PERMUSUHAN antara manusia dan setan adalah permusuhan yang sangat tua, bahkan dimulai sejak awal penciptaan manusia. Menariknya, bukan manusia yang memulai permusuhan tersebut, melainkan Iblis sendiri yang secara terbuka mendeklarasikannya di hadapan Allah setelah menolak perintah untuk bersujud kepada Adam.
Allah mengabadikan sumpah Iblis dalam firman-Nya:
«”Ia (Iblis) menjawab, ‘Karena Engkau telah menyesatkan aku, pasti aku akan selalu menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus.'” (QS. Al-A’raf: 16)»
Ayat ini menjelaskan bahwa sasaran utama permusuhan Iblis bukanlah kehidupan dunia manusia semata, melainkan hubungan manusia dengan Allah. Iblis bertekad menghalangi manusia dari jalan kebenaran, jalan yang mengantarkan kepada keridaan Allah dan kebahagiaan dunia serta akhirat.
Strategi Setan: Menyerang dari Segala Arah
Iblis tidak hanya berjanji menghalangi manusia dari jalan yang lurus, tetapi juga menyusun strategi yang sistematis.
Allah berfirman:
«”Kemudian pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan, dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” (QS. Al-A’raf: 17)»
BACA JUGA: Ketika Allah Membiarkan di Titik Nadir
Tafsir menjelaskan bahwa setan akan memanfaatkan setiap celah kelemahan manusia. Ia mendatangi manusia dari berbagai arah kehidupan: melalui harapan, ketakutan, syahwat, ambisi, kesombongan, cinta dunia, maupun kelalaian terhadap akhirat.
Tujuannya adalah melemahkan iman sedikit demi sedikit hingga manusia mulai meragukan kebenaran, meninggalkan amal saleh, mengikuti hawa nafsu, dan akhirnya menjauh dari Allah.
Strategi ini terbukti berhasil terhadap banyak manusia. Allah berfirman:
«”Dan sungguh, Iblis telah membuktikan kebenaran sangkaannya terhadap mereka, lalu mereka mengikutinya, kecuali sebagian dari orang-orang mukmin.” (QS. Saba’: 20)»
Karena itu, memahami cara kerja musuh merupakan bagian penting dari perjuangan seorang mukmin.

Apakah Manusia Pernah Berbuat Salah kepada Setan?
Jika direnungkan, manusia sebenarnya tidak pernah melakukan kezaliman kepada setan.
Manusia tidak pernah merampas haknya, tidak pernah menyakitinya, dan tidak pernah memusuhinya terlebih dahulu.
Lalu mengapa setan begitu gigih menyesatkan manusia?
Jawabannya adalah kedengkian.
Iblis tidak rela melihat kedudukan yang Allah berikan kepada Adam dan keturunannya. Kesombongan dan kedengkiannya membuat ia bertekad menyeret manusia ke dalam kesesatan agar mereka kehilangan kemuliaan yang telah Allah anugerahkan.
Dengan demikian, akar permusuhan setan bukanlah kesalahan manusia, melainkan kedengkian terhadap karunia Allah yang diberikan kepada manusia.
Batas Kekuasaan Setan
Meskipun ancaman setan sangat nyata, Al-Qur’an menegaskan bahwa kekuasaannya memiliki batas yang sangat jelas.
Allah berfirman:
«”Sesungguhnya kamu (Iblis) tidak mempunyai kekuasaan atas hamba-hamba-Ku, kecuali mereka yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang sesat.” (QS. Al-Hijr: 42)»
Ayat ini merupakan bantahan terhadap anggapan bahwa setan memiliki kekuatan mutlak atas manusia.
Setan tidak dapat memaksa seseorang untuk berbuat dosa. Ia tidak dapat mengendalikan manusia yang beriman dan ikhlas. Yang dapat ia lakukan hanyalah membisikkan, menghias keburukan, dan mengajak manusia mengikuti jalannya.
Hal ini kelak akan diakui sendiri oleh setan pada Hari Kiamat:
«”Tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan aku hanya menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku.” (QS. Ibrahim: 22)»
Karena itu, Al-Qur’an menegaskan:
«”Sungguh, setan itu tidak akan berpengaruh terhadap orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Tuhan mereka.” (QS. An-Nahl: 99)»
Kekuasaannya hanya berlaku atas orang-orang yang menjadikannya pemimpin, mengikuti bisikannya, dan lebih memilih hawa nafsu daripada petunjuk Allah.
Bagaimana Setan Menyesatkan Manusia?
Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah menganggap bahwa setan selalu mengajak manusia kepada dosa besar secara langsung.
Padahal, biasanya setan bekerja melalui langkah-langkah kecil.
Ia membisikkan penundaan amal saleh.
Ia menghias maksiat agar tampak ringan.
Ia menumbuhkan rasa aman terhadap dosa.
Ia membuat seseorang meremehkan kesalahan kecil hingga akhirnya terjatuh pada kesalahan yang lebih besar.
Karena itu, seorang mukmin tidak hanya harus waspada terhadap dosa besar, tetapi juga terhadap kelalaian-kelalaian kecil yang menjadi pintu masuk setan.

Benteng Terkuat Menghadapi Setan
Dari seluruh ayat yang telah disebutkan, dapat disimpulkan bahwa benteng utama menghadapi setan adalah hubungan yang kuat dengan Allah.
Orang yang beriman, bertawakal, ikhlas, dan senantiasa mengingat Allah akan mendapatkan perlindungan-Nya.
Bukan karena setan berhenti menggoda mereka, tetapi karena hati mereka telah dipenuhi cahaya iman sehingga bisikan setan tidak menemukan tempat untuk bersemayam.
Sebaliknya, ketika hati dipenuhi syahwat, kesombongan, cinta dunia, dan kelalaian, maka setan akan lebih mudah mempengaruhinya.
BACA JUGA: Ke Mana Semua Pencapaian itu akan Diarahkan?
Refleksi
Jika seseorang tidak memahami hakikat musuhnya, ia akan cenderung membesar-besarkan kekuatan setan dan hidup dalam ketakutan yang berlebihan.

Padahal Al-Qur’an justru mengajarkan bahwa setan adalah musuh yang lemah bagi orang-orang yang dekat dengan Allah.
Yang berbahaya bukanlah kekuatan setan, melainkan kelalaian manusia.
Setan hanya mengajak.
Setan hanya membisikkan.
Setan hanya menghias keburukan.
Adapun keputusan untuk mengikuti atau menolak ajakan tersebut tetap berada di tangan manusia.
Karena itu, kemenangan atas setan tidak ditentukan oleh seberapa banyak kita mengetahui tipu dayanya, tetapi oleh seberapa kuat hubungan kita dengan Allah. Semakin kuat iman, tawakal, dan keikhlasan seseorang, semakin kecil pengaruh setan terhadap dirinya.
Setan adalah musuh yang nyata, tetapi ia bukan musuh yang tak terkalahkan. Allah telah menjamin bahwa hamba-hamba-Nya yang beriman dan bersandar kepada-Nya tidak akan berada di bawah kekuasaan setan. []
Sumber:
Sayyid M Nuh, Penyebab Gagalnya Dakwah, GIP, 1998
Qur’an Kemenag
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE


