan untuk menyerah secara individu, sementara para perwiranya dipaksa menyaksikan moral pasukan mereka runtuh.
Superioritas Maritim: Memanfaatkan armada Kora-kora, kapal perang lincah dengan ratusan pendayung yang mampu bermanuver di celah-celah karang, tempat kapal Galleon Portugis yang besar dan berat tidak berdaya.
Geopolitik “72 Pulau”
Gelar Sultan Baabullah sebagai “Penguasa 72 Pulau” bukanlah sekadar hiperbola puitis. Ini adalah bukti keberhasilan intelijen dan diplomasi maritim. Investigasi terhadap catatan kolonial menunjukkan bahwa Baabullah berhasil menyatukan wilayah yang sangat luas—dari Mindanao di Filipina Selatan hingga Kepulauan Marshall di Pasifik, serta dari Sulawesi hingga Papua.
Strategi ini dikenal sebagai “Perang 72 Pulau”, di mana setiap wilayah memiliki peran spesifik:
1. Sulawesi Utara & Tengah: Menjadi lumbung logistik kayu dan prajurit tangguh.
2. Mindanao: Bertugas mengintersepsi jalur komunikasi Portugis yang mencoba meminta bantuan dari Manila.
3. Hitu & Ambon: Menjadi medan gerilya untuk mengalihkan konsentrasi armada Portugis di Maluku Tengah.
Baabullah membangun jaringan intelijen yang melibatkan pedagang Jawa dan Arab untuk memantau pergerakan armada Portugis di Goa, India. Dengan kata lain, Portugis di Ternate sedang dikepung oleh sebuah kekaisaran maritim yang memiliki mata di seluruh penjuru Nusantara.
Kemenangan Tanpa Darah
15 Juli 1575 menjadi hari paling memalukan bagi Kerajaan Portugal di Timur. Benteng Sao Paulo akhirnya menyerah. Menariknya, dalam sebuah langkah yang menunjukkan kematangan diplomasi dan nilai kemanusiaan Islam, Sultan Baabullah tidak melakukan pembantaian.
Ia memegang janjinya: memberikan waktu 24 jam bagi sisa-sisa pasukan Portugis untuk berkemas dan pergi dengan damai menuju Ambon. Tindakan ini secara efektif mengakhiri dominasi Portugis di Maluku Utara dan mengangkat Ternate ke puncak kejayaannya sebagai pusat perdagangan dan penyebaran Islam di wilayah Timur.
Warisan dan Efek Domino
Kejatuhan Portugis di Ternate adalah pesan kuat bagi bangsa Eropa lainnya. Keberhasilan ini membuktikan bahwa teknologi senjata api Barat bisa dikalahkan oleh strategi logistik yang matang dan persatuan lintas etnis. Namun, kemenangan ini juga membawa tantangan baru.
Kekosongan kekuasaan Portugis nantinya dimanfaatkan oleh Spanyol dan kemudian Belanda (VOC). Namun, pola perlawanan yang diletakkan oleh Baabullah menjadi blueprint bagi pemimpin masa depan seperti Sultan Nuku dari Tidore, yang di kemudian hari akan menggunakan taktik serupa untuk melawan Belanda.

Durasi Konflik Utama
5 Tahun Pengepungan (1570-1575)
Inovasi Kapal
Kora-kora dengan cadik ganda untuk stabilitas dan kecepatan
Jangkauan Koalisi
Filipina Selatan hingga Nusa Tenggara
Dampak Sosial
Islamisasi masif di wilayah timur Nusantara
BACA JUGA: Ketika Samudra di Nusantara Menjadi Medan Perjuangan Melawan Portugis
Analisis Penutup: Mengapa Ternate Berhasil?
Mengapa Ternate berhasil mengusir Portugis sementara wilayah lain jatuh? Investigasi ini menyimpulkan tiga faktor utama:
1. Kedaulatan Ekonomi: Ternate memegang kontrol penuh atas sumber rempah (hulu), sehingga mereka bisa menggunakan ekonomi sebagai senjata.
2. Kepemimpinan Karismatik: Baabullah mampu mengubah duka pribadi menjadi energi kolektif rakyatnya.
3. Adaptasi Teknologi: Ternate tidak antipati terhadap teknologi Barat; mereka justru mempelajari cara kerja meriam dan benteng lawan untuk mencari titik lemahnya.
Kisah perlawanan ini adalah pengingat bahwa di balik indahnya pemandangan Gunung Gamalama, tersimpan sejarah tentang sebuah bangsa maritim yang pernah membuat adidaya Eropa bertekuk lutut melalui kecerdasan strategi, bukan sekadar keberanian buta. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

