SUATU ketika, pasukan Muslim yang dipimpin Abu Ubaidah bin al-Jarrah berada dalam kepungan musuh. Situasinya sangat berat. Di saat seperti itulah Khalifah Umar bin Khattab mengirimkan sepucuk surat yang berisi penguatan iman.
Beliau menulis,
«”Kapan pun kesulitan menimpa seseorang, Allah senantiasa memberinya jalan keluar. Satu kesulitan tidak akan mengalahkan dua kemudahan.”»
Mengapa Umar begitu yakin?
Keyakinan itu bukan lahir dari optimisme kosong, melainkan dari janji Allah dalam Surah Asy-Syarḥ.
«”Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Asy-Syarḥ: 5–6)»
Lalu muncul sebuah pertanyaan.
Benarkah satu kesulitan tidak akan mampu mengalahkan dua kemudahan?
Para ulama menjelaskan bahwa pada kedua ayat tersebut, kata al-‘usr (kesulitan) menggunakan bentuk ma’rifah (dengan alif lam), sehingga menunjukkan kesulitan yang sama. Sementara kata yusran (kemudahan) berbentuk nakirah dan disebut dua kali. Karena itu lahirlah kaidah yang sangat terkenal:
«Satu kesulitan tidak akan mengalahkan dua kemudahan.»

Artinya, Allah tidak mengatakan bahwa hidup tanpa kesulitan. Justru kesulitan itu pasti ada. Namun, Allah juga memastikan bahwa bersama kesulitan itu telah tersedia lebih dari satu jalan kemudahan.
Kemudahan itu bisa berupa jalan keluar yang nyata. Bisa pula berupa ketenangan hati, kekuatan untuk bertahan, pertolongan yang tidak disangka-sangka, atau hikmah yang baru terlihat setelah ujian berlalu.
Namun, apakah kemudahan itu datang begitu saja?
Penutup Surah Āli ‘Imrān memberikan jawabannya.
«”Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu, kuatkanlah kesabaranmu, tetaplah bersiap siaga, dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.” (QS. Āli ‘Imrān: 200)»
BACA JUGA: Mengapa Al-Qur’an Dipenuhi Kisah dan Perumpamaan?
Ayat ini seakan menjelaskan bagaimana seseorang menyambut janji dalam Surah Asy-Syarḥ.
Pertama, bersabarlah menghadapi ujian.
Kedua, kuatkan kesabaran, jangan sampai musuh lebih tangguh daripada kita.
Ketiga, tetap bersiap siaga (rābiṭū), tidak menyerah dan tidak lengah. Kesabaran bukan berarti pasif, tetapi terus berikhtiar.
Keempat, bertakwalah kepada Allah, karena takwa adalah fondasi seluruh perjuangan.
Dengan empat bekal itulah seorang mukmin berjalan menuju kemudahan yang telah Allah janjikan.
Kisah Nabi Musa juga memperlihatkan pola yang sama.
Saat masih bayi, beliau dihanyutkan ke Sungai Nil. Sekilas itu tampak sebagai bencana. Namun justru dari situlah Allah menyelamatkannya dan mengembalikannya ke pelukan ibunya.
Ketika tanpa sengaja membunuh seorang Mesir, Musa harus meninggalkan negerinya sebagai buronan. Peristiwa itu tampak sebagai akhir segalanya. Namun di Madyan beliau memperoleh perlindungan, pekerjaan, keluarga, dan akhirnya dipersiapkan menjadi seorang rasul.
Allah sendiri mengingatkan Nabi Musa:
«”…Kami menyelamatkanmu dari kesulitan dan Kami telah mengujimu dengan berbagai cobaan…” (QS. Ṭāhā: 40)»
Ternyata, setiap kesulitan dalam kehidupan Musa bukanlah jalan buntu, melainkan tahap pendidikan menuju amanah yang lebih besar.
Bukankah pola ini juga berulang dalam kehidupan Rasulullah ﷺ?
Di Makkah beliau dihina, diusir, diboikot, bahkan hendak dibunuh. Namun dari seluruh kesulitan itu lahirlah Madinah, persaudaraan kaum Muhajirin dan Anshar, kemenangan demi kemenangan, hingga Islam menyebar ke berbagai penjuru dunia.

Kesulitan ternyata bukan lawan dari pertolongan Allah. Justru sering kali ia menjadi pintu masuk menuju pertolongan-Nya.
Karena itu, ketika menghadapi ujian, seorang mukmin tidak hanya bertanya,
“Mengapa ini terjadi kepadaku?”
Tetapi juga bertanya,
“Kemudahan apa yang sedang Allah siapkan di balik kesulitan ini?”
Pertanyaan kedua akan melahirkan harapan, kesabaran, dan semangat untuk terus berikhtiar.
BACA JUGA: Bila Sesuatu Pergi dan Hilang?
Inilah rahasia kalimat Umar bin Khattab kepada Abu Ubaidah.
Beliau tidak mengatakan bahwa kesulitan itu kecil.
Beliau juga tidak mengatakan bahwa perjuangan akan mudah.
Beliau hanya mengingatkan satu janji Allah yang tidak pernah berubah:
Satu kesulitan tidak akan mampu mengalahkan dua kemudahan.
Selama seorang mukmin tetap bersabar, memperkuat keteguhan, terus berikhtiar, dan menjaga ketakwaannya, maka ia sedang berjalan menuju kemudahan-kemudahan yang telah Allah persiapkan sejak awal ujian itu datang. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE


