Palestina dalam Jejak Al-Qur’an: Dari Hijrah Ibrahim hingga Runtuhnya Baitul Maqdis

Nasrulloh Baksolahar
10 Min Read
Foto: Islampos

INVESTIGASI SEJARAH — Jauh sebelum Palestina menjadi pusat konflik modern, Al-Qur’an telah merekam wilayah ini sebagai panggung besar perjalanan para nabi, jatuh bangunnya peradaban, hingga tragedi kehancuran moral suatu bangsa. Di tanah inilah jejak hijrah, kerajaan, pengkhianatan, dakwah, hingga penghancuran kota suci berlangsung selama ribuan tahun.

Jika disusun berdasarkan urutan waktu, kisah Palestina dalam Al-Qur’an membentuk sebuah alur sejarah yang utuh: dari lahirnya pusat tauhid, kejayaan Baitul Maqdis, hingga datangnya hukuman sejarah akibat kerusakan manusia.

Sekitar 1900 SM — Hijrah Nabi Ibrahim AS ke Negeri yang Diberkahi

Jejak awal Palestina dalam Al-Qur’an dimulai dari perjalanan panjang Nabi Ibrahim AS meninggalkan Mesopotamia. Di tengah tekanan Raja Namrud dan penolakan kaumnya terhadap tauhid, Ibrahim tidak sekadar berpindah tempat. Ia memindahkan pusat perjuangan.

Al-Qur’an menyebut bahwa Allah menyelamatkan Ibrahim dan Nabi Luth AS menuju negeri yang diberkahi untuk seluruh alam—wilayah yang oleh banyak mufasir dikaitkan dengan Syam dan Palestina.

> “Dan Kami selamatkan Ibrahim dan Luth ke sebuah negeri yang Kami berkahi untuk seluruh alam.”
(QS. Al-Anbiya’: 71)

Di tanah inilah benih sejarah para nabi mulai tumbuh.

—

Sekitar 1800 SM — Lahirnya Nabi Ishaq AS di Palestina

Di usia senja Nabi Ibrahim AS, datang kabar besar tentang kelahiran Ishaq AS. Peristiwa ini bukan hanya kabar keluarga, melainkan awal dari garis panjang kenabian Bani Israil.

> “Maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishaq…”
(QS. Hud: 71)

Dari Ishaq lahir Ya‘qub AS, yang kemudian dikenal dengan nama Israil.

BACA JUGA: Saat Heraklius Meninggalkan Palestina

Sekitar 1750 SM — Yusuf AS Dibuang ke Sumur

Generasi berikutnya membawa Palestina memasuki kisah keluarga paling dramatis dalam Al-Qur’an.

Kecemburuan saudara-saudara Yusuf AS berubah menjadi konspirasi. Yusuf dibuang ke dasar sumur di wilayah yang oleh sebagian riwayat dikaitkan dengan jalur perdagangan Palestina menuju Mesir.

> “Masukkanlah dia ke dasar sumur agar dia dipungut oleh sebagian musafir…”
(QS. Yusuf: 10)

Dari sumur itu, sejarah bergerak menuju Mesir. Namun akar keluarga Ya‘qub tetap terhubung dengan Palestina.

—

Sekitar 1300 SM — Nabi Musa AS dan Perintah Memasuki Tanah Suci

Berabad-abad setelah Yusuf AS, Bani Israil hidup di bawah penindasan Fir‘aun di Mesir. Nabi Musa AS memimpin eksodus besar menuju tanah yang dijanjikan.

Namun ketika berada di perbatasan Palestina, generasi Bani Israil justru menolak memasuki negeri tersebut karena takut menghadapi kaum yang kuat.

> “Wahai kaumku, masuklah ke tanah suci yang telah ditetapkan Allah bagimu…”
(QS. Al-Ma’idah: 21)

Penolakan itu menjadi titik balik. Mereka dihukum tersesat di padang pasir selama empat puluh tahun. Nabi Musa AS wafat sebelum memasuki Palestina.

—

Sekitar 1250 SM — Yusha‘ bin Nun Memimpin Penaklukan Palestina

Setelah wafatnya Musa AS, tongkat kepemimpinan berpindah kepada Yusha‘ bin Nun AS.

Di bawah kepemimpinannya, generasi baru Bani Israil berhasil memasuki Palestina dan menaklukkan berbagai wilayah penting.

Sebagian mufasir mengaitkan Yusha‘ dengan dua lelaki saleh yang disebut dalam Al-Qur’an:

> “Serbulah mereka melalui pintu gerbang itu. Jika kamu memasukinya, niscaya kamu akan menang.”
(QS. Al-Ma’idah: 23)

Era pengembaraan berakhir. Era kekuasaan dimulai.

https://s.shopee.co.id/5Alw6QL5Rl

Sekitar 1050–1000 SM — Samuel, Thalut, dan Munculnya Daud AS

Palestina memasuki masa penuh konflik internal. Bani Israil meminta seorang raja untuk menyatukan kekuatan mereka menghadapi Jalut.

Nabi Samuel AS kemudian mengangkat Thalut sebagai pemimpin.

Di tengah perang besar itu muncul seorang pemuda bernama Daud AS. Al-Qur’an mengabadikan momen ketika Daud membunuh Jalut—peristiwa yang mengubah sejarah Palestina.

> “Dan Daud membunuh Jalut, kemudian Allah memberinya kerajaan dan hikmah…”
(QS. Al-Baqarah: 251)

Dari sinilah lahir fondasi kerajaan besar di Yerusalem.

—

Sekitar 970–930 SM — Masa Keemasan Nabi Sulaiman AS

Di tangan Nabi Sulaiman AS, Palestina mencapai salah satu puncak kejayaannya.

Al-Qur’an menggambarkan kerajaan Sulaiman bukan hanya kuat secara militer, tetapi juga unggul dalam teknologi, diplomasi, dan pengelolaan sumber daya.

> “Dan Kami tundukkan bagi Sulaiman angin yang sangat kencang tiupannya…”
(QS. Al-Anbiya’: 81)

Tradisi Islam menghubungkan masa ini dengan pembangunan dan pemuliaan Baitul Maqdis. Yerusalem berkembang menjadi pusat spiritual dan politik terbesar di kawasan itu.

Namun kejayaan tidak berlangsung selamanya.

—

Sekitar 870–800 SM — Nabi Ilyas AS dan Ilyasa‘ AS Melawan Penyembahan Berhala

Pasca-Sulaiman, kerajaan terpecah. Penyembahan berhala mulai kembali menguasai masyarakat.

Nabi Ilyas AS muncul menghadapi kultus Ba‘al yang menyebar di Palestina dan Syam.

> “Mengapa kamu tidak bertakwa? Mengapa kamu menyembah Ba‘al?”
(QS. As-Saffat: 124–125)

Setelahnya, dakwah dilanjutkan oleh Nabi Ilyasa‘ AS.

Periode ini menunjukkan bahwa keruntuhan suatu bangsa dalam Al-Qur’an selalu diawali oleh kerusakan moral dan spiritual.

—

Tahun 586 SM — Kerusakan Pertama dan Hancurnya Baitul Maqdis oleh Babilonia

Inilah salah satu tragedi terbesar dalam sejarah Palestina.

Al-Qur’an dalam Surah Al-Isra’ menyebut bahwa Bani Israil akan melakukan dua kali kerusakan besar di bumi.

> “Kamu pasti akan berbuat kerusakan di bumi dua kali…”
(QS. Al-Isra’: 4)

Mayoritas mufasir klasik mengaitkan kerusakan pertama dengan serangan Nebukadnezar II dari Babilonia pada tahun 586 SM.

Yerusalem dihancurkan. Baitul Maqdis dibakar. Penduduknya dibawa sebagai tawanan ke Babilonia.

> “Maka apabila datang saat hukuman bagi kejahatan yang pertama…”
(QS. Al-Isra’: 5)

Palestina berubah menjadi kota reruntuhan.

—

Sekitar 538 SM — Kembalinya Bani Israil dari Pengasingan

Setelah puluhan tahun di Babilonia, Bani Israil diizinkan kembali oleh Persia.

Mereka membangun ulang kehidupan dan tempat ibadah mereka di Yerusalem.

Al-Qur’an mengisyaratkan fase pemulihan ini:

> “Kemudian Kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka kembali…”
(QS. Al-Isra’: 6)

Namun sejarah belum selesai.

—

Sekitar Abad 1 SM — Zakariya AS, Maryam, dan Keluarga Imran

Menjelang era Romawi, Palestina kembali menjadi pusat spiritualitas.

Di dalam mihrab Baitul Maqdis, Maryam diasuh oleh Nabi Zakariya AS.

> “Setiap kali Zakaria masuk menemui Maryam di mihrab…”
(QS. Ali ‘Imran: 37)

Dari keluarga inilah lahir salah satu mukjizat terbesar dalam sejarah manusia.

—

Sekitar 1–33 M — Nabi Yahya AS dan Nabi Isa AS di Bawah Tekanan Romawi

Palestina saat itu berada di bawah bayang-bayang kekaisaran Romawi.

Nabi Yahya AS menyerukan pertobatan dan kesucian moral. Setelah itu lahirlah Nabi Isa AS di Betlehem tanpa ayah.

Al-Qur’an merekam ucapan Nabi Isa sejak bayi:

> “Sesungguhnya aku hamba Allah. Dia memberiku Kitab dan menjadikanku seorang nabi.”
(QS. Maryam: 30)

Dakwah Isa AS mengguncang elite keagamaan dan kekuasaan saat itu.

—

Tahun 70 M — Kerusakan Kedua dan Penghancuran Yerusalem oleh Romawi

Kerusakan kedua yang disebut dalam Surah Al-Isra’ oleh mayoritas ulama dikaitkan dengan invasi Romawi tahun 70 M.

Jenderal Titus mengepung Yerusalem, menghancurkan kota, dan membakar Baitul Maqdis untuk kedua kalinya.

> “Dan apabila datang saat hukuman bagi kejahatan yang kedua…”
(QS. Al-Isra’: 7)

Peristiwa ini memicu diaspora besar Bani Israil ke berbagai penjuru dunia selama berabad-abad.

—

Tahun 621 M — Isra’ Mi‘raj dan Pengukuhan Masjidil Aqsa

Enam abad setelah Nabi Isa AS, Palestina kembali disebut dalam salah satu mukjizat terbesar Islam.

Nabi Muhammad ﷺ diperjalankan dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa sebelum naik ke Sidratul Muntaha.

> “Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa…”
(QS. Al-Isra’: 1)

Peristiwa ini menghubungkan seluruh mata rantai kenabian: dari Ibrahim, Musa, Daud, Isa, hingga Muhammad ﷺ.

BACA JUGA: Cacat Fisik, Jadi Pelopor Pembebasan Palestina

Palestina dalam Al-Qur’an: Tanah Para Nabi, Panggung Peradaban, dan Cermin Sejarah

Jika ditelusuri secara kronologis, Palestina dalam Al-Qur’an bukan hanya lokasi konflik, tetapi pusat sejarah manusia.

Di tanah ini:

  • Ibrahim membangun pondasi tauhid,
  • Musa memimpin pembebasan,
  • Daud mendirikan kekuasaan,
  • Sulaiman membangun peradaban,
  • Zakariya menjaga mihrab,
  • Isa menyerukan kasih sayang,
  • dan Muhammad ﷺ menghubungkan seluruh warisan kenabian.

Namun Al-Qur’an juga menunjukkan pola yang berulang: ketika kekuasaan dipenuhi kesombongan, pengkhianatan, dan kerusakan moral, maka kehancuran sejarah pun datang silih berganti.

Palestina akhirnya bukan hanya kisah tentang sebuah negeri, melainkan cermin tentang bagaimana manusia memperlakukan wahyu, kekuasaan, dan amanah Tuhan sepanjang zaman. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *